Mawarni Salem, Putri Pariwisata Indonesia 2019 asal NTT. (Foto: Facebook)
alterntif text

Kupang, Vox NTT-Balkis Soraya Tanof, salah satu juri Putri Pariwisata NTT tahun 2019 angkat bicara terkait keputusan penobatan Mawar Salem sebagai Putri Pariwisata Indonesia (PPI).

Kepada VoxNtt.com, Minggu (08/09/2019) malam, Balkis menegaskan juri punya kriteria tersendiri dalam menentukan Mahkota PPI kepada para peserta.

Proses penilaian, kata dia, bukan hanya ditentukan pada malam puncak pentas kecantikan itu, melainkan dimulai dari masa karantina 31 Agustus sampai 5 September 2019.

“Malam puncak hanya sebagian skor nilai akhir untuk akumulasi nilai dari awal hingga malam puncak,” ungkap sekertaris jurusan Sosiologi Undana itu.

Adapun kriteria pemenang PPI 2019, kata Balkis adalah sebagai berikut:

1. Remaja Putri Indonesia yang berusia 18 sampai dengan 24 tahun

2. Tinggi badan 165 cm

3. Berstatus pelajar dan mahasiswa serta belum menikah

4. Menguasai bahasa Inggris dan memiliki bakat tertentu sebagai poin plus dan mempunyai wawasan tentang kepariwisataan.

“Mawarni mempunyai kriteria tersebut, terutama bakat uniknya memainkan alat musik Sasando. Selain itu, ia juga mantan Duta Anak di TTU. Ini modal sosial dan budaya untuk bisa merebut juara PPI 2019”, tutur.

Balkis mengakui, ‘kekeliruan’ yang diucapkan Mawar saat malam puncak yang kini viral di medsos memang masih menjadi pro-kontra.

Danau Kelimutu secara fisik memang berada di Ende, tetapi di sisi lain di bawah naungan Badan Otorita Pariwisata (BOP) Labuan Bajo.

“Masyarakat bisa saja berkomentar seturut pemahamannya, tetapi yang jelas kemenangan Mawar merupakan akumulasi skor sejak masa karantina berlangsung,” tuturnya.

Pro dan kontra, ungkap Balkis, merupakan bagian dari dinamika ajang putri pariwisata.

“Kita malah berbangga pada anak perempuan berusia 18 tahun dari TTU yang telah mengharumkan nama NTT untuk berkompetensi di tingkat nasional mempromosikan pariwisata budaya nusantara. Kami sebagai juri pariwisata NTT 2019 tidak salah memilih,” tegas Balkis.

Balkis Soraya Tanof

Soal bully yang ramai diucapkan netizen di media sosial, Balkis menegaskan, secara regulasi Mawar masih berusia 18 tahun dan dilindungi oleh UU Perlindungan Anak nomor 35 tahun 2014.

Karena itu, ia menghimbau masyarakat untuk stop melakukan bully terhadap Mawar.

Sebaliknya jika memang ada kritik atau saran yang ingin disampaikan, sebaiknya dalam nuansa membangun bukan menjatuhkan.

BACA JUGA: Perjuangan Mawar Salem: dari Ketiadaan Uang, Tidak Didukung, hingga Kekeliruan Kecil

 

Harapan

Mawarni Salem, lanjut Balkis, merupakan simbol perempuan muda asal NTT yang bisa mengharumkan nama Propinsi ini ke level Nasional dan internasional.

Balkis berharap, Mawar dapat mengemban tugasnya sebagai Putri Pariwisata Indonesia di bawah slogan BRING INDONESIAN CULTURE TO WORLD.

Mawar juga diharapkan mampu mendukung program inovatif  Pemrov NTT di sektor Pariwisata yaitu PARIWISATA ESTATE IN RING OF BEAUTY.

Untuk diketahui, selain Balkis ada dua juri lagi yang menetapkan Mawar sebagai Putri Pariwisata NTT. Mereka adalah R.Sapto Djoko Widi Nugroho (Juri tingkat Nasional) dan Prof Dr. Fransiskus Bustan, M.Lab.

Penetapan Mawar sebagai Putri Pariwisata NTT digelar di Hotel Aston, Kota Kupang pada 13 Juli 2019 lalu.

Mawar kemudian mengikuti perlombaan tingkat nasional pada 31 Agustus sampai 5 September 2019 di Jakarta.

Pemilihan PPI diselenggarakan oleh El Jhon Pageants yang bernauang di bawah Yayasan El Jhon Indonesia.

Yayasan ini fokus pada pengembangan dan pemberdayaan generasi muda dengan menitikberatkan pada human capital guna menghasilkan SDM yang handal dalam bidang Pariwisata, Kebudayaan, Lingkungan Hidup dan Ekonomi Kreatif.

Penulis: Ronis Natom

Editor: Irvan K