Ruteng, VoxNTT.com – Curah hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Manggarai dalam beberapa hari terakhir memicu banjir di sejumlah titik. Desa Manong, Kecamatan Rahong Utara, menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah.
Banjir bandang pertama terjadi pada Senin, 6 April 2026 di Kampung Garang. Peristiwa ini menyebabkan kerugian material bagi warga setelah bahan pangan dan hasil panen tersapu arus.
Warga setempat, Romeon Barus, mengatakan banjir pertama merusak berbagai kebutuhan rumah tangga. “Perkakas dapur, beras, serta kacang-kacangan yang baru dipanen ikut disapu banjir,” ujarnya, Sabtu, 11 Maret 2026 malam.
Ia juga menyebut lima karung beras dan kacang merah milik warga atas nama Sius Lawur turut hanyut terbawa arus.
Banjir bandang kembali terjadi pada Sabtu, 11 April 2026. Kali ini, kondisi dinilai lebih parah karena air bercampur lumpur dan material masuk hingga ke dalam rumah warga.
“Hari ini air banjir bandang bersama tumpukan material masuk sampai ke dalam rumah warga,” kata Barus.
Hingga kini, warga masih berupaya membersihkan sisa material banjir secara mandiri. Namun, mereka mengaku belum menerima bantuan dari pemerintah daerah.
“Belum ada bantuan dari pemerintah untuk membantu keluarga yang terkena bencana,” tegasnya.
Kepala Desa Manong, Vinsensius Jebarus, membenarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan rangkaian bencana mulai terjadi sejak Rabu, 9 April 2026, dan kembali berulang pada Sabtu, 11 April 2026, yang berdampak pada Dusun Garang dan Dusun Lada.
Menurut dia, banjir menyasar warga yang tinggal di sepanjang saluran drainase yang dibangun melalui Dana Desa tahun 2016. “Kami sudah melaporkan kejadian ini ke BPBD dan Dinas Sosial Kabupaten Manggarai,” ujarnya.
Ia menyebutkan, total terdapat 24 warga terdampak dengan kerugian yang bervariasi, mulai dari perabot rumah tangga hingga bahan pangan. Satu unit rumah bahkan tidak lagi layak huni karena dipenuhi batu dan lumpur, sehingga penghuninya terpaksa mengungsi ke rumah tetangga.
Sebagai langkah awal, pemerintah desa baru mampu memberikan bantuan terbatas. “Untuk sementara kami hanya membantu perabot dapur kepada tiga kepala keluarga yang paling terdampak. Bantuan darurat dari BPBD dan Dinas Sosial sampai saat ini belum ada,” jelasnya.
Vinsensius juga menyoroti infrastruktur yang diduga menjadi salah satu penyebab banjir. Ia menilai ukuran deker atau gorong-gorong yang dibangun pemerintah daerah terlalu kecil dibandingkan debit air saat hujan deras, sehingga air mudah meluap ke permukiman warga.
“Deker itu harus dibongkar. Kalau tidak, ke depan akan lebih banyak rumah yang terdampak,” tegasnya.
Pemerintah desa berharap pihak terkait segera turun langsung ke lokasi untuk memberikan bantuan darurat sekaligus mengambil langkah penanganan jangka panjang, mengingat curah hujan di wilayah tersebut masih tinggi dalam beberapa hari ke depan.
Kontributor: Leo Jehatu

