Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Feature»Air yang Tak Mengalir, Jeritan Warga Satarloleng: “Kami Seperti Tak Punya PDAM”
Feature

Air yang Tak Mengalir, Jeritan Warga Satarloleng: “Kami Seperti Tak Punya PDAM”

By Redaksi11 Juli 20259 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Hermina Stiman ibu rumah tangga asal Satarloleng, Desa Paka, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai saat menunjukkan pipa yang airnya tak jalan, sementara sejumlan jeriken masih berjejer rapi pada Kamis, 3 Juli 2025 (Foto: Herry Mandela/ VoxNTT.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, VoxNTT.com – Senja mulai menyelimuti hamparan sawah di Kampung Satarloleng, Desa Paka, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur pada Kamis, 3 Juli 2025.

Di atas pematang sawah yang basah oleh sisa hujan, Hermina Stiman, duduk berselonjor sambil menyesap kopi panas yang diberikan pemilik ladang.

Peluh masih mengalir di pelipis wanita yang karib disapa Ibu Erni itu. Seharian penuh ia mencabut rumput di sawah milik tetangganya demi menyambung hidup. Tapi bukan hanya lelah fisik yang membebaninya.

Masalah lain yang belum juga terselesaikan adalah aliran air bersih ke rumahnya yang tak pernah lancar, meskipun ia telah menjadi pelanggan resmi PDAM Unit Satarmese selama lima tahun

“Kami menjadi pelanggan PDAM sejak tahun 2019. Selama ini air PDAM ini tidak stabil dan lancar mengalirnya. Bahkan pernah air ini tidak jalan sampai lebih dari satu bulan,” keluhnya lantang.

Sejak menjadi pelanggan, Ibu Erni lebih sering berjuang dengan galon dan jeriken daripada menikmati kemudahan air ledeng.

Untuk kebutuhan sehari-hari, ia dan dua anaknya menampung air hujan, menimba dari sungai, atau sekadar menumpang di keran tetangga kampung.

“Kalau airnya mengalir disyukuri, kalau pun tidak yah mau bilang apa. Saat ini saja misalnya mungkin sudah dua minggu terakhir ini air ini tidak jalan. Padahal sekarang ini sudah musim hujan,” sambungnya getir.

Yang membuatnya geram, air PDAM kadang hanya mengalir jika warga sendiri pergi membuka keran pengatur distribusi di kampung sebelah, Tado Nunang. Lebih parahnya, kontrol air ini seperti main rebutan antar-kampung.

“Warga yang rumahnya setelah saya menegur karena mengira bersikap seenaknya menutup akses air. Tapi bagi saya, mereka sudah diberi kesempatan selama dua jam. Hanya itu yang bisa saya lakukan agar air ini adil dan merata ke setiap rumah. Sebab kami semua sama-sama membutuhkan air,” tegasnya, menjelaskan taktiknya menutup akses agar air sampai ke rumahnya.

Hermina Stiman bersama petani lain asal Satarloleng, Desa Paka, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai sedang duduk di atas pematang sawah. Mereka sedang istirahat bekerja mencabut rumput di sawah saat ditemui Vox NTT pada Kamis, 3 Juli 2025 (Foto: Herry Mandela/ VoxNTT.com)

“Kami Seperti Tidak Punya PDAM”

Suara warga lainnya, Benediktus Bajar, Ketua RT 06 di Nua Rutung, tak kalah lantang menyuarakan kekecewaannya.

“Untuk kami yang pelanggan ini merasa sangat tidak puas dengan air PDAM ini. Air ini macet terutama karena kelalaian petugas. Saya tidak sedang omong karang-karang atau berbohong,” katanya penuh tekanan.

Ia menuduh petugas lebih mengutamakan kampung dengan jumlah penduduk lebih banyak seperti Legu, sementara kampung mereka hanya diberi jatah dua jam, dan itu pun tidak pasti.

“Kadang dua jam saja kesempatan bagi kami lalu distop setelah itu. Kalau kurang debit air di sana, yah kami juga memaklumi. Tapi ini kan yang terjadi air meluap di pusat mata airnya, apa lagi selama musim hujan ini,” tambahnya.

Yang paling menyakitkan, kata Benediktus, meteran air di kampungnya tidak berfungsi, bahkan sudah dicabut, namun tagihan tetap datang setiap bulan.

Bahkan ia menduga, tagihan yang dibayar berasal dari “tebak-tebakan” angka oleh pihak PDAM.

“Saya pernah tunjukan ke petugas yang datang ambil foto meteran. Saya tegaskan bahwa saya sengaja tidak pakai ini meteran karena air yang mengalir ini tidak bisa naik dan keluar dari keran kalau saya pakai meteran,” katanya.

