Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Menyelami Meaningful Learning dalam Deep Learning
Gagasan

Menyelami Meaningful Learning dalam Deep Learning

By Redaksi24 Juni 20257 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Cici AI)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Pater Darmin Mbula, OFM

Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK)

Meaningful Learning dalam konsep Deep Learning menurut Michael Fullan merujuk pada proses pembelajaran yang mendalam, relevan, dan transformati.

Dengan demikian  para murid tidak hanya menghafal informasi, tetapi benar-benar memahami, menerapkan, dan mentransfer pengetahuan ke situasi dunia nyata.

Mikael Fullan menekankan bahwa Meaningful Learning terjadi ketika murid  terlibat secara aktif dan emosional dalam  proses pembelajaran.

Proses pembelajaran Deep Learning menurut Fullan berpusat pada pengembangan keenam kompetensi 6C (karakter, kewarganegaraan, kolaborasi, komunikasi, kreativitas, dan berpikir kritis).

Proses Deep Learning ini memotivasi  para murid  untuk aktif terlibat dalam pemecahan masalah nyata secara kolaboratif dan reflektif guna mempersiapkan mereka menjadi agen perubahan di abad ke-21.
Cinta

Dalam konsep Meaningful Learning, Michael Fullan menekankan pentingnya pengembangan karakter sebagai salah satu dari enam kompetensi global yang mendasar untuk pembelajaran yang mendalam dan transformatif.

Karakter yang diharapkan bukan hanya menyangkut kedisiplinan atau etika personal, tetapi mencakup kualitas seperti ketekunan, integritas, empati, tanggung jawab sosial, dan keberanian untuk mengambil risiko dalam proses belajar.

Fullan percaya bahwa siswa harus tumbuh menjadi individu yang tangguh, reflektif, dan mampu membuat keputusan moral yang baik dalam berbagai konteks kehidupan.

Karakter semacam ini mendukung siswa tidak hanya untuk berhasil secara akademik, tetapi juga menjadi warga yang berkontribusi secara positif dalam masyarakat yang kompleks dan terus berubah.

Cinta menjadi inti dari karakter yang diharapkan oleh Michael Fullan dalam Meaningful Learning, karena cinta melahirkan empati, kepedulian, dan dorongan untuk menciptakan perubahan positif bagi diri sendiri dan orang lain.

Dalam bukunya yang terkenal berjudul The Moral Imperative of School Leadership, Fullan menekankan bahwa kepemimpinan dan pembelajaran harus berakar pada “moral purpose” ,  sebuah panggilan untuk mencintai pekerjaan, siswa, dan kemajuan kolektif masyarakat.

Ia percaya bahwa ketika cinta menjadi dasar pembelajaran, maka sekolah akan menjadi tempat yang memanusiakan, memberdayakan, dan membentuk karakter siswa secara utuh.
Kewarganegraan

Dalam konsep meaningful learning menurut Michael Fullan, kewarganegaraan (citizenship) merupakan salah satu dari enam kompetensi global (6C) yang esensial untuk pembelajaran mendalam.

Fullan mendefinisikan kewarganegaraan sebagai kemampuan murid untuk memahami dan berkontribusi secara aktif dalam komunitas lokal, nasional, dan global dengan cara yang bertanggung jawab, etis, dan berorientasi pada solusi.

Dalam konteks ini, pembelajaran tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga menanamkan kesadaran sosial, empati, dan kepedulian terhadap isu-isu dunia nyata, seperti keadilan sosial, lingkungan, dan keberagaman.

Dengan melibatkan siswa dalam proyek-proyek yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan tantangan global, mereka dibentuk menjadi warga dunia yang sadar akan peran dan tanggung jawabnya, serta memiliki kapasitas untuk menciptakan perubahan positif.

Kolaborasi

Menurut Michael Fullan, kolaborasi merupakan inti sari dari Meaningful Learning karena melalui kerja sama yang erat antar-murid, guru, dan komunitas, pembelajaran menjadi lebih dalam, relevan, dan transformatif.

