Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Apakah Ritus “Teing Hang” Praktik Berhala?
HEADLINE

Apakah Ritus “Teing Hang” Praktik Berhala?

By Redaksi5 Januari 20202 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Toto urat, salah satu tahapan dalam ritus "Teing Hang" orang Manggarai (Foto: Dok. Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT- “Teing Hang”, apakah ritus berhala? Begitulah pertanyaan penuntun dari Pastor Alexander Jebadu, staf pengajar STFK Ledalero saat hadir sebagai pemateri dalam seminar tentang agama dan budaya di Aula Paroki St. Petrus Rasul TDM Kupang, Jumat (03/01/2019).

“Teing Hang” sendiri merupakan salah satu ritus adat orang Manggarai-Flores, NTT. Ritus ini adalah memberikan sesajian kepada roh leluhur sebagai bentuk persembahan yang memiliki berbagai maksud, antara lain meminta keberhasilan, memohon perlindungan dan juga berupa ucapan syukur.

Dalam materinya, Pastor Alexander menjelaskan, banyak orang Manggarai dan orang luar yang mencurigai ritus “Teing Hang” sebagai praktik berhala.

Menurut dia, ritual memberi makan leluhur sudah dipraktikan sejak zaman kuno, bahkan populer di seluruh dunia.

Ritus “Teing Hang” bukan hanya praktik adat istiadat semata. Tetapi sebuah praktik keagamaan.

Doktor filsafat itu menjelaskan, sikap Gereja sangat positif toleran dan tidak menolak terhadap ritus “Teing Hang”.

Menurutnya, sampai saat ini Gereja belum mempunyai pedoman pastoral tentang ritus “Teing Hang”. Hal itu karena Gereja sendiri belum mempelajarinya.

“Kenyataan di lapangan ada gesekkan atau bahkan konflik antar yang mempraktikannya dan yang tidak,” imbuhnya.

Pastor Alexander menambahkan, dalam Nostra Ætate Nomor 2 salah satu dokumen konsili vatikan dua menjelaskan, Gereja tidak menolak segala yang baik, benar dan suci dalam agama-agama lain.

Karena itu, Gereja mendesak putra-putri untuk bekerja sama dengan kelompok  agama- agama lain.

Seminar bertajuk Agama dan Budaya di Aula Gereja St. Petrus Rasul TDM Kupang, Jumat (03/01/2020)

Ia menegaskan, dalam ritual “Teing Hang”, leluhur tidak disembah tetapi hanya dihargai. Penghormatan kepada orang yang telah meninggal, sesajian makanan dan minuman untuk roh-roh orang mati hanya simbol atau tanda, juga lambang cinta dan kerinduan.

Pastor Alexander kembali mengingatkan
bahwa ritual “Teing Hang”, bukan praktik sia-sia dan praktik berhala.

Baca Juga: Masyarakat Adat Manggarai Tutup Tahun dengan Ritual ‘Teing Hang’

“Teing Hang” tidak bertentangan dengan iman dan bakti Kristen. Integrasinya ke dalam iman dan bakti Kristen memang bersifat sinkrestik, tetapi sebuah sinkretis religius yang benar dan bukan yang tidak harmonis.

“Justru mempelajarinya akan memperkaya gereja sendiri. Konsep persekutuan diperluas. Menolong mengakhiri adanya dualisme agama. Membuat gereja semakin berakar di Asia,” tuturnya.

Untuk diketahui, seminar tersebut diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Besar Macang Pacar Kupang, Ikatan Keluarga Manggarai Raya Kupang,  Media Pendidikan Cakrawala NTT dan Hipmaspa Kupang, berkerja sama dengan Paroki St Petrus Rasul TDM.

Penulis: Ronis Natom
Editor: Ardy Abba

Kabupaten Kupang Kabupaten Manggarai
Previous ArticleMereka Meniduri Mukamu
Next Article Pengakuan Pria yang Nyaris Tenggelam di Pantai Nanga Rawa

Related Posts

Polisi Patroli dan Pantau Camp Pemuda GMIT di Amarasi Timur

30 Juni 2026

KemenHAM Serap Aspirasi Warga dalam Sosialisasi Penguatan HAM di Tiga Desa Manggarai Raya

25 Juni 2026

Warga Kampung Barang Gelar Roko Molas Poco, Tiang Utama Rumah Adat Gendang Diarak ke Lokasi Pembangunan

11 Juni 2026
Terkini

Kompak Indonesia Desak Kejati NTT Supervisi Kasus Dana BOK Puskesmas Benteng Jawa

14 Juli 2026

Dua Siswa SMPN 10 Poco Ranaka Lolos OSN Provinsi, Wakili Manggarai Timur

14 Juli 2026

JPIC OFM dan FORKASI Adukan Konflik Agraria Tonggurambang ke Komnas HAM

13 Juli 2026

Jelang Pelantikan Pejabat, Pemkab Nagekeo Bantah Isu Retaknya Hubungan Bupati dan Wakil Bupati

13 Juli 2026

Kesuburan  “Tanah” Hidup: Sinergi Sabda, Hati, dan Kelestarian Ekologis

12 Juli 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.