Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Misionaris Pengharapan: Siapakah yang Harus Berefleksi?
Gagasan

Misionaris Pengharapan: Siapakah yang Harus Berefleksi?

By Redaksi19 Oktober 20253 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Andra Geraldo
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Andra Geraldo

Siswa dari Seminari St Yohanes Paulus Il Labuan Bajo

Minggu, 19 Oktober Gereja universal merayakan hari misi sedunia yang ke 99. Tema hari misi tahun 2025 adalah Misionaris Pengharapan di antara Segala Suku Bangsa.

Dalam hari misi sedunia ini Gereja mencoba mengaitkannya dengan tema tahun Yubileum yakni Peziarah Pengharapan.

Gereja memberikan perhatian kepada semua kalangan yang miskin dan terlantar, serta mengajak semua umat manusia untuk hidup dalam pengharapan.

Begitu banyak orang yang mengatakan masa depan itu abstrak dan kita tidak dapat menduga apa yang akan terjadi, tetapi dengan berharap kita akan mengungkapkan iman kita bahwa kita percaya Tuhan akan mengindahkan harapan kita.

Oleh karena itu, mari di hari misi sedunia ini kita mulai membangun pengharapan kepada Allah sebagai bentuk ungkapan iman kita. Kita akan bersama untuk membangun semangat pengharapan ini.

Berkaca pada realitas yang terjadi dewasa ini, begitu banyak orang yang mendorong agar anak-anak hidup dalam pengharapan.

Salah satu bentuk misionaris yang selalu dikaitkan ialah anak-anak yang melakukan sebuah kegiatan rohani, seperti sekolah minggu atau sekami.

Hal itu memang tidak salah, namun perlu bagi kita bahwa anak-anak lebih banyak belajar dengan meniru apa yang orang lain lakukan.

Oleh karena itu, peziarah pengharapan masa depan ini tidak hanya dapat bertumbuh dengan hanya mendorong mereka melalui kata-kata, tetapi perlu diwujudkan dalam bentuk tindakan dalam keseharian hidup.

Penulis ingin mencoba mengajak kita semua keluar dari kerangka berpikir selama ini hanya tahu untuk mendorong, tetapi jarang untuk terlibat.

Pertanyaan yang muncul yang sekarang adalah, Siapakah yang harus berefleksi? Pertanyaan yang sangat sederhana, tetapi akan terkandung seribu makna.

Kita tidak dapat menyuruh anak-anak untuk mendalami lebih jauh tentang tema hari misi sedunia, maka dari itu tak hanya semangat anak yang diperbarui, tetapi juga peran orang tua.

Berkaca pada realitas yang terjadi saat ini, orang tua cenderung menyuruh anaknya untuk terlibat dalam kegiatan rohani, sementara orang tua hanya duduk santai di rumah. Akankah ada keselarasan antara perkataan dan tindakan?

Orang tua harus mampu memahami bahwa perilaku seorang anak akan sangat dipengaruhi oleh orang tua, maka dari itu untuk menciptakan misionaris pengharapan, orang tua juga mesti terlibat.

Orang tua dapat memberikan kontribusinya dengan hadir bersama anak dalam mengikuti kegiatan bersama dan selalu mendorongnya untuk kegiatan-kegiatan bersama yang positif untuk mendukung perkembangan anak.

Peziarah pengharapan akan ditentukan sejauh mana anak dipersiapkan, maka guru pertama yakni orang tua mesti bekerja keras untuk mewujudkan hal ini.

Orang tua sebagai agen yang penting untuk melakukan semua ini, orang tua diajak agar tidak hanya mendukung, tetapi juga terlibat aktif dalam kegiatan sehingga anak mampu mengikuti apa yang orang tua mereka lakukan.

Mari di hari misi sedunia ini, kita semua diajak menepi diri untuk mencoba mengingat kembali keberadaan kita di dunia ini, kita berusaha untuk merenungkan kembali peran kita sebagai anak dan orang tua demi mewujudkan misioner pengharapan.

Jawaban dari pertanyaan di atas adalah anak dan orang tua. Namun jauh dari pada itu anak akan dipengaruhi oleh bentuk pembinaan orang tua, maka orang tua mempunyai peran yang sentral untuk mewujudkan hal ini.

Anak akan mampu merenungkan apa yang dia buat setelah mengerti dari apa yang orang tua lakukan terhadapnya.

Dalam tulisan ini penulis mencoba mengajak kita semua untuk rehat sejenak dan berbenah tentang peran kita sebagai anak dan orang tua.

Andra Geraldo
Previous ArticlePolres Manggarai Gelar Patroli Malam Cegah Kecelakaan dan Balap Liar di Kota Ruteng
Next Article Mengintip Aktivitas Pemerataan Lahan Naioni: Antara Pembangunan dan Penjualan Material

Related Posts

Bahasa Kasih Pascagempa Flores

23 Agustus 2026

Tema HUT ke- 81 RI 17 Agustus 2026 Tidak Relevan

18 Agustus 2026

Jika Kopi Manggarai Bisa Bicara di Meja Hotel Labuan Bajo

10 Agustus 2026
Terkini

Kebijakan “Ambil Dulu, Bayar Kemudian” Gubernur NTT Direalisasikan di Golo Mendo

26 Agustus 2026

Sheline Lana Tanggung Biaya Sekolah Anak di Wae Ri’i yang Orangtuanya Meninggal Akibat Gempa

26 Agustus 2026

BSI KCP Labuan Bajo Gandeng TNI AL Serahkan Bantuan ke Kecamatan Macang Pacar

26 Agustus 2026

Istri Wagub NTT Pantau Rumah Warga Terdampak Gempa di Manggarai

26 Agustus 2026

PUPR NTT Verifikasi 300 Rumah Terdampak Gempa di Desa Golo Mendo

26 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.