Oleh: Julyo Kusumah
Alumni Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan bajo
Mendapatkan apresiasi dari pemerintah maupun masyarakat luas tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi sebuah daerah. Apresiasi itu dapat hadir dalam berbagai bentuk, termasuk melalui sebuah julukan yang melekat pada identitas wilayah. Hal itulah yang dialami Desa Wae Lolos, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, yang dikenal dengan julukan “Desa Seribu Air Terjun”.
Desa Wae Lolos merupakan hasil pemekaran dari Desa Cunca Lolos pada tahun 1997. Desa ini memiliki kekayaan alam, budaya, dan potensi pariwisata yang luar biasa. Terdapat empat kampung besar di wilayah ini, yakni Langgo sebagai ibu kota desa, Rangat, Tembel, dan Ndengo. Keindahan alam yang dimiliki menjadikan julukan “Desa Seribu Air Terjun” terdengar begitu indah, romantis, dan mampu menghadirkan kesan tentang wilayah yang sejuk serta kaya akan pesona alam.
Namun di balik julukan yang manis tersebut, tersimpan persoalan yang patut menjadi perhatian bersama, yakni ketimpangan pembangunan infrastruktur. Julukan besar terkadang membuat banyak orang terlena, seolah-olah seluruh aspek kehidupan masyarakat di desa telah berkembang dengan baik. Padahal, realitas di lapangan menunjukkan masih adanya ketimpangan yang cukup nyata, terutama pada sektor jalan dan listrik.
Ketimpangan itu dapat dilihat di Kampung Rangat dan Tembel. Ironisnya, kedua kampung ini berada di tengah wilayah desa dan diapit oleh Kampung Langgo serta Ndengo yang relatif lebih maju dari sisi infrastruktur. Kampung Langgo misalnya, telah memiliki jalan beraspal hotmix dan masuk dalam program elektrifikasi PLN tahun 2023–2025. Sementara Kampung Ndengo juga telah menikmati akses listrik dan kondisi jalan yang cukup baik.
Berbeda dengan itu, Kampung Rangat dan Tembel justru masih tertinggal. Hingga kini, masyarakat di dua kampung tersebut belum menikmati akses listrik yang memadai dan kondisi jalan pun masih memprihatinkan. Situasi ini tentu menjadi ironi bagi sebuah desa yang dikenal sebagai destinasi wisata unggulan.
Kondisi paling memprihatinkan terlihat di SD Negeri Rangat. Sekolah dasar yang berada di Kampung Rangat itu masih beroperasi tanpa dukungan listrik yang layak. Di tengah perkembangan teknologi dan pesatnya pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia pendidikan, para siswa di sekolah tersebut bahkan belum memiliki akses dasar untuk mengenal teknologi secara memadai. Keterbatasan listrik bukan hanya persoalan fasilitas, tetapi juga menyangkut masa depan generasi muda desa.
Sayangnya, hingga saat ini belum terlihat langkah konkret yang serius dari pemerintah desa untuk menjawab persoalan tersebut. Padahal, pembangunan infrastruktur dasar merupakan kebutuhan mendesak yang sangat berkaitan dengan kualitas hidup masyarakat.
Karena itu, keberhasilan sebuah desa memperoleh julukan yang indah semestinya diikuti dengan pemerataan pembangunan yang nyata. Julukan “Desa Seribu Air Terjun” jangan sampai hanya menjadi simbol yang menutupi ketimpangan infrastruktur di dalamnya.
Pemerintah desa dan pemerintah daerah perlu membangun kerja sama yang lebih serius dalam mengembangkan Desa Wae Lolos. Potensi pariwisata yang dimiliki desa ini sangat besar dan dapat memberikan kontribusi ekonomi bagi masyarakat maupun daerah Manggarai Barat. Oleh sebab itu, pembangunan tidak boleh hanya berfokus pada promosi wisata, tetapi juga harus menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Dinas-dinas terkait juga diharapkan mampu bersinergi dalam mendukung pembangunan desa secara berkelanjutan. Dinas Pariwisata dinilai telah bekerja cukup baik dalam memperkenalkan potensi wisata Desa Wae Lolos. Kini, dukungan dari sektor lain seperti infrastruktur dan energi menjadi hal yang sangat penting.
Pada akhirnya, fokus pembangunan yang paling mendesak saat ini adalah perbaikan jalan dan penyediaan listrik. Dua aspek tersebut merupakan kebutuhan dasar masyarakat sekaligus penunjang utama bagi perkembangan pariwisata desa. Sebab, pariwisata yang maju seharusnya berjalan seiring dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang hidup di dalamnya.

