Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Taman Dijadikan Lokasi Ternak, Ini Tanggapan Anggota DPRD TTS
Regional NTT

Taman Dijadikan Lokasi Ternak, Ini Tanggapan Anggota DPRD TTS

By Redaksi16 September 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Sapi milik warga tampak dibiarkan di dalam lokasi taman dua jalur di Kota Soe (Foto: Istimewa)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Soe, Vox NTT-Banyak warga di Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) menjadikan lokasi taman di jalan dua jalur menuju perkantoran pemerintahan sebagai tempat melepas ternak sapi.

Kondisi demikian sudah berlangsung lama. Di musim kemarau seperti sekarang, banyak warga menjadikan taman ini sebagai tempat melepas ternak sapi.

Akibatnya, banyak bunga maupun tanaman hias di sepanjang lokasi taman rusak dimakan sapi warga.

Bukan hanya itu, kebiasaan demikian, membahayakan pengendara yang lewat.

“Saya tidak tahu sapi-sapi ini milik siapa. Setiap pagi ke kebun lewat tempat ini, sudah banyak sapi di dalam taman,” ujar Alex, salah seorang warga yang ditemui VoxNtt.com di lokasi tersebut, Senin (16/09/2019).

Kondisi demikian memantik tanggapan Lusianus Tusalak, anggota DPRD TTS.

Saat dikonfirmasi VoxNtt.com, Lusianus membenarkan kondisi taman yang sering dirusak ternak sapi milik warga.

Mantan aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Kupang ini, berharap ke depan diperlukan produk Peraturan Daerah (Perda) di TTS untuk mengatur peternakan warga.

“Memang selama ini, bisa saja Pol PP ragu-ragu melakukan dalam mengambil tindakan karena belum ada aturan atau Perda,” sebut Lusi.

Oleh karen itu menurutnya, untuk jangka panjang dibutuhkan Perda sehingga bisa mengikat.

“Setahu saya, Kota Kupang sudah punya Perda yang mengatur lokasi peternakan. Ke depan TTS juga butuh Perda yang demikian,” jelasnya.

Namun untuk jangka pendek, tambah Lusi, Pemerintah Daerah melalui pihak desa atau kelurahan perlu melakukan pendekatan atau imbauan kepada pemilik ternak, sehingga taman yang ada, tidak lagi dijadikan lokasi ternak sapi.

Penulis: L. Ulan
Editor: Ardy Abba

TTS
Previous ArticleEksistensi Bahasa Indonesia di Era Digital
Next Article Ekspansi Kelompok Garis Keras Harus Dicegah Masuk NTT

Related Posts

Pasien ODGJ Dipasung Selama Dua Tahun di Welak Akhirnya Dibebaskan

12 September 2026

Brimob Operasikan Watergen, Hasilkan 950 Liter Air Bersih per Hari untuk Pengungsi Gempa di Reok

3 September 2026

SMAN 3 Cibal Semarakkan Hari Pramuka ke-65 dengan Perkemahan dan Beragam Lomba

14 Agustus 2026
Terkini

KPAI Soroti Dugaan Kekerasan Seksual terhadap 13 Anak SD di Sumba Barat

14 September 2026

Ketika Manusia Menghapus Wajah Sesamanya

13 September 2026

Pasien ODGJ Dipasung Selama Dua Tahun di Welak Akhirnya Dibebaskan

12 September 2026

Herman Musakabe Desak Kapolri Ungkap Tuntas Penembakan Tiga ASN di Jayawijaya

12 September 2026

Ketika Doa Menjadi Kekuatan bagi Penyintas Gempa

12 September 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.