Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Cum Corde: Pendidikan Holistik menuju Organic Society
Gagasan

Cum Corde: Pendidikan Holistik menuju Organic Society

By Redaksi8 Mei 202612 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Mgr. Maximus Regus, Guru Besar Bidang Sosiologi Agama sekaligus Uskup Labuan Bajo (Foto: HO)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Pater Darmin Mbula, OFM

Anggota Dewan Perguruan Tinggi (DPT), Perguruan Tinggi Nasional (DPN) dan Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK)

Judul “Cum Corde: Pendidikan Holistik Menuju Organic Society” mengandung pesan yang sangat kuat tentang perlunya membangun kembali peradaban manusia dengan hati, kesadaran, dan relasi yang utuh.

Frasa Cum Corde (“dengan hati”) menegaskan bahwa pendidikan sejati tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga menumbuhkan kasih, empati, spiritualitas, dan tanggung jawab moral.

Pendidikan holistik dipahami sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya,pikiran, hati, tubuh, jiwa, dan relasi sosial, agar manusia tidak terjebak dalam budaya mekanistis yang hanya mengejar produktivitas, teknologi, dan keuntungan ekonomi semata.

Sementara itu, gagasan Organic Society menghadirkan visi masyarakat yang hidup dalam harmoni, solidaritas, dan keseimbangan dengan sesama serta alam ciptaan.

Dalam konteks sekolah dan kampus Katolik, judul ini menjadi seruan profetis untuk melahirkan generasi yang mampu mengintegrasikan iman, ilmu pengetahuan, budaya,  kehidupan dan kepedulian sosial ekologis yang berakar pada Laudato Si demi masa depan yang lebih manusiawi dan ekologis secara integral.

Pendidikan tidak lagi hanya menghasilkan tenaga kerja, tetapi membentuk pribadi yang mampu membangun persaudaraan, keadilan sosial ekologis, dan peradaban cinta (civilization of love) kasih sesuai dengan nilai Injil dan Pancasila.

Dengan demikian, judul “Cum Corde: Pendidikan Holistik Menuju Organic Society” memperoleh makna yang semakin mendalam, relevan dan akutal dalam konteks pengukuhan Mgr. Maximus Regus sebagai Guru Besar di bidang Sosiologi Agama, karena melalui refleksi akademik dan pastoralnya beliau menegaskan bahwa pendidikan harus menjadi kekuatan transformasi sosial yang memanusiakan.

Sebagai sosiolog agama sekaligus uskup, Mgr. Maximus Regus memperlihatkan bahwa agama, pendidikan, dan budaya memiliki peran penting dalam membangun organic society, yakni masyarakat yang hidup dalam solidaritas, dialog, keadilan sosial, dan harmoni ekologis.

Pengukuhan beliau bukan hanya penghargaan akademik, melainkan tanda bahwa sekolah dan kampus Katolik dipanggil untuk melahirkan generasi yang tidak terjebak dalam budaya individualisme dan mekanisasi modern, tetapi bertumbuh dengan hati (cum corde), dengan kesadaran spiritual, kepedulian sosial, dan komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan, Injil, dan Pancasila.

Amin. Semoga pengukuhan Mgr. Maximus Regus sebagai Guru Besar menjadi berkat bagi Gereja, dunia akademik, dan masyarakat, serta menghadirkan pendidikan Katolik yang semakin holistik, humanis, dan transformatif.

Kiranya semangat Cum Corde terus menyalakan harapan akan lahirnya organic society yang berakar pada iman, ilmu, kasih, dan persaudaraan demi kemuliaan Allah dan kesejahteraan bersama.

Pendidikan Holistik

Pendidikan holistik adalah pendekatan pendidikan yang mengembangkan manusia secara utuh dengan memadukan aspek intelektual, emosional, sosial, moral, spiritual, dan ekologis agar peserta didik bertumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, berbelarasa, dan bertanggung jawab terhadap sesama serta lingkungan.

Dalam semangat Cum Corde “dengan hati”, pendidikan holistik, humanis, dan ekologis dipahami sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya yang tidak hanya menajamkan kecerdasan intelektual, tetapi juga menumbuhkan kedalaman spiritual, kepekaan sosial, dan tanggung jawab terhadap alam ciptaan.

