Oleh: Melki Deni, S. Fil
Sedang Studi Teologi di Universidad Pontificia Comillas, Madrid, Spanyol.
Saya selalu singgah di toko buku Libro Ideas Príncipe Pío, Madrid, setalah pulang dari Alcorcón, kota madya pinggiran Madrid. Leer antes de morir (Membaca sebelum meninggal dunia) —semacam ungkapan dipasangkan di atas ratusan buku dari berbagai penulis dunia yang sudah menerima Nobel dunia— selalu menjadi objek pertama yang saya pandang tiap kali memasukinya.
Di seberang sana saya melihat buku-buku Byung-Chul Han, yang salah satunya berjudul “Sobre Dios. Pensar con Simone Weil” sudah dicetak keenam, tetapi saya pernah lihat di toko buku lain buku ini sudah dicetak ketujuh —kalau tidak salah. Saya sudah membaca buku ini sejak pertama kali diluncurkan pada Oktober 2025 lalu.
Sekitar 75% dari buku Byung-Chul Han berisi pemikiran Simone Weil (tanpa memberikan kritikan atas karya-karya Simone Weil), dan ditambah dengan pemikiran dari beberapa filsuf lainnya dan Kitab Suci Deuterokanonika.
Bagian paragraf awal, Byung-Chul Han mengutip pemikiran Simone Weil dalam bukunya “La gravedad y la gracia” (Madrid: Editorial Trotta), begini: «Seperti gas, jiwa cenderung menempati seluruh ruang yang dialokasikan untuknya. Akan bertentangan dengan hukum entropi jika gas menyusut dan meninggalkan ruang kosong. Ini tidak terjadi pada Allah orang Kristen. Dia adalah Allah supernatural, sedangkan Yehuwa adalah Allah alamiah. Tidak menggunakan seluruh potensi diri berarti menanggung kekosongan. Ini bertentangan dengan semua hukum alam: hanya rahmat yang dapat mencapainya. Rahmat memenuhi, tetapi rahmat hanya dapat masuk ke tempat yang kosong untuk menerimanya, dan rahmatlah yang menciptakan kekosongan itu.»
Konsep tentang rahmat Allah dan gas ini berkaitan erat dengan kekuasaan, omnipresencia, tetapi kita bahas itu nanti. Saya hanya coba menguraikan sedikit apa yang dimaksudkan Simone Weil, yang sebetulnya ia mengambil lurus-lurus teks-teks Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma berkaitan dengan pembenaran melalui rahmat dan iman: hanya rahmat Allah yang membebaskan kita dari dosa.
Kepada jemaat di Roma 8:1-2, Rasul Paulus menulis: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.”
Metafora gas, yang digunakan oleh Simone Weil, yang menempati seluruh ruangan menggambarkan kecenderungan kehendak dan jiwa manusia yang ingin menguasai, memuaskan diri, dan mengisi setiap aspek kehidupan dengan keinginan pribadi.
Dalam pandangan mistik, membiarkan jiwa terus menerus melakukan ini —tanpa kendali— adalah sebenarnya “alami” (seperti hukum fisika), namun mengarah pada pemusatan diri: akulah segala-galanya, bahkan kehendak Allah dan alam semesta bergantung pada keputusanku!
Simone Weil membedakan antara Allah yang bertindak melampaui hukum alam (supernatural/rahmat) dengan konsep ketuhanan yang hanya dipahami sebatas penguasa alam semesta fisik (alamiah). Allah yang supernatural (Trinitas dalam konteks Kristen) mampu masuk dan mengubah kodrat manusia.
Di sini, tidak menggunakan potensi diri atau menolak rahmat dianggap sebagai bentuk “kekosongan” yang menyakitkan. Secara alami, manusia cenderung egois, dan hanya rahmat (kasih karunia Allah) yang dapat menciptakan kekosongan spiritual —yaitu kerendahan hati untuk menerima Allah dan merindukan istirahat dalam Allah (Mazmur 42)— bukan kekosongan yang sia-sia. Manusia tidak bisa memuaskan dirinya sendiri.
Rahmat Tuhan datang dan menciptakan ruang kosong (mengosongkan ego/keakuan) dalam diri manusia, agar rahmat itu sendiri yang memenuhi tempat tersebut. Ini sejalan dengan konsep Kenosis (pengosongan diri) dalam teologi Kristen.
Kematian Yesus di kayu salib bukanlah kematian Allah dan bukan juga kemanusiaan Yesus, tetapi Yesus sebagai manusia. Dengan demikian kita tidak boleh dengan percaya diri tinggi mengatakan: pada masa Paskah, kita harus bersikap tenang, berbuat baik dan bertindak kudus, karena kita harus mengambil bagian dalam penderitaan Yesus.