Fullan menekankan bahwa dalam pembelajaran mendalam, siswa tidak belajar secara terisolasi, tetapi berkembang dalam lingkungan yang saling terhubung, di mana mereka membangun pemahaman bersama, menyelesaikan masalah nyata secara kolektif, dan saling memberi umpan balik.

Kolaborasi juga menciptakan rasa tanggung jawab bersama dan keterlibatan emosional yang memperkuat motivasi intrinsik murid untuk belajar.

Dengan menciptakan budaya kolaboratif, sekolah menjadi tempat yang menumbuhkan rasa saling percaya, empati, dan keterampilan sosial yang penting untuk menghadapi tantangan kompleks abad ke-21.

Komunikasi

Dalam Meaningful Learning menurut Michael Fullan, komunikasi yang diharapkan di era digital adalah komunikasi yang autentik, empatik, terbuka, dan bertanggung jawab, baik dalam bentuk lisan, tulisan, maupun digital.

Fullan menekankan pentingnya kemampuan siswa untuk mengekspresikan ide secara jelas, mendengarkan secara aktif, serta berdialog dengan berbagai pihak lintas budaya dan latar belakang melalui berbagai platform digital.

Komunikasi bukan hanya soal penyampaian pesan, tetapi juga kemampuan berkolaborasi, menyampaikan gagasan yang berdampak, dan membangun hubungan sosial yang sehat di dunia maya maupun nyata.

Di era informasi yang cepat dan kompleks, komunikasi seperti ini menjadi keterampilan kunci agar murid mampu menjadi pembelajar aktif dan warga digital yang kritis serta beretika.

Kreativitas

Menurut Michael Fullan, kreativitas adalah jiwa dari meaningful learning karena mendorong siswa untuk berpikir di luar batas, menemukan solusi inovatif, dan menciptakan sesuatu yang orisinal dan berdampak.

Dalam era abad ke-21 yang ditandai oleh kompleksitas dan perubahan cepat, kreativitas menjadi keterampilan esensial untuk beradaptasi dan berkontribusi secara bermakna di masyarakat dan dunia kerja.

Fullan menekankan bahwa pembelajaran yang bermakna harus memberi ruang bagi eksplorasi ide, eksperimen, kegagalan yang produktif, dan penciptaan nilai baru.

Kreativitas tidak hanya memperkaya proses belajar, tetapi juga membentuk murid menjadi agen perubahan yang mampu memecahkan masalah nyata dengan cara yang imajinatif dan berkelanjutan.

Berpikir Kritis

Dalam konsep meaningful learning menurut Michael Fullan, berpikir kritis merupakan salah satu dari enam kompetensi global (6C) yang sangat penting, terutama dalam menghadapi era kecerdasan buatan (AI).

Fullan menekankan bahwa di tengah banjir informasi digital dan otomatisasi, siswa perlu memiliki kemampuan untuk memilah, menganalisis, dan mengevaluasi informasi secara logis dan mendalam.

Berpikir kritis memungkinkan siswa untuk tidak sekadar menerima informasi dari teknologi, tetapi mampu mempertanyakan, memverifikasi, dan menggunakannya secara bertanggung jawab.

Dalam konteks AI, ini berarti siswa harus bisa membedakan antara data yang valid dan bias algoritma, serta memahami dampak sosial dan etika dari teknologi yang mereka gunakan.

Fullan juga menekankan bahwa berpikir kritis bukan hanya kemampuan kognitif, tetapi juga bagian dari pembentukan karakter dan kewarganegaraan digital.

Murid yang mampu berpikir kritis akan lebih siap menghadapi disinformasi, propaganda digital, dan pengaruh negatif media sosial.

Oleh karena itu, Meaningful Learning harus menyediakan ruang bagi siswa untuk terlibat dalam dialog, refleksi mendalam, dan pemecahan masalah kompleks dengan pendekatan berbasis bukti.

Dalam dunia yang semakin dikendalikan oleh kecerdasan buatan, kemampuan manusia untuk berpikir secara etis, kreatif, dan kritis menjadi pembeda utama, dan hal inilah yang menjadi inti dari pembelajaran mendalam versi Fullan.