Pendidikan holistik membangun keseimbangan antara akal budi, hati nurani, karakter, dan relasi sosial; pendidikan humanis menempatkan martabat manusia sebagai pusat seluruh proses pembelajaran; sedangkan pendidikan ekologis menanamkan kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari rumah bersama yang harus dirawat dengan kasih dan tanggung jawab.

Dalam konteks Cum Corde, sekolah dan kampus Katolik dipanggil menjadi komunitas pembelajaran yang menghadirkan budaya dialog, solidaritas, kesederhanaan hidup, dan kepedulian ekologis, sehingga lahir generasi yang cerdas, berbelarasa, dan mampu membangun masyarakat yang lebih adil, damai, dan berkelanjutan sesuai dengan nilai Injil dan Pancasila.

Frasa Cum Corde Admiratione Pleno

Frasa Cum Corde Admiratione Pleno— yang dapat dimaknai sebagai “dengan hati yang penuh kekaguman”—menjadi ungkapan yang layak disematkan kepada Mgr. Maximus Regus atas dedikasi dan pengabdiannya yang menyatukan iman, intelektualitas, dan kemanusiaan.

Dalam diri beliau, Gereja dan dunia akademik menemukan sosok gembala yang tidak hanya melayani altar, tetapi juga membangun peradaban melalui pendidikan yang membebaskan dan memanusiakan.

Pengukuhan beliau sebagai Guru Besar di Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng menjadi simbol penghormatan atas perjalanan intelektual yang berpihak pada dialog, multikulturalisme, dan martabat manusia.

Makna terdalam dari frasa tersebut semakin tampak dalam visi holistic education yang diperjuangkan Mgr. Max Regus.

Pendidikan tidak dipandang semata-mata sebagai transfer ilmu pengetahuan, melainkan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya: akal budi, hati nurani, spiritualitas, karakter, dan kepedulian sosial.

Sebagai sosiolog agama sekaligus uskup pertama Keuskupan Labuan Bajo, beliau menghadirkan paradigma pendidikan yang menempatkan manusia sebagai pusat transformasi sosial dan ekologis.

Dalam konteks Manggarai dan Nusa Tenggara Timur, pendekatan ini menjadi sangat relevan karena pendidikan diarahkan untuk melahirkan generasi yang cerdas, berbelarasa, menghargai keberagaman, serta mampu merawat harmoni antara budaya lokal, iman, dan kemajuan zaman.

Oleh karena itu, penyematan ungkapan Cum Corde Admiratione Pleno kepada Mgr. Max Regus bukan sekadar penghargaan simbolik, melainkan pengakuan moral dan spiritual atas keteladanan hidupnya.

Ia hadir sebagai figur yang menghubungkan dunia Gereja, pendidikan, dan masyarakat dalam satu napas pelayanan yang transformatif.

Pengukuhan beliau sebagai profesor menegaskan bahwa panggilan intelektual dan panggilan pastoral dapat berjalan seiring demi membangun kemanusiaan yang lebih bermartabat.

Dalam dirinya, masyarakat Flores dan Gereja Indonesia melihat sosok pemimpin visioner yang menghidupi pendidikan holistik sebagai jalan menuju keadaban, persaudaraan, dan harapan baru bagi generasi masa depan.

Evolusi frasa Cum Corde Admiratione Pleno

Frasa Cum Corde Admiratione Pleno, “dengan hati yang penuh kekaguman”—memiliki akar spiritual yang sangat dekat dengan tradisi Kitab Suci.

Dalam Alkitab, kekaguman bukan sekadar emosi, melainkan sikap batin manusia yang terbuka terhadap karya Allah dalam sejarah dan kehidupan.

Para nabi, para murid, dan orang-orang sederhana dalam Injil sering mengalami rasa takjub ketika menyaksikan belas kasih, kebijaksanaan, dan tindakan pembebasan Allah.

Sikap hati yang penuh kekaguman itu tampak misalnya dalam seruan Pemazmur yang memuliakan keagungan ciptaan, serta dalam pengalaman para murid yang takjub atas pengajaran dan mukjizat Kristus.

Dengan demikian, Cum Corde Admiratione Pleno berkembang sebagai spiritualitas kontemplatif yang memandang dunia, manusia, dan pendidikan sebagai ruang perjumpaan dengan rahmat Allah yang hidup.

Dalam Tradisi Magisterium Gereja, perkembangan makna frasa ini semakin diperdalam melalui refleksi para Paus dan konsili-konsili Gereja tentang martabat manusia dan pentingnya pendidikan integral.

