Ilustrasi
alterntif text

Kupang, Vox NTT – Ekspansi gerakan kelompok garis keras lebih baik segera dicegah masuk ke NTT ketimbang mengatasi ekses yang mungkin ditimbulkannya nanti setelah  kelompok ini sudah terlanjur masuk ke wilayah ini.

Pendapat itu dikemukakan Politisi senior NTT, Drs. Frans Skera, pada forum rapat koordinasi dan dialog antara elemen Kesbangpol seluruh NTT dengan Forum Pembauran Kebangsaan (FPK), Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), di Kupang, pekan ini.

Menurut Frans, pemerintah Indonesia tampak kurang sanggup mencegah masuknya pengaruh kelompok garis keras. Hal itu menjadi problem tersendiri. 

Pola serupa bakal terjadi di NTT.  Jika pemerintah dan masyarakat tidak berdaya tahan ideologis yang memadai dan nihil kesanggupan sosial untuk mencegah masuknya kelompok garis keras itu, maka cepat atau lambat NTT akan terpapar pengaruh kaum radikalis, fundamentalis, dan kader-kader teroris akan muncul di sini.

Kelompok garis keras (hardliners), kata mantan anggota DPR RI itu, bercita-cita menggantikan ideologi Pancasila dengan ideologi yang berbasis ajaran agama tertentu.

Narasi yang diproduksi di media sosial dan banyak media lain memberi kesan sangat kuat betapa gigihnya kelompok ini mau mengubah ideologi Pancasila.

Kelompok-kelompok sempalannya bahkan hadir di Indonesia dengan prosedur legal. Sayangnya aparat negara seperti polisi dan petugas hukum lain terkesan tak berdaya menghadapi gerakan kelompok ini, bahkan tak sanggup membendung ekspansi pengarus sosialnya di berbagai arena sosial.

Data yang diperoleh memperlihatkan dengan jelas kecenderungan jumlah anggota kelompok ini terus bertambah hingga mencapai jumlah yang sangat merisaukan.

Taksasi jumlah riil sekarang ini mencapai pengikut 15 juta orang yang tersebar di sejumlah tempat strategis. 

Gerakan ekspansif masuk ke dalam kawasan lembaga pendidikan (taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi) di Jawa dan beberapa tempat lain luar Jawa.

Kelompok ini masuk ke lingkungan kelompok sosial politik dan bahkan beberapa di antaranya mengendalikan pemerintahan di lapisan propinsi, kabupaten/kota selain merambah masuk ke elemen masyarakat sipil. 

Momok Korupsi

Jika gerakan kelompok garis keras ini tidak segera dicegah, maka nasib bangsa Indonesia dan kerukunan, serta kontrak negara kesatuan Republik Indonesia sangat terancam.

Itu berarti solidaritas negara kesatuan mengalami krisis serius. Ideologi Pancasila hanya akan menjadi bagian dari sejarah masa lampau.

Untuk itu, diperlukan empowering kelembagaan nilai-nilai Pancasila melalui serial edukasi berjenjang dan berstruktur. 

Kecuali itu, momok korupsi harus segera diurus tuntas. Para koruptor harus dihukum berat.

Koruptor merupakan pelaku kunci masuk persemaian kaum radikalis dan fundamentalis karena ekses perbuatan korupsi justru menimpa derita sangat luas pada masyarakat.

Korupsi tak hanya melanggar norma hukum dan moral, tetapi korupsi juga merupakan ekspresi paling telanjang anti Pancasila dengan melanggar dan mengangkangi sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Perbuatan korupsi menggerus masa depan banyak manusia. Korupsi menimpakan derita bagi rakyat Indonesia. Penimpaan derita itu justru menjadi alasan sekaligus tempat paling subur lahirnya pengaruh kaum radikalis.

Sementara itu, saat bersamaan pemahaman dan penghayatan ideologi Pancasila dalam negeri mengalami krisis sejak institusi khusus pengelola ideologi bangsa ini hilang atau dihilangkan sejak Orde Baru tumbang.

Edukasi berjenjang sistematis atau terstruktur tentang pemahaman dan penghayatan Pancasila juga digusur oleh munculnya aneka ideologi lain yang masuk ke Indonesia.

Dengan kata lain, paska rezim Orde Baru, institusi penjaga marwah Pancasila justru dibubarkan dan dibekukan atas nama politik represif atau politik komando Orde Baru. Tetapi, setelah itu apa yang dilakukan negara ini agar Pancasila tetap hidup dalam seluruh kehiudpan dan perilaku sosial bangsa ini.

Menurut Frans Skera, salah satu ancaman besar, yang juga agaknya sulit dibendung, ialah globalisasi ideologi-ideologi dunia. Saat bersamaan, krisis relasi lintas sekat antara masyarakat sendiri kian tergerus lantaran badai gelombang industri keempat.

Ketergantungan manusia pada produk teknologi sangat tinggi, sehingga manusia dekat dijauhkan dan manusia jauh didekatkan. Begitu pun dengan ideologi yang ada di dunia. Ideologi paling radikal di kiri sampai ideologi reaksionis di paling kanan masuk ke Indonesia tanpa resistensi bermakna.

Mengatasi semua gejala ini, Frans Skera melihat, ideologi Pancasila sesunguhnya masih memiliki ketangguhan. Mengapa? Karena dia menilai, secara substantif nilai-nilai Pancasila itu masih hidup subur di tengah tradisi masyarakat lokal di seluruh Indonesia. 

Tinggal saja, nilai-nilai itu dikembangkan dan dihayati terus menerus lebih terencana sambil dengan sadar tidak larut dalam buaian pengaruh asing yang kian mengganggu relasi kemanusiaan antarmanusia Indonesia sendiri.

Menjawab pertanyaan apakah kelompok garis keras itu sudah masuk ke NTT? Frans menjawab secara fenomenal sesungguhnya kelompok itu sudah masuk ke NTT dengan membawa wajah damai.

Tetapi lambat laun kelompok ini akan menguasai pikiran manusia di NTT melalui aneka pendekatan budaya yang biasa, antara lain pendekatan ekonomi karena NTT masih menjadi propinsi termiskin ketiga di Indonesia.

Dengan kata lain, cara cegah utama untuk tidak terkena anasir radikalisme ialah dengan memakmurkan rakyat NTT.

Penulis: eka

Editor: Irvan K