Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Kapan Hujan Reda-Antologi Puisi Latrino lele
Sastra

Kapan Hujan Reda-Antologi Puisi Latrino lele

By Redaksi31 Oktober 20202 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Illustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*) Puisi-Puisi Latrino lele

Kapan Hujan Reda

Rinai hujan jatuh lumpuh diserap luka pada rindu yang patah

Gemerincingnya memekik gaduh pun serak

Ingatan hampir runyam

Gubuk tua yang bertuan bungkam bukan kepalang

Menduga hantu-hantu menakutkan di balik pintu dan jendela. Menanti mangsa dengan beringasnya

Rinai hujan masih luruh

Bulir-bulirnya pecah pada pucuk asoka

Remah-remahnya merintih tertusuk duri mawar

Sesekali potret-potret luka tergenang saat jarum jam bertatih letih

Kubang kenangan mengernyit dahi

Kapan rinai hujan akan reda?

Ruang Clemens, 2 Oktober 2020

Aku yang Kosong

Aku yang kosong luruh dalam ingat paling pekat. Merindu gumpalan embun-embun basah lalu bercumbu dengan ribuan isyarat.

Sebelum fajar berhasrat tuk merekah mengecup sampai titik penghabisan.

Aku yang kosong menyelinap pada angan paling harap. Ingin menyulam nostalgia seksi untuk dipahat dengan irama yang entah.

Namun… Aku tetap menjadi yang kosong. Suatu waktu redup.

Akhirnya lenyap.

Meja belajar, 8 September 2020

Waktu Kuliah Daring

Pagi sekali

Gadget di Jemari

Headset di kuping

Pemberitahuan masuk

Gadget berdering berkali-kali

Zoom lagi

Zoom lagi, si bocah memukul dahi

Aduh pulsa habis

Yang sabar Nak, teriak ibunya yang sedang cangkul di batu

Meja belajar, 27 Oktober 2020

 

*Identitas Penulis

 Latrino Lele asal Nagekeo. Sekarang berdomisili di Maumere. Penulis suka menulis puisi dan cerpen.

 

Antologi Puisi Latrino Lele Puisi Akhir Pekan
Previous ArticleOmnibus, Oligarki, dan Sikap Kritis Pemuda
Next Article Tokoh Masyarakat Jiwuwu Ajak Pilih IE RAI di Pilkada Sabu Raijua

Related Posts

Bersama Senja: Antologi Puisi Cantikan Christiany Dapa

18 Juli 2026

Elegi Luka Sang Pemaaf

19 April 2026

Tentang Pintu Kiri dan Pintu Kanan di Surga

19 April 2026
Terkini

Kebijakan “Ambil Dulu, Bayar Kemudian” Gubernur NTT Direalisasikan di Golo Mendo

26 Agustus 2026

Sheline Lana Tanggung Biaya Sekolah Anak di Wae Ri’i yang Orangtuanya Meninggal Akibat Gempa

26 Agustus 2026

BSI KCP Labuan Bajo Gandeng TNI AL Serahkan Bantuan ke Kecamatan Macang Pacar

26 Agustus 2026

Istri Wagub NTT Pantau Rumah Warga Terdampak Gempa di Manggarai

26 Agustus 2026

PUPR NTT Verifikasi 300 Rumah Terdampak Gempa di Desa Golo Mendo

26 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.