Oleh: Monika Ngemol
Mahasiswa semester II Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Unika Santo Paulus Ruteng
Perkembangan teknologi dan kemudahan akses internet telah mengubah pola hidup mahasiswa, termasuk dalam hal memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bagi mahasiswa Unika Santu Paulus Ruteng, belanja online kini menjadi hal yang sangat umum dan praktis. Tanpa perlu keluar kosan atau meninggalkan lingkungan kampus, berbagai barang mulai dari perlengkapan belajar, pakaian, hingga makanan dapat dipesan hanya dengan satu kali sentuhan jari melalui gawai.
Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul masalah baru yang mulai mengkhawatirkan: kecanduan belanja online yang perlahan menjadi kebiasaan buruk dan merugikan banyak pihak.
Banyak mahasiswa memulai belanja online dengan niat yang wajar, yaitu membeli barang yang memang dibutuhkan. Namun, tawaran diskon besar-besaran, promosi pengiriman gratis, hingga tampilan produk yang menarik sering kali memancing keinginan untuk membeli barang yang sebenarnya tidak diperlukan.
Fenomena ini sangat terasa di kalangan mahasiswa yang hidup jauh dari orang tua dan mengatur keuangan sendiri. Terkadang, rasa bosan, stres karena tugas kuliah, atau sekadar ingin mengisi waktu luang dijadikan alasan untuk membuka aplikasi belanja.
Awalnya hanya melihat-lihat, namun berakhir dengan transaksi pembelian yang tidak direncanakan.
Hal inilah yang menjadi gerbang awal terjadinya kecanduan, di mana belanja bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan, melainkan sebagai sarana pelarian emosional.
Dampak paling nyata dari kebiasaan ini adalah masalah keuangan. Sebagian besar mahasiswa Unika Santu Paulus Ruteng hidup dengan mengandalkan uang kiriman dari orang tua yang jumlahnya terbatas dan harus cukup untuk satu bulan.
Ketika kecanduan belanja online terjadi, alokasi dana yang seharusnya digunakan untuk makan, biaya buku, atau keperluan akademik lainnya justru tersedot habis untuk membeli barang-barang yang kurang penting.
Akibatnya, banyak mahasiswa yang mengalami kekurangan uang di pertengahan bulan, terpaksa berhemat secara berlebihan, bahkan ada yang harus berhutang kepada teman.
Situasi ini tentu membebani diri sendiri maupun orang tua, dan mengurangi fokus mahasiswa dalam menjalani studi.
Selain masalah keuangan, kecanduan belanja online juga berdampak pada pola pikir dan gaya hidup. Mahasiswa yang terjebak dalam kebiasaan ini cenderung lebih mengutamakan kepemilikan barang materi dan terjebak dalam gaya hidup konsumtif.
Mereka sering kali membandingkan diri dengan orang lain, merasa kurang percaya diri jika tidak memiliki barang terbaru, atau merasa bahagia hanya sesaat saat paket barang tiba, namun diikuti rasa penyesalan setelah menyadari pengeluaran yang membengkak.
Oleh karena itu, kecanduan belanja online di kalangan mahasiswa Unika Santu Paulus Ruteng tidak boleh dianggap remeh. Hal ini bukan sekadar gaya hidup, melainkan masalah yang dapat mengganggu prestasi akademik dan pembentukan karakter.
Diperlukan kesadaran diri dari setiap mahasiswa untuk mulai membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta berani menahan diri dari godaan promosi yang tidak perlu.
Kampus dan organisasi mahasiswa juga diharapkan dapat memberikan edukasi mengenai literasi keuangan dan pola hidup sederhana agar mahasiswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijak dalam mengelola kehidupan pribadi.
Belanja boleh saja dilakukan, asalkan tetap dalam batas kewajaran dan tanggung jawab, supaya masa kuliah menjadi waktu yang bermanfaat dan penuh makna.

