Oleh: Wili Kuntam
Tenaga Ahli Komisi III, DPR RI
Pater Marsel Agot, SVD telah pergi selamanya. Peristiwa kematian memang salah satu hal pasti dalam hidup. Meski begitu, kisah, spirit dan pemikirannya masih aktual dan dikenang.
Saya menjadi mahasiswanya tahun 2003. Beliau menjadi dosen teologi dan memangku mata kuliah lumayan berat. Kristologi dan Marialogi.
Saya menikmati materi perkuliahan yang diajarkannya. Hemat saya, ia adalah salah satu imam Katolik yang cerdas dan tidak feodal, selagi banyak juga dosen yang tidak cerdas dan feodal.
Pater Marsel Agot selalu ingatkan mahasiswa untuk beriman secara rasional. Beriman pada yang absolut, yang disebut Tuhan, mesti dimengerti dan dipahami akal sehat. Kita beriman pada Tuhan yang transenden (jauh) sekaligus imanen (dekat) dengan manusia bukan karena tak dipahami nalar.
Fides Quarens intellectum. Lebih kurang begitu.
Konteks teologi, beliau menerapkan teologi yang kontekstual pada masa itu, juga masa kini. Memang lumayan aneh, bila teologi tidak kontekstual. Sebab teologi yang sesungguhnya harus kontekstual.
Teologi semacam itu tentu menjadi relevan saat banyak yang berteologi mengawang-awang. Mereka yang hanya piwai merumuskan ajaran dan doktrin agama tanpa berpijak di bumi, padahal ajaran Yesus sendiri kontekstual pada masanya. Pater Marsel Agot mengambil jalan lain.
Berteologi dari konteks yang ada. Hemat saya, teologi ala Pater Marsel Agot memang masuk akal. Rupanya, ia ingin bilang bahwa bagaimana mungkin kita mencapai keselamatan dan surga di akhirat, sementara di dunia ini kita menderita kelaparan, miskin dan tak berdaya, selagi tak satu pun orang pernah ke dunia akhirat itu. Lantas, pater Marsel Agot berteologi dari konteks apa?
Pastoral Ekonomis
Kemiskinan dan keterbelakangan adalah penyakit sosial yang belum hilang. Problem sosial ini bukan predestinasi tapi persoalan yang lebih dalam, yakni persoalan struktural. Di tengah situasi seperti ini, kaum pastor mesti terlibat dan berpihak. Keterlibatan dan keberpihakan tentu beragam cara. Bisa jadi dengan pastoral liturgis.
Misalnya, mendaraskan doa, rekoleksi, katekese, retret dan kotbah di mimbar gereja. Pastoral semacam ini penting tapi tak memadai. pater Marsel Agot mengoreksi pastoral semacam itu. Sepertinya, ia mau bilang bahwa para biarawan/i dan umat sedang surplus doa tetapi defisit aksi nyata. Ini tentu bukan mengada-ada.
Koreksi semacam ini mendapat relevansinya di NTT. Daerah ini kategori miskin, bahkan miskin ekstrem. Lapangan kerja terbatas, daya beli masyarakat menurun dan seterusnya.
Dalam situasi ini, pater Marsel Agot mencoba mencari jalan keluar. Ia membuka lapangan kerja. Sebelum hotel prundi didirikan di labuan Bajo, beliau lebih dulu membuka bengkel kayu pada tahun 2006.
Bengkel itu lumayan merekrut banyak karyawan. Ini hanyalah satu contoh. Pastoral ekonomi ternyata tak cukup. Ia bergerak lintas batas. Merangsek masuk bidang lingkungan hidup.
Pastoral Ekologis
Keselamatan lingkungan hidup menjadi kunci keselamatan masa depan manusia. Merusak dan mencemar alam adalah langkah bunuh diri manusia. Itulah alasannya, Pater Marsel Agot tanpa ragu melawan penguasa dan pengusaha lokal dan nasional yang merusak alam.
Berbagai izin eksploitasi pertambangan oleh pemerintah dan perusakan lingkungan oleh perusahan pertambangan ditolaknya dengan tegas. Rupanya, ia berdiri di atas argumen bahwa pertambangan hanya bergerak atas logika homo economicus.
Keuntungan yang sebesar-besarnya adalah tujuan utama, sementara keselamatan lingkungan hidup diabaikan. Padahal manusia tak hanya homo economicus tapi juga homo social dan cultural. Perjuangan pater Marsel Agot atas keselamatan lingkungan hidup layak diapresiasi terutama di tengah bencana alam yang semakin parah di berbagai daerah saat ini.
Seingat saya, sewaktu masih menjadi dosen, pater Marsel Agot mengajarkan pentingnya merawat bumi. Manusia tidak boleh serakah, arogan dan semena-mena atas alam. Dia melawan tegas pendirian kaum antroposentisme yang merusak alam demi kepentingan sesaat dan jangka pendek.
Tanggungjawabnya atas alam tercermin dalam tindakannya dengan menamam ribuan pohon di Labuan Bajo kala itu. Kegiatan menanam pohon itu adalah tindakan nyata melestarikan alam. Karenanya, keputusan pemerintah memberikan penghargaan kepadanya atas jasanya merawat lingkungan hidup adalah langkah tepat (Kompas, 27/11/2013).
Tidak cukup pada lingkungan hidup dan ekonomi umat, mendiang Marsel Agot pun adalah aktivis sosial yang anti korupsi.
Banalitas Korupsi
Kekuasaan tentu berperan ganda. Baik sekaligus buruk. Baik bila membawa kesejahteraan umum. Buruk saat digunakan untuk korupsi. Tabiat buruk kekuasaan ini dipahaminya dengan cermat.
Tahun 2004, saya dan beberapa aktivis mahasiswa mencium aroma korupsi di lingkup pemerintahan kabupaten Manggarai. Akhirnya, para koruptor diseret dan diadili di meja hijau. Pater Marsel pun ikut mendukung dan turun demontrasi bersama mahasiswa melawan korupsi.
Menariknya, almarhum tak hanya melawan korupsi yang melibatkan aparatus negara, tapi juga aroma korupsi internal gereja. Gereja terutama para klerus harus menjadi teladan dan rujukan moralitas. Begitu komitmennya. Kekuasaan yang mempunyai tabiat buruk hanya bisa diberadabkan dengan moral. Di titik ini, para biarawan/i menjadi harapan dan andalan publik.
Semuanya itu tentu tak gratis. Pater Marsel menyadari itu. Almarhum seolah membenarkan kata Tan Malaka, pejuang kemerdekaan. ia kurang lebih bilang begini: siapa yang ingin memperjuangkan kemerdekaan bangsanya harus rela kehilangan kemerdekaannya, bahkan kemerdekaannya sendiri.
Pastoral ekonomis, ekologis dan perlawan korupsi pasti mendapat penolakan banyak pihak terutama mereka yang terbiasa dan nyaman dengan korupsi.
Ini yang dialami almarhum. Manakala dirinya bersama para mahasiswa melawan korupsi tahun 2004, dia mendapat tekanan, ancaman, penolakan, bahkan dikucilkan terutama para kelompok status quo.
Namun, sejarah seringkali memberi pelajaran bahwa kelompok status quo akan mengalami kontradiksi internal. Kehancuran hanya soal waktu saja.
Saat ini, Pater Marsel Agot telah tiada. Namun, spiritualitas, gagasan dan visinya tak lekang oleh ruang dan waktu. Kita menanti pater Marsel Agot yang baru.