Agen Perubahan

Dalam konsep Meaningful Learning menurut Michael Fullan, para murid dipandang sebagai agen perubahan (change agents) yang aktif, bukan sekadar penerima pengetahuan pasif.

Fullan menekankan bahwa ketika murid terlibat dalam pembelajaran yang relevan, menantang, dan berakar pada kehidupan nyata, mereka akan mengembangkan kompetensi global seperti berpikir kritis, kreativitas, dan kewarganegaraan.

Melalui pendekatan Deep Learning, murid didorong untuk memecahkan masalah nyata di komunitas mereka, bekerja secara kolaboratif, dan mengambil tanggung jawab atas pembelajaran serta dampaknya terhadap lingkungan sosial mereka.

Dengan demikian, murid tidak hanya belajar untuk diri sendiri, tetapi juga untuk menciptakan perubahan positif dalam masyarakat, menjadikan pendidikan sebagai alat pemberdayaan dan transformasi sosial.

Sebelas Indikator

Michael Fullan menguraikan  sebelas indikator yang menunjukkan bahwa para murid benar-benar menghayati proses pembelajaran dan menjadi agen perubahan di abad ke-21.

Pertama: suara dan kepemilikan (voice & agency) – murid  aktif mengemukakan ide, berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, dan memimpin inisiatif belajar mereka sendiri.

Kedua: inisiatif aktivis (activism) – murid  melibatkan diri dalam isu-isu nyata (lingkungan, keadilan sosial, kebijakan lokal), serta mengambil tindakan yang berdampak nyata.

Ketiga: kolaborasi lintas garis – mereka bekerja dengan sesama murid , guru, dan komunitas, membangun jaringan pembelajaran yang kolektif dan saling mendukung.

Keempat: pemecahan masalah kompleks – murid secara aktif berurusan dengan masalah dunia nyata yang multifaset, bukan sekadar soal akademik.

Kelima: refleksi kritis dan metakognisi – mereka terus menerus mengevaluasi pemahaman dan proses belajar mereka, serta menyesuaikan strategi sesuai kebutuhan situasi.

Keenam: penggunaan teknologi cerdas – memanfaatkan alat digital untuk komunikasi, kolaborasi, research, dan sebagai media untuk menyalurkan suara di ranah global.

Ketujuh: ekspresi kreatif – murid  memberi solusi orisinal, mulai dari proyek multimedia hingga inovasi sosial, serta mampu mengekspresikan pemahaman mereka dengan cara baru.

Kedelapan: komunikasi efektif – mereka menyampaikan ide secara jelas dan persuasif melalui beragam media (presentasi, tulisan, video), serta melakukan dialog yang berempati.

Kesembilan: karakter moral dan empati – belajar dengan dasar rasa cinta dan tanggung jawab terhadap sesama dan lingkungan,  mendorong murid untuk memimpin dengan hati.

Kesepuluh: kewarganegaraan global – murid  memahami isu kemanusiaan, lintas budaya, dan bekerja untuk kebaikan bersama di level lokal maupun global.

Kesebelas: dampak nyata (impact) – kegiatan yang mereka lakukan menghasilkan hasil konkret dan/lalu menciptakan momentum perubahan di komunitas ataupun institusi.

Ketika kesebelas indikator ini terlihat dalam aktivitas belajar murid  terutama dalam lingkungan yang mendukung seperti New Pedagogies for Deep Learning maka kita dapat menyimpulkan bahwa mereka tidak sekadar belajar, tetapi benar-benar memaknai pembelajaran sebagai jalan untuk menjadi agen perubahan sejati di abad ke-21.

Pater Vinsensius Darmin Mbula Vinsensius Darmin Mbula
Previous ArticleMBN Cup I: Turnamen Voli dan Sepak Takraw Galang Dana Pembangunan Kapela Stasi Ngendeng
Next Article Kebakaran di Nagekeo Ludeskan Tiga Bangunan, Polisi Dalami Dugaan Kelalaian Penimbunan BBM

Related Posts

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026
Terkini

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.