Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Ekbis»Lima Masalah dalam Pengembangan Desa Wisata Meler
Ekbis

Lima Masalah dalam Pengembangan Desa Wisata Meler

By Redaksi8 Oktober 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Dosen Unika Ruteng, Yosefina Rosdiana Su
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, Vox NTT- Desa Meler, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur memang unik dan menarik bagi para pemburu kepermaian alam.

Di desa wisata ini terdapat bentangan sawah yang berbentuk jaring laba-laba. Warga setempat menyebutnya lodok.

Keindahan hamparan persawahan ini tidak henti-hentinya diburu wisatawan. Pemerintah pun hingga kini tengah serius mengembangkan Desa Wisata Meler.

Meski begitu, seorang dosen di Unika Ruteng Yosefina Rosdiana Su menemukan sedikitnya lima masalah dalam upaya pengembangan Desa Wisata Meler.

Pertama, sebut dia, terbatasnya sarana dan prasarana penunjang. Padahal, sarana dan prasarana merupakan aspek penting dalam kelayakan sebuah desa wisata.

“Sarpras (sarana dan prasarana) dapat berupa sarana akomodasi, transportasi, konsumsi, maupun infrastruktur fisik lainnya yang menunjang penampilan suatu desa wisata,” jelas Yosefina saat membawakan materi pada kegiatan bimbingan teknis untuk pengelola Desa Wisata Meler di Aula Hotel Revayah Ruteng, Kamis (08/10/2020).

Baca Juga: Unika Ruteng Gelar Bimtek untuk Pengelola Desa Wisata Meler

Permasalahan kedua yang ditemukan Yosefina adalah terbatasnya biaya atau anggaran untuk pengembangan sektor wisata.

Anggaran ini, kata dia, tentu saja sangat bergantung pada kebijakan dan rencana strategis pembangunan daerah (renstra), baik pemerintah daerah maupun pemerintah desa.

Menurut Yosefina, anggaran memang belum terfokus pada pengembangan sektor pariwisata.

“Hal tersebut berdampak pada minimnya alokasi dana APBD maupun dana desa bagi pengembangan sektor ini,” tukas dosen pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Unika Ruteng itu.

Ketiga, lanjut dia, belum optimalnya sinergitas dan pola kemitraan (partnership) lintas sektoral.

Menurut dia, sinergitas dan pola kemitraan sebuah desa wisata tidak akan bisa berkembang, jika tidak melibatkan partisipasi dari semua komponen.

Kegiatan bimbingan teknis untuk pengelola Desa Wisata Meler di Aula Hotel Revaya Ruteng, Kamis (08/10/2020) (Foto: Ardy Abba/ Vox NTT)

Komponen tersebut mulai dari Pemda, Pemerintah Desa, hingga para stakeholders swasta. Kemudian, seluruh komponen di desa itu sendiri, termasuk masyarakat mulai dari anak-anak sampai orang tua.

Keempat, belum adanya program pemasaran dan promosi pariwisata yang efektif, yang menggunakan pendekatan profesional dan penguatan jaringan kelembagaan.

Yosefina menjelaskan, strategi pemasaran dan promosi sangat penting dalam pengembangan sebuah desa wisata.

“Promosi dan penjualan sangat penting, dan sangat mudah sekali untuk dikembangkan hari ini,” katanya.

Dikatakan, kemajuan teknologi dan informasi memberikan akses seluas-luasnya kepada setiap orang untuk melihat bagian bumi manapun yang ingin dikunjungi.

Promosi dan strategi marketing ini tentu saja membutuhkan skill yang sangat bisa diasah.

Kelima, ungkap Yosefina, belum tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) yang betul-betul mampu melihat peluang maupun tantangan dari sektor kepariwisataan.

Padahal menurut dia, SDM menjadi aspek inti dari pengembangan desa wisata.

“Tersedianya SDM yang memiliki pengetahuan kepariwisataan yang memadai, keterampilan dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan pariwisata, visi misi dan motivasi diri yang kuat adalah modal utama dalam pengembangan sebuah desa wisata,” katanya.

Penulis: Ardy Abba

Desa Meler Manggarai UNIKA Santu Paulus Ruteng Unika St. Paulus Ruteng
Previous ArticleDiduga Lecehkan Profesi Jurnalis, Pegawai PLTU Ropa Ende Dilaporkan ke Polisi
Next Article Paparkan Persoalan Pembangunan, Ini yang Akan Dicanangkan TP PKK NTT

Related Posts

Edi Hardum Minta Menteri HAM Awasi Penanganan Laporan Bupati Hery Nabit di Polres Manggarai

4 Juni 2026

Advokat Publik Nilai Laporan Bupati Manggarai terhadap Edi Hardum Tidak Sesuai Mekanisme UU Pers

3 Juni 2026

Isno Baco Ajak Warga Desa Pinggang Berpolitik “Riang Gembira” pada Pilkades 2026

2 Juni 2026
Terkini

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.