Rektor Dwijendra University saat memberikan sambutan pada acara pembukaan International Workshop
alterntif text

Vox NTT- Universitas Dwijendra Bali berkomitmen terus merangsang generasi muda untuk menekuni bidang pertanian.

Menurut Rektor Universitas Dwijendra Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc.MMA, pertanian di Bali tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan subak sebagai sistem irigasi tradisional. Bahkan UNESCO mengakui subak sebagai warisan budaya dunia sejak tahun 2012 lalu.

Subak sendiri adalah organisasi kemasyarakatan yang khusus mengatur sistem pengairan sawah (irigasi) yang digunakan dalam bercocok tanam padi di Bali.

Namun demikian, kata Gede, subak di Bali sedang diperhadapkan dengan beragam masalah, tantangan, dan ancaman. Kompleksitas masalah ini tentu saja mendegradasikan subak, baik secara fisik maupun sosial budaya.

Ia menyebut masalah-masalah yang sedang diperhadapkan seperti, terjadi alih fungsi lahan dan keengganan generasi mudah untuk berusaha di bidang pertanian.

“Oleh karena itu, perlu dicarikan upaya altetnatif guna merangsang generasi muda untuk menekuni kegiatan pertanian,”  kata Gede dalam rilis yang diterima VoxNtt.com, Sabtu (18/01/2020).

Sebagai upaya untuk merangsang kaum muda agar melestarikan subak, Universtias Dwijendra Bali kemudian menggelar lomba karikatur.

Lomba yang bertemakan “Subak Ajeg atau Melemah, Di manakah Generasi muda?” itu berlangsung di Aula Lantai 1 Udayana Santhi Dwijendra University, Bali, Jumat (17/01/2020).

Baca Juga: Gelar Workshop Pertanian, Universitas Dwijendra Hadirkan Pemateri dari Jepang

Gede mengatakan, subak di Bali memiliki multi-fungsi. Itu seperti fungsi produksi, ekonomi, hidrologi, ekologi/ekosistem, sosial budaya, dan pariwisata, serta fungsi edukasi.

Menurut dia, multi-fungsi subak harus dipertahankan dan harus dikembangkan.

Melalui lomba karikatur ini, ia mengharapkan generasi muda mulai menumbuhkan jiwa kecintaannya terhadap pertanian dan memilki kepedulian terhadap pelestarian nilai-nilai subak.

Selain itu, ke depan diharapkan juga kepada generasi muda agar memiliki kapasitas dan kemauan untuk membangun pertanian. Generasi muda harus bangga menjadi petani.

Untuk diketahui, lomba karikatur ini merupakan rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) Yayasan Dwijendra ke-67.

Baca Juga: Anas Undik, Janda yang Bertahan Hidup di Tengah Gempuran Kemiskinan

Jumlah peserta lomba sebanyak 51 orang  yang dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu kelompok SMA/SMK, dan kelompok mahasiswa dan umum yang berada di wilayah Provinsi Bali.

Gede menambakan, karikatur-karikatur yang sudah dilombakan akan didokumentasikan menjadi satu buku yang dilengkapi dengan pengenalan umum tentang subak.

Buku ini juga memberikan informasi mengenai ekspresi generasi muda milenial tentang subak di Bali.

Diharapkan buku ini akan menjadi salah satu referensi bagi pemerintah, stakeholder lainnya dan generasi muda dalam mewujudkan pertanian yang berkelanjutan dan pelestarian subak di masa mendatang.

Ketua panitia pelaksana lomba karikatur Ni Made Intan Maulina, S.P., M.P mengatakan, para peserta benar-benar menuangkan gagasannya berkenaan dengan pelestarian subak.

Bahkan para juri sangat berhati-hati dalam memberikan penilaian karena karikaturnya sangat bagus.

KR: L. Jehatu
Editor: Ardy Abba