Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Puisi: Siti
Sastra

Puisi: Siti

By Redaksi14 Maret 20212 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*Oleh: Fritz Yofrilolis

/1/

Siti….!

Menuju jalanan penuh kenang

Jajaran dasi kusam

Mengapung

Sesekali menghamba

***

“Dahulu, tak ada tembok, jalanan masih rupa tanah namun kaki kita tak perlu berlumpur agar sampai ke seberang” kata seorang kakek tua, mengenang.

“Mungkin genangan menjadi kriteria sebuah kota dikatakan maju. Semakin luas genangan, semakin maju kota kita” sambar seorang tukang gerobak yang tertahan tak bisa lewat.

Seorang anak kecil yang mendengar percakapan itu menyambung: “Sebegitu dangkalkah iman kalian?” Sambil mengambil secarik kertas ia menulis:” Tuhan. Aku ingin menemani-Mu berjalan di atas air”.

/2/

Ada yang telanjang di sudut kota

Di atas sebuah gedung bertingkat

Ada yang merobek pakaiannya untuk sekedar terlihat menggairahkan

***

Sambil berlutut

Aku berdoa:

“Tuhan. Izinkanlah aku menjadi cawat bagi tubuh-tubuh yang runtuh tepat di depan kenisah-Mu”.

/3/

Di bawah kolong sebuah jembatan seorang pengemis berbaring telanjang

***

Sebuah mobil mewah melintas

Dan cipratan lumpur jatuh tepat pada mata pengemis

Seorang anak kecil mengambil sebuah kardus kotor dan menutupi tubuh pengemis itu

Setelahnya, anak itu berlari kepada ibunya yang sibuk memulung sampah

Sambil menunjuk pengemis yang tidur anak itu berkata:

“Ibu. Aku menemukan Tuhan dalam rupa yang lain”.

………

*Tentang Penulis:

Fritz Yofrilolis adalah mahasiswa semester VIII STFK Ledalero, anggota aktif PMKRI Cabang Maumere

Fritz Yofrilolis
Previous ArticleCerpen: Perempuan di Batas Senja
Next Article Kampung Halaman

Related Posts

Bersama Senja: Antologi Puisi Cantikan Christiany Dapa

18 Juli 2026

Elegi Luka Sang Pemaaf

19 April 2026

Tentang Pintu Kiri dan Pintu Kanan di Surga

19 April 2026
Terkini

BSI KCP Labuan Bajo Gandeng TNI AL Serahkan Bantuan ke Kecamatan Macang Pacar

26 Agustus 2026

Istri Wagub NTT Pantau Rumah Warga Terdampak Gempa di Manggarai

26 Agustus 2026

PUPR NTT Verifikasi 300 Rumah Terdampak Gempa di Desa Golo Mendo

26 Agustus 2026

Polda Jawa Tengah Salurkan Bantuan Sembako untuk Korban Gempa di Lengor

24 Agustus 2026

Karitas Keuskupan Ruteng Salurkan Bantuan untuk 11.907 Korban Gempa Flores

24 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.