Yesus sendiri berbicara kepada “putri-putri Yerusalem” (Lukas 23:28), Ia menggunakan suatu ungkapan yang dikenal luas dalam Perjanjian Lama (Kidung Agung 2:7; 5:16; 8:4; Yesaya 37:22; Zefanya 3:14; Zakharia 9:9).
Yesus tidak hanya menanggapi ratapan mereka, tetapi juga menyatakan kesedihan-Nya atas nasib mereka dan kota Yerusalem (Yeremia 9:19).
Ia berkata: “Janganlah kamu menangisi Aku, tetapi tangisilah dirimu sendiri” (Lukas 23:28; Lukas 7:13; 10:20). Maksudnya, penderitaan yang akan datang atas mereka jauh lebih besar daripada penderitaan yang sedang Ia alami. Jika mereka memahami masa depan yang akan terjadi, mereka akan meratapi diri mereka sendiri.
Yesus kemudian menyatakan secara profetis: “Sesungguhnya akan datang hari-hari…” (Lukas 23:29; 5:35; 19:43), suatu ungkapan yang menunjukkan kepastian akan terjadinya peristiwa yang mengerikan. Dalam konteks itu, bahkan dikatakan: “Berbahagialah perempuan mandul” (Lukas 23:29; Lukas 21:23; Yesaya 54:1), karena mereka tidak harus menyaksikan penderitaan anak-anak mereka. Lebih jauh lagi, penderitaan itu akan sedemikian hebat sehingga orang-orang akan berseru: “Hai gunung-gunung, runtuhlah menimpa kami!” (Lukas 23:30; Hosea 10:8; Wahyu 6:16).
Bahkan sebelum mati di kayu salib, Yesus masih menunjukkan pengampunan kepada semua manusia sebagai bukti terluhur kasihnya kepada manusia dan ketataan-Nya kepada Bapa dengan mengungkapkan tujuh perkataan terakhir-Nya yakni: 1. “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34); 2. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Lukas 23:43); 3. “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: “Inilah ibumu!” (Yohanes 19:26-27); 4. “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46; Markus 15:34); 5. “Aku haus!” (Yohanes 19:28); 6. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” (Yohanes 19:30); 7. “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” (Lukas 23:46).
Memangnya Yesus menderita, disalibkan dan mati di kayu salib karena kejahatan-Nya sendiri? Atau dosa-dosa kita (bukan hanya dosa Adam-Hawa, dan Israel)? Pemazmur dalam Mazmur 8:5-7, jauh sebelum kita, tahu diri siapakah dirinya di hadapan Allah dengan bertanya kepada Allah: “apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya.”
Seruan ini mencerminkan keputusasaan yang mendalam di hadapan hukuman Allah, sebagaimana pernah dialami Israel karena kemurtadannya.
Langit yang bercahaya, bertabur bintang-bintang pada suatu malam di Timur. Ia bernyanyi kepada langit Allah (mengenai sufiks tersebut, bandingkan Mazmur 20:7; 115:16; 144:5; Ratapan 3:66).
Dalam ruang-ruang itu tidak terdapat tempat bagi kekuasaan lain. Yahweh menciptakan langit (Mazmur 33:6; 96:5; 102:26; 136:5). Langit itu adalah “karya jari-jari-Nya”; artinya, segala sesuatu memuat “tanda pribadi” dari tindakan penciptaan Allah yang agung.
Benda-benda langit “ditempatkan” pada cakrawala dan ditetapkan di sana (Kejadian 1:17; Yesaya 40:26). Namun kini sang pemazmur tidak berhenti sejenak pun untuk merenungkan langit yang berkilauan. Kata penghubung pada awal ayat 4 menunjukkan bahwa nyanyian ini dengan segera menuju suatu gagasan yang diperoleh dari perenungan malam atas cakrawala langit yang megah.
Akan tetapi, alih-alih kalimat konsekuensial yang diharapkan, pada ayat 5 muncul suatu seruan yang mengejutkan. Allah “mengingat” dan “memperhatikan” manusia berakar pada suatu tindakan Sang Pencipta. Tindakan ini dinyanyikan dalam ayat 6–7.
Pemazmur menggambarkan suatu ketetapan mendasar dari Allah, bahwa manusia menempati posisi dalam ciptaan yang “sedikit lebih rendah daripada makhluk-makhluk surgawi”. Menarik bahwa ukuran bagi eksistensi manusia yang rapuh justru adalah makhluk-makhluk surgawi yang mulia. Oleh karena itu, istilah yang digunakan hendaknya dipahami sebagai “makhluk ilahi” atau “makhluk surgawi”.
Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma 4:13-15. menegaskan apa yang dikatakan Yesus tadi: “Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman.
