Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Figure»Menjadi Rektor Tidak Penting Seorang Profesor
Figure

Menjadi Rektor Tidak Penting Seorang Profesor

By Redaksi8 Mei 20212 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Guru besar Undana Prof.Dr.Drs.Fransiskus Bustan,M.Lib
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT- Wacana pergantian rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang mulai berkembang di publik. Banyak pihak pun memberikan pandangan atas wacana pergantian Fred Benu itu.

Salah satunya, guru besar Undana Prof.Dr.Drs.Fransiskus Bustan,M.Lib. Ia mengatakan, menjadi seorang rektor sebetulnya tidak meluluh harus bergelar profesor.

“Yang paling utama memiliki kemampuan managerial dan mempunyai rekam jejak menduduki jabatan struktural semisal dekan,” jelas Prof Bustan kepada VoxNtt.com, Jumat (07/05/2021) malam.

Hal yang tidak kalah penting menurut dosen sarjana dan magister di Undana itu, menjadi rektor harus memiliki kecakapan berbahasa Inggris.

“Karena visi Undana adalah universitas berwawasan global. Mau tidak mau, suka tidak suka memiliki kecakapan bahasa Inggris menjadi salah satu syarat utama bagi calon nanti,” ujarnya.

BACA JUGA: Gagasan Besar Maxs Sanam untuk Undana ke Depan

Prof Bustan juga menyarankan agar posisi rektor harus orang sudah memiliki pengalaman dalam mengelola pendidikan selama masa pandemi Covid-19.

Prof Bustan kembali mengingatkan bahwa menjadi rektor tidak selamanya seorang guru besar. Ia beralasan guru besar lebih konsen terhadap akitivitas ilmiah.

“Aktivitas penulisan buku dan jurnal bereputasi internasional, sehingga Undana tidak ketinggalan dengan universitas lain di Indonesia, apalagi jumlah guru besar hanya 19 orang yang masih aktif,” katanya.

Menurutnya, rektor adalah tugas tambahan yang diberikan kewenangan kepada dosen dan pejabat struktural kampus.

Diketahui, jabatan akhir rektor Undana akan diisi mulai 05 Desember 2021 mendatang.

Posisi rektor ditentukan oleh sebanyak 53 anggota senat Undana (65%). Sementara sisanya 35% dipilih oleh Mendikbud atau perwakilannya.

Penulis: Ronis Natom
Editor: Ardy Abba

Kabupaten Kupang Prof Frans Bustan Undana
Previous ArticleJalan Menuju SMAN 3 Lamba Leda Buruk, DPRD NTT: Butuh Keseriusan Dinas dan Pemdes
Next Article Israel Tuding Dana Sumbangan Uni Eropa Disalurkan ke Kelompok Teroris Palestina

Related Posts

Peringati Hari Anak Nasional, Yayasan TKK Fransiskus Assisi Karot Perkuat Tata Kelola dan Mutu Pendidikan

28 Juli 2026

Kepala SMPN Satap Munde Bantah Dugaan Pungli, Sebut Uang dari Orangtua Bersifat Sukarela

22 Juli 2026

Dugaan Pungli Pengambilan SKL dan Ijazah di SMPN Satap Munde Matim, Warga Desak Dinas Tindak Tegas

18 Juli 2026
Terkini

Apotek K-24 Resmikan Outlet di Labuan Bajo, Perluas Akses Layanan Kesehatan 24 Jam

4 Agustus 2026

Ketua DPRD Manggarai Timur Minta Agregat Jalan Watu Cie-Deno Dibongkar Jika Tak Sesuai Spesifikasi

4 Agustus 2026

Dua Belas Penundaan Menguji Kemanusiaan Akademik

4 Agustus 2026

ASN di Reok Barat Keluhkan Iuran HUT RI, Camat Sebut untuk Kelancaran Upacara

4 Agustus 2026

Camat Welak Kunjungi Tiga ODGJ di Desa Wewa, Sebut Penanganan ODGJ Jadi Prioritas

4 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.