(Selasa MB X, 9 Juni 2026, Tahun A; 1 Raj 17:7-16; Mzm 4: 2-3.4-5.7-8;R.7a; Mat 5:13-16)
Dimensi ekologis bacaan hari ini adalah sungai, hujan, kayu, api, wilayah, kota, nama kota dan wilayah (Sarfat dan Sidon), tepung, minyak, garam, pelita, terang. Kekurangan kita selalu berkaitan dengan alam dan benda-benda dari alam. Sikap ekologis: merawat alam sangat urgen. Agar sungai tetap mengalir, tepung dan minyak selalu ada, garam tetap memberi rasa, pelita tetap terang.
Oleh: Rm. Inosensius Sutam
1
Tuhan yang Memberi dan Membimbing
Ada tiga kekurangan utama manusia: materi, cara bersikap terhadap materi, tujuan akhir dari materi dan sikap terhadapnya. Ini yang menjadi pesan bacaan hari ini.
2
Kekurangan Materi: Tuhan memberi
Dalam bacaan pertama, Nabi Elia disuruhTuhan ke Sarfat, di wilayah Sidon. Ia bertemu dengan seorang janda yang lagi cari kayu api. (a) Nabi Elia dan janda Sarfat berada dalam situasi kurang: sungai Kerit kering, hujan tidak turun, tepung dan minyak kurang. Janda adalah juga gambaran kekurangan. (b) Ada ancaman kematian. (c) Jaminan dalam kekurangan adalah Tuhan: (i) Ia yang menyuruh Elia untuk pergi; (ii) Dia yang menyertai Elia dan kata-katanya sehingga perempuang janda melaksanakannya; (iii) Dia yang mengadakan tepung dan minyak ada terus; (iv) Dia menjanjikan hujan akan turun.
3
Dalam perspektif filosofis, kekurangan yang dialami oleh Elia dan sang janda bersifat ontologis atau eksistensial. Karena materinya tidak ada: tepung dan minyak tidak ada. Situasi dan kondisinya tidak mendukung: hujan tidak ada, gandum tidak tumbuh dan pohon zaitun tidak berbuah atau kering.
4
Kekurangan Cara: Tuhan membimbing
Dalam bacaan Injil, Yesus membuat metafor bagi para pengikutNya yang digambarkan sebagai garam dan terang. (a) Yesus menasihati agar memberi dan mempertahankan sifat dan karakter utama dari garam, yaitu memberi rasa dan menghilangkan tawar. (b) Dia mengingatkan untuk memperlakukan pelita pada tempat yang tepat dan benar agar ia memberi terang.
5
(c) Di sini kekurangannya bukan lagi bersifat material atau eksistensial (ontologis). Tetapi pada cara berada dan cara memperlakukan, cara bertindak benar atau tidak. Dalam filsafat, ini kekurangan bersifat epistemologis dan metodologis. (d) Karena itu Yesus menekankan untuk selalu mengetahui tujuan segala sesuatu (aksiologis). Tujuan akhir setiap tindakan kita adalah kemuliaan Bapa: orang memuliakan Bapa. Bertindaklah sesuai dengan tujuan itu.
6
Identifikasi Kekurangan, Mendengar Tuhan, dan Melaksanakan
Pesan bacaan hari ini untuk kita.
Pertama, kenali kekurangan Anda dan cari solusi sesuai dengan masalahnya. Manusia selalu berada dalam situasi kurang: kurang materi (minyak dan tepung), kurang dalam pengetahuan dan sikap terhadap materi (garam tawar dan pelita di bawah gantang), dan kurang tahu arah dan tujuan akhir materi dan sikap terhadapnya (mengenyangkan, memberi rasa, menerangkan dan memuliakan Bapa).
7
Kedua, Tuhan menjadi jaminan pemenuhan kekurangan kita. Tapi tidak dalam kesendirian. Namun dalam perjumpaan dengan yang lain seperti Nabi Elia yang menjumpai janda miskin. Dan janda miskin yang memberi dari kekurangan. Seperti garam dan pelita yang memberi rasa dan terang. Tepung, minyak, garam, dan pelita bermanfaat dan berharga ketika keluar dari dirinya. Dikonsumsi oleh yang lain dan menghidupkan mereka. Lalu mereka memuliakan Bapa, dan bukan memuliakan materi itu dan diri Anda. Bagian Anda adalah perbuatanmu dilihat orang, dan bukan memuliakanmu.
8
Ketiga, dimensi ekologis bacaan hari ini adalah sungai, hujan, kayu, api, wilayah, kota, nama kota dan wilayah (Sarfat dan Sidon), tepung, minyak, garam, pelita, terang. Kekurangan kita selalu berkaitan dengan alam dan benda-benda dari alam. Sikap ekologis: merawat alam sangat urgen. Agar sungai tetap mengalir, tepung dan minyak selalu ada, garam tetap memberi rasa, pelita tetap terang. Cara kita memperlakukan alam adalah jalan untuk selalu memenuhi buli-buli dan dian hidup kita.