Di kampung Satarloleng, cerita duka tentang air terus terulang. Belasius Lehot, tokoh adat setempat, menyebut petugas PDAM sering tidak konsisten dan lemah dalam pengawasan.

“Petugas biasanya buka keran lalu pulang. Setelah petugas pulang, warga di kampung sebelah yang dekat dengan bak itu datang ke situ dan menyetop aliran air ke sini,” tutur pria 66 tahun itu.

“Anehnya petugas selalu mengkonfirmasi bahwa air sudah dialirkan ke kampung kami, namun nyatanya tidak ada air yang mengalir ke sini.”

Ia menyoroti jauhnya lokasi bak penampungan dari kampung mereka. Jarak sekitar lima kilometer dan harus melewati sungai. Sementara petugas, kata dia, enggan menetap untuk menjaga pembagian air secara adil.

Alfons Sudarsono warga Satarloleng, Desa Paka, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai sedang menunjukkan meteran air PDAM di depan rumahnya saat ditemui Vox NTT pada Kamis, 3 Juli 2025 (Foto: Herry Mandela/ VoxNTT.com)

Afonsius Sudarsono, petani sekaligus pelanggan PDAM sejak lima tahun terakhir, mengaku sudah frustrasi dengan kondisi ini.

“Petugas sudah menjanjikan bahwa air ini akan jalan setiap hari Rabu dan hari Sabtu, artinya dua kali dalam satu minggu. Namun kenyataannya petugas sendiri yang tidak tepati janji,” ujarnya kecewa.

Selama air tidak mengalir, Afonsius harus membeli air galon atau menumpang di rumah tetangga.

Bahkan ia sendiri dua kali pergi membuka keran distribusi secara diam-diam karena tak tahan melihat jeriken kosong di dapur.

“Kadang kami merasa seperti warga yang tidak memiliki air PAM,” katanya dengan mata sayu.

Tagihan Tetap Bayar, Kinerja PDAM Buruk

Para warga menyatakan tidak ada kompensasi yang diberikan oleh PDAM meskipun air sering tidak mengalir. Bahkan denda tetap berlaku jika mereka menunggak.

“Kadang dalam satu bulan kami tetap membayar tagihan walaupun airnya tidak mengalir sama sekali,” tegas Ibu Erni.

Benediktus juga mencatat, enam pelanggan di kampungnya telah mencabut sendiri meteran air karena kecewa berat terhadap layanan.

Anggota DPRD Kabupaten Manggarai, Adrianus Nanggur mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan buruknya kinerja PDAM dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan.

Karena itu, ia meminta Dirut PDAM segera melakukan evaluasi internal untuk mengambil langkah-langkah konkret mengatasi persoalan tersebut.

“Bayangkan selama lima tahun masyarakat yang notabene pelanggan PDAM tetapi mengandalkan hujan dan sungai untuk memenuhi kebutuhan air setiap hari. Sungguh miris kondisi ini,” ujar anggota Komisi B itu, yang bermitra langsung dengan PDAM Tirta Komodo Ruteng.

Belasius Lehot warga Satarloleng, Desa Paka, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai sedang menunjukkan meteran air PDAM saat ditemui Vox NTT pada Kamis, 3 Juli 2025 (Foto: Herry Mandela/ VoxNTT.com)

Sementara itu, Ketua PMKRI Ruteng, Margaretha Kartika menegaskan, pengelolaan air adalah tanggung jawab negara, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019.

“Pemerintah melalui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) harus menjamin keberlanjutan ketersediaan air agar memberikan manfaat secara adil dan merata bagi pelanggannya,” ungkapnya.

Ia menilai, sistem pengelolaan air saat ini harus transparan, responsif, dan layak pakai. Sebab, air bukan sekadar kebutuhan, tapi soal keberlangsungan hidup dan kesehatan masyarakat.

Harapan dari Pelanggan

Di tengah krisis air bersih yang terus berlangsung di Kampung Satarloleng dan sekitarnya, warga mengajukan sejumlah solusi konkret kepada PDAM Unit Satarmese. Harapan mereka sederhana: agar distribusi air menjadi adil, terjadwal, dan berkelanjutan.

Blasius Lehot dan Benediktus Bajar, dua warga yang menjadi pelanggan PDAM sejak 2019 dan 2020, menyampaikan lima usulan utama sebagai bentuk aspirasi masyarakat.

Pertama, mereka meminta adanya jadwal distribusi air yang tetap dan transparan, agar warga bisa mempersiapkan diri dan tidak terlewat giliran.

Kedua, mereka mendesak agar petugas pengawas ditempatkan di sekitar bak penampung utama untuk memastikan tidak ada pihak yang secara sepihak memanipulasi keran dan aliran air.

Ketiga, perbaikan jaringan pipa secara menyeluruh menjadi hal yang mendesak, terutama di jalur pipa yang melewati area persawahan dan titik-titik yang rawan bocor atau rusak.

