Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Hidup Sebuah Pertanyaan: Refleksi 50 Tahun STFK Ledalero
Gagasan

Hidup Sebuah Pertanyaan: Refleksi 50 Tahun STFK Ledalero

By Redaksi9 September 20195 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Toni Mbukut
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Toni Mbukut

Mahasiswa Pascasarjana STFK Ledalero

Judul tulisan ini diambil dari judul buku kenangan 50 tahun STFK Ledalero yang diedit oleh Dr. Mathias Daven dan Dr. Georg Kirchberger.

Penulis ingin membagi kisah pergumulan penulis sendiri dengan ilmu filsafat selama belajar filsafat di STFK Ledalero.

Pada waktu pembukaan semester 1 studi filsafat di STFK Ledalero, penulis masih ingat, dosen logika waktu itu menyuguhkan sebuah cerita yang sangat mengesankan untuk kami.

Dosen itu menceritakan kisah tentang seekor ikan kecil yang hidup di sebuah sungai. Suatu ketika ikan kecil itu bertanya kepada induknya “Ibu, air itu apa dan di mana letaknya?” Ibu ikan kecil itu tidak sanggup menjawab pertanyaannya.

Si ibu kemudian membawa ikan kecil tersebut kepada seekor ikan yang sudah sesepuh. Ibu itu berpikir bahwa mungkin sesepuh ikan mampu menjawab pertanyaan ikan kecil itu. Sesampainya di tempat sesepuh ikan, ikan kecil itu bertanya lagi “Apa itu air dan di mana letaknya?” dengan bijak sesepuh ikan itu menjawab; “air itu adalah sesuatu yang membuat engkau hidup dan letaknya ada di sekitarmu.”

Cerita tentang ikan kecil di atas memang berhenti sampai pada jawaban bijak sang sesepuh ikan. Namun penulis membayangkan bahwa masih ada 1001 macam pertanyaan yang muncul di dalam benak si ikan kecil setelah mendengar jawaban sesepuh ikan itu, seperti “Dari mana asal air? Apakah ia memiliki ibu? Bagaimana ia membuat kita hidup? Mengapa saya tidak melihatnya? Dll.”

Pertanyaan-pertanyaan ikan kecil itu membuat ia berpikir dan berusaha mencari jawaban. Semakin ia menemukan jawaban, semakin banyak pertanyaan yang timbul dalam benaknya.

Pertanyaan adalah kunci utama dalam berfilsafat. Pada zaman kuno, para filsuf coba bertanya tentang prinsip utama dari alam semesta.

Menurut Thales, yang paling utama adalah air karena segala sesuatu berasal dari air dan semuanya kembali lagi menjadi air.

Bagi Anaximandros prinsip yang paling akhir adalah “Yang tak terbatas” yang tak dapat diamati oleh pancaindera. Beberapa waktu kemudian muncul filsuf lain bernama Herakleitos. Menurutnya prinsip alam semesta adalah perubahan. Ia membayangkan kenyataan ini seperti arus sungai yang mengalir.

Kita tidak dapat menginjak dua kali ke dalam sungai yang sama. Kalimat masyhur dari Herakleitos; “panta rhei kai uden menei” atau “Semuanya mengalir dan tidak ada satupun yang tinggal mantap”.

Metode bertanya kemudian dirumuskan secara lebih tegas oleh Socrates. Menurut Socrates, untuk menggali pengetahuan, orang mesti bertanya. Socrates sendiri menamakan metodenya sebagai maieutiké tekhné (seni kebidanan).

Sebagaimana seorang bidan membatu orang untuk bersalin, demikian pula dengan pertanyaan-pertanyaan membatu melahirkan pengetahuan yang terdapat dalam jiwa orang lain.

Setelah Socrates, pertanyaan-pertanyaan para filsuf semakin kompleks dan jawaban-jawaban yang mereka berikan juga semakin kompleks. Kompleksitas pertanyaan dan jawaban para fisluf itu melahirkan maszhab-mazhab berpikir. Ada yang coba memberi penekanan pada rasio, seperti Plato dan ada yang coba memberi penekanan pada realitas, seperti Aristoteles.

Kompleksitas pertanyaan dan jawaban itu terus bergulir dari masa ke masa. Semakin orang bergumul dengan pertanyaan dan jawaban, semakin pengetahuan manusia itu berkembang maju.

Namun perjalanan penulis sendiri dari semester ke semester bukannya semakin tercerahkan tetapi semakin berada dalam kebingungan.

