Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HUKUM DAN KEAMANAN»Terkait Pembuangan Bayi, Praktisi Psikologi: Harus Ada Rembuk Bersama
HUKUM DAN KEAMANAN

Terkait Pembuangan Bayi, Praktisi Psikologi: Harus Ada Rembuk Bersama

By Redaksi26 Oktober 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Jefrin Haryanto (Foto: Dok. Pribadi)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, Vox NTT – Akhir-akhir ini, kasus pembuangan bayi di Kota Ruteng ibu kota Kabupaten Manggarai ramai diperbicangkan, baik di media sosial maupun di kalangan masyarakat.

Tak sedikit warganet yang berkomentar tentang kasus itu. Mereka menghujat dan mencaci maki pelaku. Ada juga netizen dan warga yang tetap memberikan komentar yang besifat edukasi.

Praktisi psikolog Jefrin Hariyanto mengatakan setiap kejadian seperti ini adalah gambaran bahwa masyarakat, anak-anak, dan mahasiswa-mahasiswi dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.

Bahkan menurut dia, kejadian ini merupakan fenomena gunung es karena kebetulan saja terungkap ke publik.

“Praktik aborsi sedang memperlihatkan perilaku seks bebas yang mengkhawatirkan di kalangan remaja. Saya selalu berharap kejadian seperti ini bisa menggangu kenyamanan tidur malamnya para pemilik otoritas di wilayah kita,” ungkapnya kepada VoxNtt.com, Jumat (25/10/2019).

Menurut Alumnus UGM itu harus ada rembuk bersama untuk mengurai soal-soal seperti ini, yang melibatkan semua pemangku kepentingan.

Sebab, menurut dia pelaku bisa jadi juga korban dari ketidakpahamannya tentang konsep relasi dan konsep seksual yang bertanggung jawab.

“Bahwa pelaku bersalah, harus kita akui, tapi perlu juga digali informasinya, siapa tahu dia sebagai korban yang terpaksa melakukan itu karena ditekan, atau karena pihak laki-laki tidak mau bertangung jawab,” katanya.

Situasi kekalutan lanjut dia, biasanya menyerang mereka-mereka yang didera oleh rasa takut yang berlebihan.

Sehingga keputusannya cenderung membabi buta dan penuh kepanikan.

Sebenarnya Kota Ruteng, kata Jefrin, sudah tidak ramah lagi untuk mereka yang terkena masalah. Tidak ada lagi bahu untuk bersandar dan telinga untuk mendengar.

“Kota kita kehilangan “pendengar” yang baik, karena menurunnya tingkat kepedulian pada orang lain. Dalam istilah saya, mereka butuh tempat dan rumah untuk berbagi, untuk menangis dan untuk berkeluh. Kejadian seperti ini ataupun kejadian bunuh diri, karena kota kita tidak lagi ramah untuk mereka yang terkena masalah,” ujarnya.

“Pesan saya kepada banyak pihak di kota ini, jangan pernah menghardik gelap, nyalahkan saja lilinmu biar terang,” tambahnya lagi.

Penulis: Pepy Kurniawan
Editor: Ardy Abba

Jefrin Haryanto Manggarai Yayasan Mariamoe Peduli
Previous ArticleGelar Acara Syukuran, Ansy Lema: Saya Siap Bekerja untuk Rakyat NTT
Next Article Daftar di Demokrat, Kornelis Dola: Manggarai Harus Juara

Related Posts

Herman Musakabe Desak Kapolri Ungkap Tuntas Penembakan Tiga ASN di Jayawijaya

12 September 2026

Pekan Depan, Janda Muda Asal Ngada Jalani Sidang Perdana Dugaan Pencemaran Nama Baik

12 September 2026

Kejari Mabar Geledah Kantor KPU Terkait Dugaan Korupsi Dana Hibah Rp28 Miliar

8 September 2026
Terkini

KPAI Soroti Dugaan Kekerasan Seksual terhadap 13 Anak SD di Sumba Barat

14 September 2026

Ketika Manusia Menghapus Wajah Sesamanya

13 September 2026

Pasien ODGJ Dipasung Selama Dua Tahun di Welak Akhirnya Dibebaskan

12 September 2026

Herman Musakabe Desak Kapolri Ungkap Tuntas Penembakan Tiga ASN di Jayawijaya

12 September 2026

Ketika Doa Menjadi Kekuatan bagi Penyintas Gempa

12 September 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.