Labuan Bajo, VoxNTT.com – Tokoh muda Manggarai Barat, Christo Mario Y. Pranda, mengirimkan surat terbuka kepada Mgr. Maksimus Regus terkait dampak sosial dari kebijakan mutasi pegawai di Kabupaten Manggarai Barat.
Dalam surat yang diterima VoxNtt.com pada Jumat, 22 Mei 2026, Mario menyampaikan kegelisahan dan kerinduannya terhadap kondisi sosial masyarakat yang dinilainya terdampak akibat proses mutasi pegawai dalam satu setengah tahun terakhir.
“Melalui surat ini, izinkan saya menyampaikan Kerinduan serta kegelisahan hati yang mendalam mengenai situasi sosial kemasyarakatan di wilayah kita,” tulis Mario dalam surat tersebut.
Mario menilai kondisi Manggarai Barat tampak tenang di permukaan. Namun, menurut dia, banyak keluarga mengalami tekanan sosial akibat kebijakan administratif yang memisahkan anggota keluarga.
“Situasi Manggarai Barat yang kita lihat saat ini di permukaan, memang tampak tenang, datar dan cenderung baik-baik saja. Namun di balik ketenangan semu tersebut terdapat jeritan dan air mata tersembunyi dari sekian banyak keluarga yang sedang mengalami keretakan pondasi sosial akibat kebijakan administratif,” ujarnya.
Karena itu, Mario meminta Uskup Labuan Bajo turut merespons kebijakan mutasi pegawai yang dinilai berdampak terhadap keutuhan keluarga. Ia menyebut respons Gereja penting karena persoalan tersebut berkaitan dengan nilai-nilai luhur keluarga dalam ajaran Gereja Katolik.
“Oleh karena itu yang Mulia Bapa Uskup, izinkan saya memohon dengan hati yang tulus sebagai bagian dari kawanan domba yang Bapa gembalakan. Saya memohon agar Gereja selaku tiang kebenaran dan keadilan dapat mengambil sikap serta merespons proses mutasi pegawai yang terjadi di satu setengah tahun terakhir ini,” kata Mario.
“Kebijakan mutasi tersebut dalam pelaksanaannya sungguh bertentangan dengan sifat-sifat luhur serta hukum gereja kanonik yang menjunjung tinggi kesucian, keutuhan, dan persatuan lembaga perkawinan, serta keluarga,” lanjut Mario.
Mario mengungkapkan, dampak mutasi pegawai menyebabkan banyak keluarga harus hidup terpisah. Menurut dia, kondisi tersebut memengaruhi hubungan suami-istri maupun relasi orang tua dan anak.
“Kenyataan ini sungguh miris dan mencederai esensi dasar dari sebuah keluarga Katolik yang utuh,” ungkap Mario.
Ia juga meminta Gereja Katolik menyampaikan sikap pastoral secara resmi kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat agar kebijakan publik tetap memperhatikan aspek kemanusiaan dan keutuhan keluarga.
“Mengingat dampak sosial dan spiritual yang begitu besar, Mario sangat memohon agar Gereja Katolik secara resmi dapat menyampaikan sikap pastoral yang tegas kepada pemerintah daerah Kabupaten Manggarai Barat.”
“Suara gereja adalah suara kenabian yang sangat dinantikan untuk mengingatkan para pembuat kebijakan agar senantiasa memperhatikan aspek kemanusiaan dan keutuhan keluarga di atas kepentingan regulasi semata,” kata Mario.
Di akhir surat terbukanya, Mario menyampaikan apresiasi atas perhatian dan kepedulian pastoral Uskup Labuan Bajo terhadap persoalan yang ia sampaikan.
“Demikian permohonan dan penyampaian ini saya haturkan dengan segala kerendahan hati. Atas perhatian, doa, dan kepedulian pastoral dari yang Mulia Bapa Uskup, saya ucapkan lipat terima kasih,” tutup Mario dalam surat terbukanya.
Penulis: Sello Jome

