Seorang dokter di menuliskan pantang pulang sebelum corona tumbang. (Foto: Twitter)
alterntif text

Apa kabar Militan Kesehatan?

Semoga goresan sederhana ini bisa menyapa Anda yang mungkin sedang lelah dan takut berjibaku dengan virus.

Kutulis surat ini kala Kota Karang berselimut mendung, berkafankan pekat.

Hujan sore tadi sepertinya tak sudi membasahi bumi. Rintik mungilnya mengingatkanku pada pertaruhanmu antara maut dan hidup.

Sebelumnya, mohon maaf, andai surat ini mengganggu fokusmu di tengah kegentingan yang pelik ini.

Sejujurnya kutulis surat ini bersama rindu yang tak lagi terbendung. Hati teriris saat membaca di balik berita tentang pengorbanan bermodal mantel hujan melawan Corona.

Tenaga medis di RSUD Ben Mboi Ruteng, Manggarai terpaksa mengenakan mantel hujan saat memeriksa Orang Dalam Pemantauan  Covid-19 (Foto: Facebook)

Dari balik mantel itu, wajahmu tergambar antara cemas dan nekat. Rasa takut kau bunuh demi tegaknya kemanusiaan yang terancam dimangsa wabah.

Para pejuang kesehatan…

Kami sesungguhnya tak sudi, badai ini belum lekas pergi. Perang melawan wabah sepertinya belum sirna. Jalan masih panjang dalam nafas tersengal-sengal.

Dari kehangatan rumah kami sadar bahwa bayang-bayang kegelapan masih nyata terasa. Kami tahu ketakutan merajai pikiranmu, hidup dan mati hanya dibatasi pembalut tubuh yang tak utuh. Entah kapan jatuh terkapar dalam penat dan letih.

Rasa duka semakin mendalam, kala satu per satu ‘prajurit medis’ gugur di medan tempur. Hati tersayat menyaksikan perjuangan bertaruh nyawa dengan alat seadanya, lambang lambannya negara menjaga keselamatan rakyat.

Meski demikian, kalian, para dokter dan perawat pantang menyerah melawan ganasnya wabah, menyelamatkan nyawa-nyawa yang sedang takut di pintu maut.

Kalian lebih memilih berjuang dari pada pulang, menyelamatkan nyawa dengan taruhan nyawa. Meredam rindu untuk buah hati dan keluarga tercinta. Dalam doa dan harap, sesungguhnya mereka menantimu pulang dengan selamat.

Seorang tenaga kesehatan tampak kelelahan (Foto: Detik.com)

Ketika seruan untuk menciptakan social distancing bergaung, jiwamu tak menjauh, malah sekain dekat menjamah insan-insan derita yang dilanda putus asa.

Ketika banyak orang bertekuk lutut sambil berdoa meminta lindungan, kamu tetap maju menjemput yang sembuh.

Bagimu, berbuat sama dengan berdoa berkali-kali. Menyerah hanya akan melahirkan lautan air mata. Dan, mengalah berarti menggali Kuburuan Massal.

Wahai pejuang kesehatan… belum ada kepastian kapan badai ini berhenti. Ingin memeluk tubuhmu selekas mungkin. Tetaplah semangat sembari terus berharap ‘ esok pagi, Fajar segera merekah’.

Suatu saat, ketika wabah telah tiada, anak-anak akan belajar dari sejarah bahwa tenaga kesehatan Indonesia dan dunia tak menyerah meski nyawa jadi taruhan.

Mungin saja kala anak-anak itu dewasa, wabah tak lagi ada. Kemajuan bioteknologi makin canggih. Namun engkau telah mewarisi arti, bahwa hidup dan kemanusiaan harus dimenangkan.

Engkau telah menanamkan makna bahwa cinta tanpa pengorbanan hanyalah sia-sia belaka. Selepas wabah, semoga insan manusia lebih menghargai hidup, menjaga alam, dan mencintai sesama.

Peluk erat dari kami yang menanti dalam harap.

Penulis: Irvan K