Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Pojok Info»Empat Hari Mengungsi, Warga Waikokak Mulai Keluhkan Gangguan Kesehatan
Pojok Info

Empat Hari Mengungsi, Warga Waikokak Mulai Keluhkan Gangguan Kesehatan

By Redaksi19 Agustus 20263 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Seorang anak penyintas gempa Nagekeo terbaring lemah dalam tenda pengungsian karena sakit di Desa Waikokak, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo pada Selasa, 18 Agustus 2026 (Foto: Patrianus Meo Djawa/ VoxNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mbay, VoxNTT.com – Raungan sirene ambulans memecah keheningan di Desa Waikokak, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Selasa siang, 18 Agustus 2026.

Seorang bocah berusia empat tahun dari tenda pengungsian mendadak mengalami kejang pada hari ketiga setelah keluarganya memilih bertahan di pengungsian karena trauma terhadap gempa susulan.

Memasuki hari keempat pascagempa, sejumlah anak dan balita di tenda pengungsian mulai mengalami keluhan kesehatan, antara lain muntah, diare, alergi, dan flu.

Fatmawati Mageng, warga RT 06, Dusun 2, Desa Waikokak, mengatakan anak-anak, balita, dan sejumlah orang dewasa di lokasi pengungsian mulai mengalami gatal-gatal, flu, dan demam.

“karena kita tidurnya diudara terbuka,” ujar Fatmawati.

Kondisi pengungsian diperburuk oleh karakteristik cuaca Kabupaten Nagekeo yang pada Agustus memasuki puncak musim kemarau.

Rerumputan mengering dan tanah berdebu sehingga berpotensi memperburuk keluhan kesehatan para penyintas.

Di sisi lain, fasilitas sanitasi di lokasi pengungsian masih terbatas, termasuk ketersediaan MCK umum dan air bersih.

Untuk buang air besar, para penyintas menggunakan area semak yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi pengungsian.

“Kami kalau WC besar langsung di hutan dibelakang ini,” ujar Yohanes Je’a (62), penyintas gempa yang tinggal tak jauh dari tenda Fatmawati sembari menunjuk area semak ke arah perbukitan.

Yohanes telah tinggal selama empat hari di kamp pengungsian tersebut bersama 46 pengungsi lainnya. Mereka terdiri atas empat orang lanjut usia, penyintas yang mengalami cedera akibat tertimpa bangunan, serta anak-anak dan balita.

Selain keluhan kesehatan, kondisi lingkungan pengungsian juga menjadi persoalan. Di sejumlah tenda, lalat terlihat mengerubuti tempat pembuangan sampah, sisa makanan, serta popok bayi dan lansia yang dibuang tidak jauh dari lokasi pengungsian.

Lalat juga terlihat hinggap di wajah dan tubuh penyintas yang sedang tidur sehingga mengganggu waktu istirahat mereka.

Sejauh ini, penanganan kesehatan pengungsi oleh Pemerintah Kabupaten Nagekeo belum banyak terlihat di lokasi pengungsian.

Dalam sejumlah rilis resmi pemerintah daerah, penanganan pascabencana lebih banyak mencakup pemenuhan kebutuhan pangan, pendataan kerugian material, serta penanganan fasilitas kesehatan yang rusak akibat gempa.

Pemerintah Kabupaten Nagekeo juga mencatat jumlah korban meninggal dunia meningkat dari tiga menjadi delapan orang.

Adapun dari total 18.217 jiwa pengungsi, baru 6.221 jiwa atau sekitar 34,15 persen yang telah terlayani. Sebanyak 11.996 jiwa atau sekitar 65,85 persen lainnya belum mendapatkan pelayanan.

“Masih sisa sekian banyak yang tidak terlayani,” ujar Wakil Bupati Nagekeo, Gonzalo Gratianus Muga Sada.

Pernyataan tersebut memicu kekecewaan Fatmawati dan sejumlah penyintas gempa di Desa Waikokak. Mereka mengaku belum melihat Bupati dan Wakil Bupati Nagekeo mengunjungi posko pengungsian mereka.

“Jangankan sumbangan, muka (wajah) Bupati dan Wakil Bupati saja sampai hari ini kami tidak lihat kunjungi poskonya kami,” ujar Fatmawati

Selama berada di pengungsian, Fatmawati mengatakan kebutuhan pangan masih tercukupi berkat bantuan dari sejumlah partai politik, lembaga swadaya masyarakat, dan donatur perorangan. Namun, ia menyebut kebutuhan obat-obatan masih diperlukan.

“Alhamdulillah, makanan sudah ada tinggal obat-obatan saja,” ujarnya.

Penulis: Patrianus Meo Djawa

Desa Waikokak Gempa Bumi Kabupaten Nagekeo Kecamatan Aesesa Nagekeo
Previous ArticlePDI Perjuangan Tak Hanya Salurkan Logistik, Perhatian Kesehatan Korban Bencana Jadi Prioritas
Next Article Anggota DPRD Manggarai Salurkan Sembako untuk Warga Terdampak Gempa Flores

Related Posts

Anggota DPRD Manggarai Salurkan Sembako untuk Warga Terdampak Gempa Flores

19 Agustus 2026

PDI Perjuangan Tak Hanya Salurkan Logistik, Perhatian Kesehatan Korban Bencana Jadi Prioritas

19 Agustus 2026

Gubernur NTT: Manggarai, Manggarai Timur, dan Nagekeo Butuh Penanganan Segera

19 Agustus 2026
Terkini

Anggota DPRD Manggarai Salurkan Sembako untuk Warga Terdampak Gempa Flores

19 Agustus 2026

Empat Hari Mengungsi, Warga Waikokak Mulai Keluhkan Gangguan Kesehatan

19 Agustus 2026

PDI Perjuangan Tak Hanya Salurkan Logistik, Perhatian Kesehatan Korban Bencana Jadi Prioritas

19 Agustus 2026

Gubernur NTT: Manggarai, Manggarai Timur, dan Nagekeo Butuh Penanganan Segera

19 Agustus 2026

Penanganan Gempa NTT Diperkuat, Keselamatan Masyarakat Jadi Prioritas Utama

18 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.