Penulis seperti berada dalam pusaran puting beliung pertanyaan, tanpa ada jawaban yang dapat meredahkannya.

Langkah awal di semester 1 sepertinya langkah pertama memasuki dunia pertanyaan tanpa jawaban yang pasti.

Kebingungan, pertanyaan dan jawaban dalam dunia filsafat ternyata adalah satu kesatuan. Ia seumpama lingkaran spiral yang tidak berbatas. Ketika orang bingung, ia bertanya. Setelah bertanya ia menemukan jawaban. Setelah menemukan jawaban ia menjadi bingung lagi dan kemudian bertanya lagi. Prosesnya begitu terus tanpa berhenti.

Setelah terus bergumul dengan kebingungan, pertanyaan dan jawaban dalam dunia filsafat, akhirnya penulis menemukan diri seumpama setetes air di tengah samudera pengetahuan.

Semakin bergumul dengan kebingungan, pertanyaan dan jawaban, penulis semakin menyadari kekerdilan pengetahuan penulis sendiri. Maka benarlah kata Socrates, proses belajar sebenarnya proses menjadi tidak tahu. “Semakin saya belajar, semakin saya sadar dan tahu bahwa saya tidak tahu”.

Mengenal Diri

Jika berfilsafat hanya untuk menjadi tidak tahu, sebenarnya untuk apa saya berfilsafat? Bagi penulis berfilsafat adalah sebuah proses pengenalan diri. Semakin saya berfilsafat, semakin saya mengenali diri sendiri.

Pisau utama dalam berfilsafat adalah refleksi. Refleksi berarti melihat kembali segala peristiwa yang telah berlalu. Dalam refleksi, kita memunculkan berbagai pertanyaan dan mencari jawaban. Semakin dalam kita bertanya, semakin dalam kita memahami segala peristiwa yang telah berlalu dan pada akhirnya semakin dalam kita memahami diri kita sendiri.

Orang yang tidak berefleksi tidak akan sanggup memahami dirinya sendiri dan realitas lain di luar dirinya. Karena itu “hidup yang tidak direfleksikan sebenarnya adalah hidup yang tidak pantas untuk dihidupi,” kata Socrates.

Mengutip kata Dr. Otto Gusti Madung, bagi penulis STFK Ledalero adalah sebuah rumah intelektual dan pondok spiritual. Di STFK Ledalero, penulis bergumul dengan kebingungan, pertanyaan dan jawaban yang membuat penulis sendiri semakin kritis dan reflektif berhadapan dengan berbagai peristiwa yang penulis jumpai dalam hidup.

Bagi penulis, STFK Ledalero bukanlah lembaga yang menyiapkan tenaga-tenaga teknis yang handal untuk terjun ke masyarakat, tetapi ia menyiapkan insan-insan yang kritis, reflektif dan fleksibel dengan situasi dan kondisi apa saja di tengah masyarakat.

Bagi penulis, STFK Ledalero tidak menyiapkan manusia-manusia robot yang sudah diformat sedemikian rupa sehingga hanya sanggup mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan apa yang telah diformatkan.

Buktinya, alumni STFK Ledalero sanggup terjun di berbagai bidang pekerjaan, tanpa sekat dan batasan tertentu. Terima kasih STFK Ledalero dan selamat merayakan ulang tahun yang ke-50.

Tony Mbukut
Previous ArticleSoal Mawar Salem Jadi Putri Pariwisata Indonesia, Begini Penjelasan Juri
Next Article Jangan Biarkan “Mawar” Layu Sebelum Mahkotanya Mekar

Related Posts

Memegang Janji Allah: Diberi Kuasa dan Diutus  untuk Berkorban Merawat Hidup

14 Juni 2026

Manusia dalam Babel Digital

13 Juni 2026

Sensus Ekonomi 2026: Mengapa Kita di NTT Tidak Boleh Asal Memberi Jawaban?

13 Juni 2026
Terkini

Palma Hill Gelar Pelatihan Public Speaking untuk Anak di Kupang

15 Juni 2026

Andy Liwun Minta Warga Tanjung Bunga Bersabar, Pekerjaan Jalan Latonliwo–Patisirawalang Tunggu Rekomendasi Tipikor

14 Juni 2026

Mahasiswa Unika Ruteng Latih Siswa SDK Lungar dan SMPN 10 Satarmese Tarian Sae Tiba Meka

14 Juni 2026

Memegang Janji Allah: Diberi Kuasa dan Diutus  untuk Berkorban Merawat Hidup

14 Juni 2026

Manusia dalam Babel Digital

13 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.