Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Ekbis»Hama Ulat Grayat Serang Ratusan Hektare Jagung di Nagekeo
Ekbis

Hama Ulat Grayat Serang Ratusan Hektare Jagung di Nagekeo

By Redaksi22 Februari 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Aplikasi penggunaan insektisida nabati dan kimia oleh petugas lapangan Dinas Pertanian Nagekeo di area perkebunan warga di Kelurahan Danga, Selasa, 18 Pebruari 2020. (Foto: Patrick/ VoxNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mbay, Vox NTT-Ulat grayak atau dengan nama latin spodoptera litura kian masif menyerang tanaman jagung milik petani di hampir semua kecamatan di Kabupaten Nagekeo.

Hingga akhir Februari 2020 dilaporkan hanya Kecamatan Mauponggo yang belum memiliki informasi tentang serangan hama ulat grayak.

Sedangkan enam kecamatan lainya dilaporkan mengalami serangan hama ulat grayak dari intensitas ringan hingga berat.

Berdasarkan data Dinas Pertanian Nagekeo, serangan ulat grayak dengan kondisi terparah terjadi di Kecamatan Wolowae, dengan luas kerusakan mencapai 172,25 hektare.

Serangan ulat grayak dengan intensitas berat kedua berada di Kecamatan Aesesa.

Dilaporkan, lima desa yang mengalami serangan hama ulat grayak tersebar di wilayah.

Desa Olaia 6,5 hektare, Desa Aeramo 12,5 hektare, Kelurahan Danga 7,15 hektare, Nggolonio 82,5 hektare, Kelurahan Mbay II 22 hektare. Total seluruh di Kecamatan Aesesa mencapai 130,65 hektare.

Data kerusakan serangan ulat grayak selanjutnya berada di Kecamatan Nangaroro seluas 60,60 hektare, Kecamatan Boawae seluas 69,27 hektare, Kecamatan Aesesa Selatan seluas 18,75 hektare, dan Kecamatan Keo Tengah seluas 0,1 hektare.

Hendrika Novita Mau Wale, petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) pada Dinas Pertanian Kabupaten Nagekeo menjelaskan, fase penyerangan hama ulat grayak pada tanaman jagung terjadi saat ulat grayak masih dalam bentuk larva.

Menurutnya, larva ulat grayak berasal dari telur grayak dewasa yang diletakkan di bawah daun tanaman jagung. Saat telur-telur tersebut menetas dan menjadi larva grayak, mereka bergerak menuju inti tanaman sambil menggereknya.

Adapun tujuan larva grayak menggerak tanaman jagung adalah untuk memenuhi kebutuhan makanan bayi larva, sebelum menjadi larva grayak dewasa dan berubah menjadi kupu-kupu.

Ulat grayat, kata Hendrika, memilki fokus serangan pada tanaman jagung dengan cara menggerek pada titik tumbuh tanaman (pucuk),daun dan pada tongkol tanaman jagung.

Untuk mengatasinya, Dinas Pertanian Nagekeo menyarankan petani menggunakan pestisida organik (bahan dari tanaman daun nimba dan sereh).

Keterbatasan pestisida organik hanya boleh diaplikasikan saat tanaman belum menunjukan gejala parah (intensitas kerusakan dalam kategori ringan).

Namun, bila intensitas serangan telah masuk dalam kategori kerusakan sedang hingga berat, Dinas Pertanian menyarankan menggunakan insektisida kimia (ziban, decis, dan arrivo) dengan dosis 15 CC/15 Liter air untuk lahan seluas 8 are.

Menurut Hendrika, dampak serangan ulat grayak pada area tumbuh tanaman dipastikan akan mengganggu proses pertumbuhan serbuk bunga jagung, hingga serbuk sari tanaman jagung dan berpotensi mengalami gagal tumbuh dan gagal panen.

Barnadus Dega dan Stanislaus Meno, dua petani asal Desa Aeramo Kabupaten Nagekeo mengaku pasrah menghadapi serangan ulat grayak pada tanaman jagung.

Keduanya memprediksi, tahun ini akan mengalami gagal panen jagung pasca kebun jagungnya seluas 2 hektare nyaris habis diserang hama ulat grayak.

Berdasarkan pantauan VoxNtt.com, kondisi serupa hampir terjadi di setiap perkebunan milik warga Desa Aeramo dan petani jagung di Kecamatan Aesesa secara umum.

Menurut keduanya, pemicu utama hama ulat grayak pada tanaman jagung adalah rendahnya curah hujan di pesisir utara Kabupaten Nagekeo.

Berdasarkan pengalaman keduanya, telur ulat grayak pada daun jagung akan mudah jatuh ke tanah, bila secara terus menerus diguyur air hujan.

Ulat grayak yang terjatuh, biasanya hanya akan menyerang rerumputan muda dan daun jagung di bagian bawah.

Mereka berharap agar pemerintah Kabupaten Nagekeo melalui dinas terkait agar segera bersikap mencari solusi.

Penulis: Patrick Romeo Djawa
Editor: Ardy Abba

Nagekeo
Previous ArticleLive DJ di Kupang, Sheila Marsia: Saya Punya Hati untuk NTT
Next Article Musda DPD Golkar Nagekeo, Dua Kandidat Siap Bertarung Merebut Jabatan Ketua

Related Posts

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026

Dapur MBG Gako Dihentikan karena Berdiri di Atas Tanah yang Telah Diserahkan ke Pemda

3 Maret 2026

Perumda Air Minum Kota Kupang Luncurkan Promo Sambungan Baru dan Website Resmi Jelang HUT ke-17

2 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.