[Memaknai Hari Opa, Oma dan Lansia Sedunia]
Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
Dosen Stipar Ende
Setiap tanggal yang menandai Hari Opa, Oma dan Lansia Sedunia, 27 Juli, adalah momen penuh refleksi. Di tengah dunia yang makin sibuk dan serba cepat, kehadiran para lansia sering kali luput dari perhatian sosial, padahal merekalah penjaga ingatan, pewaris nilai, dan pelaku doa yang tak henti.
Menghormati lansia bukanlah sekadar tanggung jawab moral, tetapi sebuah pengakuan spiritual: bahwa di dalam diri mereka tertanam harapan yang tahan uji dan doa yang menopang generasi.
Gereja Sejagad secara konsisten memberikan perhatian khusus pada tanggal ini, mengangkat martabat opa, oma, dan seluruh lansia sebagai bagian penting dari tubuh Kristus.
Melalui liturgi, renungan, dan tindakan pastoral yang inklusif, Gereja menegaskan bahwa lansia bukan sekadar penonton dalam sejarah umat, melainkan aktor rohani yang menghadirkan hikmat, kesabaran, dan pengharapan yang menyala.
Secara teologis, tradisi Abrahamik memandang lansia sebagai simbol hikmat dan pemenuhan janji Tuhan.
Dalam Kitab Kejadian, Abraham menerima panggilan ilahi di usia tua dan menjadi bapa bangsa-bangsa, sebuah bukti bahwa harapan tidak tunduk kepada usia.
Doa-doanya bukan sekadar permohonan, melainkan persekutuan mendalam dengan Yang Ilahi, yang lahir dari pengalaman panjang dan penyerahan penuh.
Dalam perspektif Islam, lansia yang tetap bersujud dan berdzikir di tengah tubuh yang mulai lemah adalah gambaran indah keteguhan iman.
Doa mereka bukan sekadar lantunan kata, tetapi nafas hidup yang memperkuat fondasi rohani keluarga dan masyarakat. Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa keberkahan suatu kaum bisa terletak pada doa orangtua di dalamnya. Dan, dalam doa-doa itulah terjaga rahmah yang meneduhkan.
Tradisi Timur pun mengukuhkan lansia sebagai tiang penyangga keharmonisan hidup, di mana ‘filial piety’ bukan sekadar norma, tetapi ungkapan cinta dan hormat yang menjaga jalinan antargenerasi.
Menghormati lansia bukanlah beban, tetapi anugerah, karena melalui mereka kita belajar tentang kesabaran yang memuliakan dan kasih yang tak lekang oleh waktu.
Dari perspektif filosofis, lansia adalah pelintas waktu yang membawa kebijaksanaan dalam langkah-langkah sunyi mereka. Mereka menunjukkan bahwa makna hidup tak selalu datang dari pencapaian besar, melainkan dari kesetiaan terhadap yang sederhana: menyiram tanaman dengan kasih, membacakan cerita dengan nada lembut, menyapa tetangga dengan senyum tulus.
Kehadiran mereka seperti cahaya senja: tenang, hangat, dan menenteramkan. Di dalam diri mereka, harapan tidak hadir sebagai ambisi, melainkan sebagai peneguhan, bahwa yang kecil pun memiliki nilai.
Lansia mengajarkan kita bahwa kebijaksanaan bukan hanya soal tahu, tetapi tentang memahami, menerima, dan menghidupi makna dengan hati yang lapang.
Dalam pemikiran eksistensialisme, manusia merumuskan makna hidup melalui pengalaman dan tanggung jawab, dan lansia menjalani itu dengan keteguhan yang tak selalu terucap namun dirasakan.
Harapan mereka bukan angan, melainkan keyakinan yang dilatih melalui waktu. Doa mereka bukan pelarian, melainkan kekuatan sunyi yang menopang dunia.
Lansia adalah para penjaga barakah: keberkahan yang melampaui logika efisiensi dan untung-rugi. Dalam keheningan langkah mereka, terkandung memori panjang tentang perjuangan, pengampunan, dan cinta yang tak banyak bicara namun dalam maknanya.
Mereka menyalurkan rahmah dengan kelembutan yang menghidupkan, mengajarkan bahwa hidup bukanlah perlombaan menuju hasil, tetapi perjalanan yang penuh pemaknaan.
Dalam tangan-tangan yang mulai renta, tersimpan kehangatan yang merawat, dan dalam tatap mata mereka, terbaca hikmah yang lahir dari kesetiaan.
Sampai di titik ini, satu hal jelas. Hari Opa, Oma dan Lansia Sedunia bukan sekadar ritual tahunan. Bukan hanya tanggal yang lewat di kalender.
Ia adalah panggilan nurani bagi kita semua. Panggilan untuk mendengarkan harapan mereka: Sunyi tapi kuat. Untuk menyambut doa mereka: senyap tapi menggetarkan semesta. Untuk belajar menghargai waktu sebagai guru yang sabar dan penuh kasih.
Di dunia yang sibuk dan sering lupa makna, para lansia menunjukkan cara untuk ingat. Untuk merawat. Untuk menghidupi hidup dengan penuh rasa syukur..***