Paus Leo XIV dalam pastoralnya mengenai masa depan Gereja menegaskan bahwa pendidikan Katolik harus membentuk manusia yang mampu berpikir kritis sekaligus memiliki hati yang penuh belas kasih dan kekaguman terhadap sesama serta ciptaan.

Semangat ini sejalan dengan warisan Pope Francis dalam Laudato Si’ dan Fratelli Tutti, yang menekankan budaya perjumpaan, dialog, dan ekologi integral.

Dalam perspektif tersebut, Cum Corde Admiratione Pleno tidak lagi dipahami hanya sebagai ungkapan devosional, tetapi sebagai paradigma pendidikan Gereja yang menumbuhkan rasa hormat mendalam terhadap kehidupan, ilmu pengetahuan, budaya, dan keberagaman manusia.

Ajaran Sosial Gereja kemudian memperluas evolusi frasa ini ke dalam ranah tanggung jawab sosial dan transformasi peradaban.

Pendidikan Katolik dipanggil untuk melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran moral, solidaritas sosial, dan komitmen terhadap keadilan.

Sekolah dan kampus Katolik masa depan dipandang sebagai komunitas pembelajaran yang memadukan iman, ilmu, dan aksi sosial.

Dalam kerangka ini, hati yang penuh kekaguman berarti hati yang mampu melihat wajah Kristus dalam kaum miskin, kaum tersingkir, dan mereka yang menderita akibat krisis ekologis maupun ketimpangan sosial.

Pendidikan menjadi sarana untuk membangun peradaban kasih yang memperjuangkan martabat manusia dan kesejahteraan bersama.

Dalam pastoral Pope Leo XIV, orientasi pendidikan Katolik masa depan juga diarahkan pada pengembangan budaya dialog antara iman dan teknologi. Dunia yang ditandai oleh kecerdasan buatan, transformasi digital, dan globalisasi membutuhkan lembaga pendidikan yang tidak kehilangan dimensi kemanusiaannya.

Oleh sebab itu, Cum Corde Admiratione Pleno menjadi dasar spiritual untuk membangun ekosistem pendidikan yang tetap mengutamakan relasi personal, empati, refleksi etis, dan kebijaksanaan.

Sekolah dan universitas Katolik dipanggil menjadi tempat di mana ilmu pengetahuan berkembang bersama spiritualitas, sehingga teknologi tidak mengasingkan manusia dari nilai-nilai kasih, solidaritas, dan penghormatan terhadap ciptaan.

Evolusi frasa Cum Corde Admiratione Pleno dalam Kitab Suci, Magisterium Gereja, dan Ajaran Sosial Gereja menunjukkan bahwa kekaguman adalah energi rohani yang membentuk visi pendidikan Katolik yang profetis dan transformatif.

Sekolah dan kampus Katolik masa depan tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang kompeten, tetapi juga pribadi-pribadi yang memiliki kedalaman spiritual, integritas moral, dan keberanian untuk merawat dunia bersama.

Dengan hati yang penuh kekaguman terhadap Allah, manusia, dan alam semesta, pendidikan Katolik akan terus menjadi terang peradaban yang menghadirkan harapan, perdamaian, dan kemanusiaan yang utuh di tengah perubahan zaman.

Perjalanan Manusia: Dari Machine Society ke Organic Society

Frasa Cum Corde Admiratione Pleno juga dapat dimaknai sebagai seruan profetis untuk bergerak dari machine society menuju organic society, yakni dari masyarakat yang mekanistis, individualistis, dan berpusat pada efisiensi semata menuju masyarakat yang lebih manusiawi, relasional, dan berakar pada nilai kehidupan bersama.

Dalam konteks Keuskupan Labuan Bajo, transformasi ini menjadi sangat penting di tengah arus globalisasi, pariwisata, digitalisasi, dan perkembangan teknologi yang sering kali menempatkan manusia hanya sebagai bagian dari sistem produksi dan konsumsi.

Melalui pendidikan di sekolah dan kampus Katolik, Gereja dipanggil membangun budaya yang memandang manusia bukan sebagai “mesin ekonomi”, melainkan pribadi yang bermartabat, memiliki spiritualitas, budaya, dan tanggung jawab sosial.

