Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Seni dan Budaya»Upacara Roko Molas Poco di Kampung Lentang, Simbol Sakral Pembangunan Rumah Adat Manggarai
Seni dan Budaya

Upacara Roko Molas Poco di Kampung Lentang, Simbol Sakral Pembangunan Rumah Adat Manggarai

By Redaksi30 September 20254 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ritual Roko Molas Poco Gendang Lentang (Foto: Dok. panitia)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, VoxNTT.com – Warga Kampung Lentang, Kecamatan Lelak, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, menggelar upacara adat Roko Molas Poco pada Senin, 29 September 2025. Tradisi ini menandai momen penting dalam pembangunan rumah adat (mbaru gendang) Gendang Lentang, yakni dengan membawa tiang utama atau siri bongkok menuju lokasi pembangunan.

Ratusan warga terlibat dalam arak-arakan ini, termasuk perwakilan dari Gendang Raong, Gendang Kalo, Gendang Rejeng, dan kampung-kampung tetangga di Kecamatan Lelak.

Prosesi Roko Molas Poco dimeriahkan dengan tarian adat ronda dan tabuhan gong-gendang, yang mengiringi pergerakan warga sejauh 100 meter, melewati jalan menanjak dari ujung kampung hingga ke natas (halaman utama) Kampung Lentang.

Tiang utama sepanjang 9 meter dengan berat sekitar satu ton dipikul secara gotong royong oleh warga. Di atas kayu, duduk seorang gadis dari pihak anak rona, keluarga dari garis ibu leluhur Lentang, dengan pakaian adat lengkap.

Ketua Panitia Pembangunan Rumah Gendang Kampung Lentang, Aventinus Arson menjelaskan, pembangunan rumah adat ini telah melewati sejumlah tahapan sakral.

“Setelah pembongkaran itu kita buat acara peletakan batu pertama dan roko molas poco ini,” kata Aventinus. Ia menyebut, upacara ini ibarat menancapkan “jantung” rumah adat, yang disebut siri bongkok.

Aventinus, yang akrab disapa Ajong, juga menuturkan bahwa pembangunan rumah adat ini turut didukung oleh Pemerintah Kabupaten Manggarai, khususnya Dinas Pariwisata, sebesar Rp200 juta. Selain itu, sekitar 400 kepala keluarga juga ikut menyumbang dana pembangunan, masing-masing sebesar Rp900 ribu.

Menurutnya, keterlibatan perempuan dalam upacara Roko Molas Poco bukan tanpa alasan.

“Dalam upacara roko molas poco, yang duduk di atas (kayu) itu, katanya, adalah seorang gadis cantik, perwakilan dari pihak anak rona (keluarga pihak ibu dari leluhur Lentang),” ujarnya.

Ajong juga menjelaskan, di Kampung Lentang terdapat delapan ame/panga (klan), dan seluruhnya terlibat aktif dalam prosesi adat ini. Ia menambahkan bahwa bentuk rumah adat yang kini dibangun berbeda dari sebelumnya.

“Dulu model mbaru gendang kita itu segi empat. Maka yang dibuat upacara roko molas poco itu haju lando rata (kayu melintang), bukan tiang, dan yang duduk di atasnya adalah laki-laki,” katanya.

Namun kini, dengan bentuk rumah yang menyerupai kerucut atau mbaru niang, kayu yang diarak adalah siri bongkok.

Ketua Seksi Adat Pembangunan Rumah Gendang, Silvester Anton Jandur, menambahkan bahwa secara etimologis, istilah Roko Molas Poco berasal dari kata roko (membawa lari), molas (cantik/gadis), dan poco (gunung).

“Artinya, kayu ini (kayu melintang) tidak terputus (tanpa sambungan, dari depan sampai belakang). Tetapi karena mayoritas gendang (yang baru direnovasi di Manggarai) ini bulat (niang), maka dibuatlah seperti ini,” kata Silvester.

Dalam upacara tersebut, gadis yang duduk di atas kayu mengenakan tenunan songke, kebaya, dan memegang payung.

Ia duduk di atas bantal kaki dari anyaman pandan (tange re’a), simbol kesucian dan penghormatan.

“Sebenarnya kayunya tidak dipikul, tapi dipangku. Karena ibaratnya, roko itu membawa lari seorang gadis. Roko itu bawa lari dari hutan. Kenapa molas poco? Karena hanya itu satu-satunya kayu yang dilirik (kayu pilihan). Makanya disebut molas poco,” kata Silvester.

Ia juga mengutip ungkapan leluhur: “porong worok eta golo, pateng wa wae”, sebagai bentuk penghargaan terhadap kayu worok, yang dahulu digunakan untuk tiang utama rumah adat.

Kini, sebagai penyesuaian zaman, tiang rumah Gendang Lentang menggunakan kayu jati merah. Namun, nilai-nilai sakral tetap dijaga.

Sebelum kayu ditebang, warga terlebih dahulu mempersembahkan ayam berbulu tiga sebagai permohonan izin pada roh kayu dan roh tanah (naga tana).

Ritual juga dilakukan sebelum kayu diarak ke kampung, termasuk persembahan manuk lale (ayam merah) dan manuk cepang (ayam merah hitam), sebagai penolak bala.

“Tujuannya untuk menolak roh yang mengikuti kayu itu, sehingga roko molas poco berjalan lancar,” katanya.

Sesampainya di kampung, warga menyambut kayu dengan upacara tuak curu, diikuti mandeng cepa (sirih pinang), dan tempang pitak (pembersihan), dengan persembahan ayam putih. Setelah semua prosesi selesai, tiang utama ditancapkan di tempat pembangunan rumah adat.

Silvester berharap generasi muda tetap menjaga dan meneruskan warisan budaya Manggarai. Ia menekankan bahwa Roko Molas Poco bukan hanya seremonial, melainkan bentuk kearifan lokal dalam menghargai alam, rumah, dan kehidupan.

Penulis: Ronis Natom

Kabupaten Manggarai Kampung Lentang Kecamatan Lelak Manggarai Upacara roko molas poco
Previous ArticlePoliteknik St. Wilhelmus Boawae Wisudakan 126 Mahasiswa
Next Article Pemkab Manggarai Barat Teken Kerja Sama Strategis untuk Kembangkan Bioekonomi Berbasis Kelapa

Related Posts

Keuskupan Ruteng Wanti-wanti Dampak Tambang Mangan PT SJA di Reok

4 Juli 2026

Camat Reok Cup III Siap Bergulir Pertengahan Juli

2 Juli 2026

PT SJA Sosialisasikan Rencana Tambang Mangan di Reok, Warga Kampung Jengkalang Nyatakan Dukungan

29 Juni 2026
Terkini

Eco-enzyme: Solusi Sederhana Mengolah Limbah Dapur Perkotaan

16 Juli 2026

Dua Wisatawan Asal China Tewas Tenggelam saat Snorkeling di Perairan Pulau Kelor

15 Juli 2026

Kompak Indonesia Desak Kejati NTT Supervisi Kasus Dana BOK Puskesmas Benteng Jawa

14 Juli 2026

Dua Siswa SMPN 10 Poco Ranaka Lolos OSN Provinsi, Wakili Manggarai Timur

14 Juli 2026

JPIC OFM dan FORKASI Adukan Konflik Agraria Tonggurambang ke Komnas HAM

13 Juli 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.