Ansy Lema saat memberikan kata sambutan dalam acara syukuran pelantikan DPR RI di aula Asumta, Kupang, Jumat (25/10/2019)
alterntif text

Kupang, Vox  NTT-Pelaut ulung lahir dari keberanian menantang ganasnya ombak. Pelaut pemenang, lahir dari kapal yang terombang-ambing di tengah samudra luas.

Demikian epilog khotbah Pastor Jack Lodo, Pr dalam misa syukur pelantikan anggota DPR RI dapil NTT II, Yohanis Fransiskus Lema atau yang akrab disapa Ansy Lema di Gereja Asumta Kupang, Jumat (25/10/2019).

Pastor Jack yang merupakan imam keuskupan Weetebula  memang tak salah memilih perumpamaan. Ia tahu betul dinamika perjuangan Ansy Lema dalam kontestasi pemilihan legislatif April 2019 lalu.

Ansy, demikian Pastor Jack, berjuang  dengan segala keterbatasan. Meski demikian, eks juru bicara Ahok itu mampu bertahan dan memenangkan pertarungan karena tak melepaskan Tuhan sebagai nahkoda utama dalam menghadapi badai politik.

“Iman dan harapan adalah jembatan emas agar setiap insan manusia tidak kehilangan arah dan terhanyut oleh badai” pinta Pastor Jack.

Ansy yang memberikan kesaksian di sela-sela khotbah tersebut, mengakui keterbatasan dirinya. Bahkan satu bulan menjelang dibukanya pendaftaran calon legislatif, ia tidak pernah berpikir untuk turun ke medan politik. Keputusan itupun telah dibicarakan bersama istrinya, Maria Inge Nioty.

“Saya bahkan berpikir untuk membangun NTT dengan cara lain tanpa harus masuk dalam politik praktis. Namun selama satu bulan senior-senior saya di PDIP membangun komunikasi yang intensif dengan saya. Pada intinya mereka menginginkan kader muda yang bisa melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan,” tutur Ansy.

Suatu waktu, Herman Herry, salah satu senior PDIP asal NTT mengajak Ansy bertemu di kantornya. Namun pertemuan itu terpaksa batal lantaran Herman harus mengikuti pertemuan bersama Megawati untuk membahas wakil presiden dan pencalegan.

“Tiba-tiba jam 6 beliau (Herman Herry) telpon. Ia cuma omong bahwa saya telah diputuskan untuk maju dari dapil NTT 2 nomor urut 2. Waktu itu saya kaget dan hanya mampu menjawab siap bang” kisah Ansy.

Singkat cerita, Ansy akhirnya ditetapkan sebagai calon dan terpilih jadi anggota DPR RI.

“Jika saya kembali ke belakang, semua ini terjadi karena Tuhan yang membuka jalan. Berjalan di atas badai itu secara manusiawi mustahil. Tapi dalam prosesnya saya dibantu oleh banyak orang sehingga bisa menang. Saya yakin di balik dukungan pastor, pendeta, suster dan semua yang mendukung dengan caranya masing-masing, ada tangan Tuhan di belakangnya” ungkap Ansy.

Berangkat dari pengalaman tersebut, eks presenter berita TVRI ini menghayati politik sebagai jalan iman. Tanpa iman dan harapan yang kuat, Ansy mengaku tidak akan bisa duduk di Senayan sebagai penyambung lidah rakyat. Ia juga menegaskan siap bekerja untuk NTT lima tahun ke depan melalui Komisi IV yang membidangi sektor pertanian, pangan, kehutanan, maritim/kelautan, dan perikanan.

“Saya berterima kasih terhadap masyarakat NTT yang telah memilih saya. Saya siap bekerja untuk NTT, khususnya pada bidang Komisi IV DPR,” ujar Ansy Lema.

Tiga Persoalan NTT

Menurut Ansy Lema, ada tiga persoalan mendasar yang dialami oleh masyarakat NTT, yaitu pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

Tiga sektor ini mengakibatkan langgengnya kemiskinan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik,  tentang Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTT 2010-2018, Propinsi Nusa Tenggara Timur selalu menempati rangking di atas 30 besar dari 34 Provinsi. Posisi ini boleh dibilang posisi terakhir di atas Provinsi Papua dan Papua Barat.

Tingkat kesehatan masyarakat tercermin pada tingginya angka balita kurang gizi dan gizi buruk, tingginya angka stunting (anak pendek) dan berbagai masalah kesehatan dasar masyarakat. Data kesehatan terakhir menunjukkan dari populasi stunting terbesar di Nusa Tenggara Timur dan Papua Barat.

Di samping itu, rendahnya PDRB per kapita tercermin pada rendahnya daya beli masyarakat. Dalam dimensi ekonomi, rata-rata pengeluaran per kapita penduduk NTT pada tahun 2017 tercatat hanya Rp 681.484 per bulan, sedangkan rata-rata nasional sudah mencapai Rp 1.036.497 per bulan atau 152 persen lebih tinggi dari NTT.

Maka dari itu, kemiskinan di NTT berada pada angka 21,09 persen, meningkat 0,06 persen jika dibandingkan dengan September 2018 atau dengan kata lain jumlah penduduk miskin di Provinsi NTT Maret 2019 sebanyak 1.146.320 orang, meningkat 12.210 orang.

Angka kemiskinan turut berpengaruh pada tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Provinsi NTT pada Februari 2019 mengalami kenaikan 3,10% dibandingkan Februari 2018 dan Agustus 2018 dengan kenaikan masing-masing sebesar 0,12% poin dan 0,09% poin.

“Ketiadaan lapangan pekerjaan membuat banyak orang yang merantau ke luar negeri, yang kemudian membuka jalan adanya human trafficking dan penyebaran HIV/AIDS,” ungkap Ansy.

Fokus Pada Wilayah Pedesaan

Karena itu, Mantan Juru Bicara Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ini mengusulkan agar ada pemberdayaan kemasyarakatan, yang menyasar pada tiga sektor, yakni pertanian, peternakan, dan perikanan.

Pemerintah pusat harus menjadikan sektor pertanian dan peternakan sebagai sektor unggulan untuk mengentaskan kemiskinan di desa.

Langkah nyatanya adalah melalui pendidikan  dan pelatihan SDM petani dan peternak agar bisa bekerja secara modern, serta menguasai jalur agribisnis.

Hal-hal tersebut akan menjadi fokus dirinya selama bertugas di Komisi IV. Oleh karena itu, Ansy akan meminta dukungan dan bersinergi kepada berbagai pihak yang terkait.

“Saya akan bersinergi dengan Pemerintah Daerah (Pemda) NTT. Saya akan berkoordinasi untuk kemajuan NTT,” imbuhnya

Pendeta Teroci Ke Dae yang juga ikut membantu Ansy selama pileg berharap anggota DPR Fraksi PDIP itu tetap setia pada rakyat.

“Kami mendoakan Ansy untuk tetap setia pada rakyat dengan tidak tergoda oleh daya pikat kekuasaan dan berjuang dengan keras agar masyarakat NTT bisa keluar dari belenggu kemiskinan,” ungkap pendeta Teroci saat memberikan kata sambutan dalam acara syukuran di aula paroki Asumta. (VoN)