Keempat, mereka menuntut kompensasi atas layanan yang terganggu, dalam bentuk pengurangan atau potongan tagihan bulanan, sebagai bentuk tanggung jawab PDAM terhadap pelanggan.

Kelima, warga meminta adanya aturan distribusi yang adil antar-kampung. Mereka menilai beberapa desa, seperti Legu, mendapat suplai ganda, sementara kampung lain seperti Satarloleng kerap dianaktirikan.

“Kami tidak minta muluk-muluk, hanya layanan yang adil dan jelas,” tegas Ben.

Keluhan soal layanan air bersih sebenarnya sudah sering disampaikan warga. Namun hingga kini, menurut mereka, belum ada langkah konkret atau kejelasan dari pihak PDAM.

Meski begitu, harapan tetap ada. Ibu Erni menyuarakan harapan yang sama seperti warga lainnya, yakni adanya perubahan nyata yang bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Mudah-mudahan ke depan air bisa lancar dan stabil. Kami tidak minta muluk-muluk, cuma ingin hidup lebih layak,” ujarnya.

Harapan senada disampaikan Adrianus. Anggota DPRD dari Dapil dua itu berharap ke depannya PDAM Unit Satarmese dapat meningkatkan pelayanan kepada pelanggan dan responsif terhadap masalah-masalah infrastruktur di lapangan.

Benediktus Bajar warga Satarloleng, Desa Paka, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai sedang menunjukkan meteran air PDAM saat ditemui Vox NTT pada Kamis, 3 Juli 2025 (Foto: Herry Mandela/ VoxNTT.com)

Komit Lakukan Evaluasi Serius

Kepala PDAM Unit Satarmese selaku penanggungjawab Indikator Kinerja Kerja (IKK), Kornelius Gunggu, berkomitmen akan melakukan evaluasi serius terhadap seluruh petugas di kantornya, terutama bagi petugas zona B yang menangani Kampung Satarloleng dan Nua Rutung.

Menurutnya, langkah ini dilakukan untuk memaksimalkan kinerja para petugas, sehingga dapat memberikan kenyamanan bagi para pelanggan ke depannya.

Kornelius mengakui selama ini para petugas memiliki banyak kekurangan dalam memberikan pelayanan bagi pelanggan di Kampung Satarloleng dan Nua Rutung.

Sebab itu, ia pun meminta maaf kepada pelanggan di Satarloleng dan Nua Rutung atas buruknya kinerja para petugas lapangan selama ini.

Kornelis tidak keberatan dan memilih menjadikan bahan evaluasi terhadap berbagai keluhan para pelanggan terkait; pertama, distribusi air yang tidak teratur. Air hanya mengalir sekali seminggu tanpa jadwal yang pasti serta tidak mengalir secara stabil dan merata ke setiap rumah pelanggan sehingga pelanggan kesulitan menampung air, bahkan pernah tidak mengalir selama lebih dari satu bulan.

Kedua, kurangnya pengawasan. Petugas PDAM tidak menjaga bak penampungan air secara langsung sehingga warga lain dapat dengan mudah mengatur keran air yang dapat mengganggu distribusi air ke kampung lain. Petugas lapangan PDAM juga tidak bekerja maksimal memperbaiki pipa-pipa yang rusak sehingga menyebabkan air sering tidak mengalir.

Ketiga, kurangnya komunikasi. Selama ini petugas PDAM tidak pernah melakukan sosialisasi atau memberikan penjelasan terkait persoalan air yang terjadi.

Keempat, kurangnya transparansi. Meski pelanggan tidak menggunakan meteran air, namun biaya yang dibayarkan setiap bulan fluktuatif dan tidak jelas dasar perhitungannya dari mana.

Jadi, lanjut Kornelis, pelanggan tetap membayar tagihan bulanan meskipun air tidak jalan, bahkan didenda jika telat membayar. Dan para petugas PDAM juga tidak memberikan kompensasi kepada warga walaupun kondisi air yang sering macet.

Kelima, kualitas air yang buruk. Air yang mengalir sering kotor dan berlumpur, sehingga jika pelanggan menampung air di bak mandi maka bak akan dipenuhi lumpur.

“Saya tidak keberatan dan semua saya terima dengan lapang dada karena kemungkinan besar ini semua merupakan fakta selama ini sehingga menjadi keluhan pelanggan,” ungkapnya.

Penulis: Herry Mandela

Desa Paka Kabupaten Manggarai Kecamatan Satarmese Manggarai PDAM Tirta Komodo Satarloleng
Previous ArticleWali Kota Kupang Dukung Rapat Kerja Daerah Pemuda Katolik Komda NTT 2025
Next Article Polisi Tertibkan Parkir Liar di Labuan Bajo dengan Mengempiskan Ban Kendaraan

Related Posts

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.