Sebab jika mereka yang mengharapkannya dari hukum Taurat, menerima bagian yang dijanjikan Allah, maka sia-sialah iman dan batallah janji itu. Karena hukum Taurat membangkitkan murka, tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran.”
Otto Kuss, dalam “Cartas Romanos, Corintios, Galatas” (Barcelona: Editorial Herder, 1976), menjelaskan bahwa “Janji Allah kepada Abraham bukanlah suatu ganjaran atas pemenuhan hukum—sebab hukum itu belum ada pada waktu itu—melainkan janji tersebut diberikan semata-mata atas dasar kebenaran yang berasal dari iman.
Paulus merujuk pada janji dasar Allah, yakni bahwa di dalam Abraham semua bangsa di bumi akan diberkati (Kejadian 12:3), atau sebagaimana dinyatakan dalam bagian lain, bahwa di dalam keturunannya semua bangsa di bumi akan memperoleh berkat.”
Dalam Roma 3: 23-26, Rasul Paulus berkata: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.
Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.”
Rasul Paulus menunjukkan bahwa baik orang-orang bukan Yahudi (1:18–32) maupun orang-orang Yahudi (2:1–3:20), semuanya tanpa kecuali berada di bawah kuasa dosa (3:9). Tidak seorang pun memiliki “kemuliaan” yang merupakan jumlah dari segala kesempurnaan, yang sejak awal telah dianugerahkan kepada manusia sebagai “buah sulung” atau “jaminan”.
Namun demikian pembenaran berdasarkan iman ini merupakan karunia Allah semata-mata karena kemurahan-Nya kepada manusia. Dengan menaati kehendak Bapa, Kristus telah menebus kita, dan “membebaskan” kita, melalui pengorbanan kematian-Nya.
Keadilan Allah yang dimaksud Paulus bukanlah sekadar keadilan dari kehendak bebas seorang hakim; yang dinyatakan di dalamnya adalah kehendak Allah yang penuh belas kasih, yang melampaui segala pengertian. Allah adalah Dia yang, sekalipun adil dalam diri-Nya sendiri, sekaligus membenarkan manusia secara nyata dan efektif.
Meskipun Yesus disalibkan karena dosa kita, namun kita tetap berdosa dan karena itu kita membuat rahmat penebusan terus-menerus atas dosa-dosa kita. Yesus mati untuk menebus manusia dari hukuman dosa (Roma 6:23) dan perdamaian dengan Allah. Ia yang tidak berdosa dijadikan dosa karena kita (2 Korintus 5:21).
Dalam Surat kepada Jemaat di Roma 6:1-4, Rasul Paulus menegaskan, “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?
Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.”
Jika kita berbuat dosa, kita tidak kehilangan keselamatan, tetapi kita perlu mengakuinya agar dibersihkan (1 Yohanes 1:9), sebab Tuhan mengajar anak-anak-Nya agar hidup dalam kekudusan (Ibrani 12:5-11), dan “yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1 Timotius 2:4-5).
Seperti Rasul Paulus tegaskan dalam Roma 10:9-13: “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.
Karena Kitab Suci berkata: “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.” Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.”.
Orang yang hidup di dalam Kristus telah melampaui kehidupan yang berpusat pada dirinya sendiri. Ia tidak lagi hidup untuk dirinya, melainkan hidup di bawah otoritas Kristus sebagai Tuhan, sehingga seluruh keberadaannya diarahkan hanya kepada Kristus.
Kepada Jemaat di Roma 14:7-10 Rasul Paulus mengatakan: “Sebab tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri.
Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup. Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah.”
Relasi ini tidak dapat diputuskan bahkan oleh kematian, sebagaimana ditegaskan dalam Roma 8:38. Dalam segala keadaan, orang yang berada di dalam Kristus tetap menjadi milik-Nya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus telah memperoleh kuasa atas semua manusia, baik yang hidup maupun yang mati.
Oleh sebab itu, hanya Dia yang berhak menuntut pertanggungjawaban. Karena semua orang akan berdiri di hadapan pengadilan yang sama —yakni pengadilan Allah atau pengadilan Kristus (2 Korintus 5:10)— maka tidak pantas bagi siapa pun untuk menghakimi atau merendahkan sesamanya.
Sebagaimana tertulis dalam Yesaya 45:23, yang juga ditegaskan dalam Filipi 2:10–11 bahwa setiap lutut akan bertelut dan setiap lidah akan mengaku kepada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa semua orang berada di bawah kekuasaan-Nya.
Oleh karena itu, setiap orang akan memberikan pertanggungjawaban atas hidupnya secara pribadi kepada Allah, dan akan dihakimi sesuai dengan perbuatannya.