Dengan hati yang penuh kekaguman terhadap kehidupan, pendidikan Katolik di Labuan Bajo dapat menjadi ruang pembentukan generasi yang mengutamakan relasi, solidaritas, dan keseimbangan antara kemajuan dan kemanusiaan.

Perjalanan dari machine society menuju organic society juga selaras dengan kelima sila Pancasila.

Sila pertama menegaskan bahwa pendidikan harus berakar pada kesadaran spiritual dan penghormatan kepada Tuhan, bukan sekadar pencapaian teknologis.

Sila kedua dan kelima mengingatkan pentingnya membangun keadilan sosial dan penghargaan terhadap martabat manusia di tengah perubahan ekonomi dan digital.

Sila ketiga memperkuat semangat persaudaraan lintas budaya dan agama yang sangat relevan dalam konteks masyarakat Flores yang kaya tradisi dan keberagaman.

Sedangkan sila keempat menuntun sekolah dan kampus Katolik untuk membangun budaya dialog, musyawarah, dan partisipasi dalam pengambilan keputusan.

Dengan demikian, frasa Cum Corde Admiratione Pleno menjadi inspirasi untuk menghadirkan pendidikan yang tidak terjebak dalam budaya kompetisi tanpa jiwa, tetapi membangun komunitas belajar yang hidup, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan bersama.

Dalam konteks pastoral Keuskupan Labuan Bajo, sekolah dan kampus Katolik dapat menjadi pusat lahirnya organic society melalui integrasi iman, budaya lokal, ekologi integral, dan teknologi yang beretika.

Pendidikan diarahkan bukan hanya untuk menghasilkan tenaga kerja, tetapi juga pemimpin masa depan yang memiliki empati sosial, kesadaran ekologis, dan komitmen terhadap perdamaian.

Semangat Cum Corde Admiratione Pleno mengajarkan bahwa kekaguman terhadap manusia dan ciptaan Allah harus melahirkan tanggung jawab untuk merawat sesama dan lingkungan hidup.

Oleh karena itu, sekolah dan universitas Katolik di Labuan Bajo dipanggil menjadi laboratorium peradaban baru yang menanamkan nilai-nilai Pancasila, spiritualitas ekologis, dan persaudaraan universal demi terciptanya masyarakat yang lebih adil, harmonis, dan berkelanjutan.

Intellectual Humility

Mgr. Maximus Regus sebagai Guru Besar menghadirkan sosok pemimpin yang memadukan dimensi profetis dan profesional secara harmonis dalam pelayanan Gereja dan dunia akademik.

Sebagai figur profetis, beliau tidak hanya membaca tanda-tanda zaman, tetapi juga berani menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dialog, dan ekologi integral di tengah perubahan masyarakat modern.

Sementara itu, profesionalitas beliau tampak dalam dedikasi intelektual, kedalaman refleksi ilmiah, dan komitmennya membangun pendidikan yang bermutu serta relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Dalam dirinya, ilmu pengetahuan tidak dipisahkan dari iman dan pastoral, melainkan menjadi jalan pelayanan untuk memuliakan Allah melalui pemberdayaan manusia dan transformasi sosial.

Sebagai gembala intelektual organik, Mgr. Maximus Regus memperlihatkan bahwa kepemimpinan akademik dan pastoral sejati lahir dari kesederhanaan dan kedekatan dengan umat.

Beliau tidak membangun jarak antara ruang kuliah dan kehidupan masyarakat, tetapi menghadirkan pendidikan yang berakar pada realitas budaya, penderitaan rakyat kecil, dan dinamika sosial Flores serta Indonesia.

Spiritualitas organik itu tampak dalam cara beliau merangkul keberagaman, mendengarkan suara masyarakat, dan membangun relasi yang dialogis antara Gereja, kampus, dan komunitas lokal.

Kesederhanaan dan kerendahan hati menjadi kekuatan moral yang membuat kepemimpinannya tidak elitis, melainkan membumi dan penuh belas kasih.

Lebih dari itu, pengukuhan beliau sebagai Guru Besar memperlihatkan pentingnya intellectual humility atau kerendahan hati intelektual, yakni kesadaran bahwa ilmu pengetahuan harus selalu terbuka pada dialog, pembelajaran, dan kebijaksanaan hidup.

Mgr. Maximus Regus menunjukkan bahwa kecerdasan sejati bukanlah sikap merasa paling tahu, melainkan kemampuan untuk terus belajar dari manusia lain, budaya lokal, pengalaman umat, dan terang Injil.

