Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Retakan Tanah 100 Meter di Nagekeo Picu Kepanikan, 60 KK Mengungsi
Regional NTT

Retakan Tanah 100 Meter di Nagekeo Picu Kepanikan, 60 KK Mengungsi

By Redaksi27 Maret 20263 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Anggota DPRD Nagekeo dari Komisi II bersama BPBD Nagekeo meninjau lokasi keretakan tanah di dua kecamatan di Kabupaten Nagekeo, pada Jumat, 27 Maret 2026
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mbay, VoxNTT.com – Fenomena alam berupa keretakan tanah dikabarkan terjadi di Desa Lado Lima Timur, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo. sejak Kamis, 19 Maret 2026, sepanjang kurang lebih 100 meter tanah dilokasi tersebut terpantau mengalami keretakan dengan lebar mencapai 30 hingga 40 sentimeter.

Antonius Towa, Ketua BPD Desa Lado Lima Timur berujar fenomena alam itu telah memicu kekhawatiran warga desa hingga puluhan kepala keluarga telah memilih untuk mengungsi.

Akibat kejadian itu, sedikitnya 60 kepala keluarga memilih mengungsi ke rumah keluarga dan kerabat yang dianggap lebih aman dan jauh dari lokasi retakan.

Paul Jogo, warga lainnya mengungkapkan bahwa fenomena tersebut bermula dari suara gemuruh yang terdengar dari dalam tanah pada Kamis malam.

“Awalnya kami dengar suara gemuruh dari dalam tanah. Setelah dicek, muncul retakan sekitar 10 meter dan dari dalamnya keluar mata air,” ungkap Paul.

Tak berselang lama, retakan kedua kembali terjadi dengan ukuran yang lebih panjang dan lebar, juga disertai munculnya sumber mata air baru. Karenanya, warga mulai berspekulasi akan adanya bencana alam yang dapat mengancam keselamatan jiwa raga mereka.

Fenomena serupa juga terpantau terjadi di sejumlah desa disekitarnya. Di Desa Kota Keo I misalnya, retakan tanah sepanjang 5 meter nyaris memutus akses jalan penghubung Raja–Maunori.

Menanggapi kondisi tersebut, Tim II Komisi II DPRD Nagekeo melakukan peninjauan langsung ke lokasi pada Jumat, 27 Maret 2026. Anggota Komisi II, Anto Sukadame Wangge, menegaskan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menghadirkan ahli geologi.

“Kita akan segera desak Pemerintah untuk menghadirkan ahli geologi guna memastikan apakah fenomena ini berbahaya atau tidak bagi masyarakat,” ujar Anton.

Ia menambahkan, kajian dan analisa dari ahli geologi sangat penting untuk mengungkap penyebab utama keretakan tanah, sekaligus memastikan apakah fenomena tersebut merupakan indikasi awal pergerakan tanah yang berpotensi longsor atau sekadar retakan biasa.

Di tengah situasi tersebut, keluhan warga terhadap lambannya respons pemerintah pun muncul. Seorang warga Desa bernama Herman Yosep Geo, bahkan secara emosional meminta agar bencana segera terjadi. Pernyataan itu diduga dipicu oleh rasa frustrasi akibat minimnya perhatian pemerintah.

Diketahui, sejak retakan pertama muncul, sekitar 220 jiwa telah mengungsi secara mandiri selama sepekan terakhir. Mereka tinggal di rumah sanak keluarga di desa tetangga dalam kondisi serba terbatas dan penuh ketidakpastian.

Menanggapi keluhan itu, Anggota Komisi II DPRD Nagekeo dari Partai Perindo, Elias Cuma, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat.

“Tidak bermaksud mengabaikan bapak ibu di sini, tetapi lebih karena padatnya agenda dan bertepatan dengan hari besar keagamaan sehingga baru hari ini kami bisa mengunjungi,” ujarnya.

Elias juga meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nagekeo untuk segera turun tangan memberikan edukasi kepada masyarakat terkait fenomena tanah longsor, guna meningkatkan pemahaman dan kesiapsiagaan warga dalam menghadapi potensi bencana.

Penulis: Patrianus Meo Djawa

Desa Lado Lima Timur Kabupaten Nagekeo Kecamatan Keo Tengah Nagekeo
Previous ArticleDari Pengalaman Pribadi, Mariana Kini Setia Merawat Harapan ODGJ
Next Article Tuhan Merajut Rahim Hidup Manusia

Related Posts

‘Gema Mabar’ Diluncurkan, Pemkab Manggarai Barat Fokus pada Ketahanan Pangan hingga Pariwisata Berkelanjutan

2 Juni 2026

Manggarai Barat Dorong Koperasi Desa Merah Putih Beroperasi Meski Belum Punya Gerai

30 Mei 2026

Pemkab Manggarai Barat Evaluasi Seluruh Destinasi Wisata Usai Insiden WNA Austria Terjatuh di Jembatan Gantung

30 Mei 2026
Terkini

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Kejari Manggarai Barat Pulihkan Kerugian Negara Rp2,09 Miliar dari Dua Kasus Korupsi

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.