Dalam konteks ini, beliau menjadi teladan bahwa seorang akademisi Katolik dipanggil bukan hanya untuk menjadi cerdas, tetapi juga bijaksana, rendah hati, dan mampu melayani.

Profisiat untuk Mgr. Maximus Regus, semoga karya dan pengabdiannya terus menjadi inspirasi bagi Gereja lokal dam universal, dunia pendidikan, dan lahirnya generasi yang beriman, humanis, dan berkeadaban cinta persaudaraan semesta.

Tindakan Nyata

Sebagai uskup sekaligus Guru Besar, Mgr. Max Regus dapat menghadirkan tindakan nyata dengan menjadikan Keuskupan Labuan Bajo dan Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng sebagai pusat pengembangan pendidikan holistik yang menyatukan iman, ilmu pengetahuan, budaya, dan pelayanan sosial.

Dalam konteks ini, beliau dapat mendorong lahirnya kurikulum berbasis ekologi integral, kecerdasan sosial-emosional, dan spiritualitas kemanusiaan yang relevan dengan tantangan masyarakat Flores dan dunia modern.

Sekolah-sekolah Katolik di bawah naungan keuskupan dapat diarahkan menjadi komunitas pembelajaran yang menumbuhkan karakter, kepedulian ekologis, kemampuan berpikir kritis, dan semangat solidaritas.

Sementara di lingkungan universitas, beliau dapat memperkuat budaya riset dan pengabdian masyarakat yang berpihak pada kaum kecil, pelestarian budaya lokal, serta pembangunan masyarakat pesisir dan pariwisata berkelanjutan di Labuan Bajo.

Sebagai Guru Besar, tindakan nyata lainnya adalah membangun sinergi antara Gereja, kampus, pemerintah, dan masyarakat adat dalam menjawab persoalan sosial yang konkret.

Mgr. Max Regus dapat menginisiasi pusat studi tentang dialog antarbudaya, perdamaian, kemiskinan, perdagangan manusia, dan ekologi integral yang melibatkan mahasiswa, dosen, imam, biarawan-biarawati, serta komunitas lokal.

Dalam pastoral keuskupan, beliau juga dapat memperkuat pendidikan kader muda Katolik melalui pelatihan kepemimpinan etis, literasi digital, kewirausahaan sosial, dan gerakan cinta lingkungan hidup.

Dengan demikian, kehadiran beliau sebagai uskup dan akademisi tidak berhenti pada simbol kehormatan, tetapi sungguh menjadi motor transformasi sosial yang menghubungkan dunia intelektual dengan kebutuhan nyata umat dan masyarakat.

Di lingkungan Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, tindakan nyata itu dapat diwujudkan melalui pengembangan kampus sebagai “rumah bersama” yang inklusif, dialogis, dan transformatif.

Beliau dapat mendorong lahirnya tradisi akademik yang tidak hanya mengejar prestasi intelektual, tetapi juga membangun spiritualitas pelayanan dan kepekaan sosial mahasiswa.

Program-program seperti kuliah pengabdian masyarakat berbasis desa, laboratorium ekopedagogi, gerakan kampus hijau, dan forum dialog lintas agama dapat menjadi model pendidikan Katolik masa depan di Flores.

Dengan semangat Cum Corde Admiratione Pleno, Mgr. Max Regus dapat menunjukkan bahwa seorang uskup dan profesor bukan hanya pengajar atau pemimpin administratif, melainkan gembala intelektual yang membimbing generasi muda untuk membangun masyarakat yang beradab, berbelarasa, dan berakar pada nilai-nilai Injil serta Pancasila.

Dr. Maksimus Regus Maksimus Regus Max Regus Pater Vinsensius Darmin Mbula Vinsensius Darmin Mbula
Previous ArticleAgama di Era Post-Antroposen: Alarm dari Kota Ruteng
Next Article Dua Bakal Cakades di Wae Ri’i Urus SKCK, Janji Bangun Desa Secara Transparan

Related Posts

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Lagu MBG: Ketika Rakyat Berbicara lewat Nada

2 Juni 2026

Pancasila Sebagai Identitas Nasional: Menjaga Jiwa Indonesia di Tengah Arus Zaman

1 Juni 2026
Terkini

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Kejari Manggarai Barat Pulihkan Kerugian Negara Rp2,09 Miliar dari Dua Kasus Korupsi

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.