Oleh: Marianus Carol Joka
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unwira Kupang
Di tengah antusiasme masyarakat Kabupaten Ende menyambut Even Turnamen Sepak Bola Terbesar NTT (ETMC) 2025, publik dikejutkan oleh keputusan mengejutkan Asprov PSSI NTT yang membatalkan penetapan Ende sebagai tuan rumah.
Keputusan sepihak ini bukan saja melukai hati rakyat Ende, tetapi juga mencederai prinsip tata kelola organisasi olahraga yang demokratis dan berkeadaban.
Tidak hanya cacat prosedur, langkah ini sarat kejanggalan dan berpotensi meruntuhkan kepercayaan publik terhadap PSSI NTT.
Kongres Sudah Memutuskan, Mengapa Dibatalkan Sepihak?
Sebagai lembaga yang semestinya menjunjung prinsip kolegial dan musyawarah, Asprov PSSI NTT justru mengambil langkah inkonstitusional.
Penetapan Ende sebagai tuan rumah ETMC 2025 telah diputuskan secara sah dalam Kongres PSSI NTT pada 1 Maret 2025 di Kupang. Maka pembatalannya tanpa melalui kongres adalah bentuk pengingkaran terhadap keputusan tertinggi organisasi.
Ini bukan saja fatal secara administratif, tapi juga menyalahi norma etis dan logika manajemen organisasi olahraga.
Mengapa Asprov bertindak seperti “pemilik tunggal” ETMC? Apakah Asprov NTT sudah lupa bahwa kedaulatan tertinggi organisasi ada di tangan anggota yang tergabung dalam kongres, bukan pada segelintir elite pengurus? Inilah titik awal dari kerusakan moral dalam organisasi jika komunikasi diganti dengan manipulasi.
Pemda Ende Sudah Siap, Lalu Apa Lagi?
Publik tahu dan mengakui: Pemda Ende, melalui Bupati Yoseph Badeoda, telah menyatakan kesiapannya menjadi tuan rumah.
Bahkan anggaran khusus telah disiapkan untuk merenovasi Stadion Marilonga, stadion kebanggaan masyarakat Ende yang memiliki standar nasional.
Tidak main-main, stadion ini pernah menjadi pionir pelaksanaan pertandingan malam dan live streaming saat ETMC 2017.
Bukti kesiapan ini seharusnya menjadi modal utama yang didukung, bukan dicurigai atau disabotase secara diam-diam.
Lalu, jika tuan rumah sudah siap, masyarakat mendukung penuh, infrastruktur tersedia, dan legalitas kongres sah, alasan apa yang membuat Asprov membatalkan penunjukan Ende?
Justru logika yang tidak masuk akal ada pada keputusan Asprov sendiri, bukan pada kesiapan Ende.
Cederai Antusiasme dan Semangat Rakyat
Tak bisa diabaikan, keputusan ini telah menghancurkan semangat rakyat Ende. Kota sudah dihiasi mural-mural ETMC 2025, spanduk penyambutan, dan atmosfer sepak bola telah menggema melalui turnamen Bupati Cup 2025 antar kecamatan yang meledak antusiasmenya.
Bahkan, gaung dan kemeriahannya melampaui turnamen Soeratin Cup U-17 di Kupang. Ini adalah fakta sosial yang tak terbantahkan.
Kita bisa melihat animo masyarakat pada saat ivent Bupati CUP 2025 yang saat ini sedang berlangsung begitu terasa, stadion mariolonga dengan penonton yang memenuhi tribun.
Sangat jauh berbeda dengan Soeratim CUP 17 yang sedang diselenggaran di kota kupang sepih dan tribun di stadion kosong. Ini bukti bahwa Ende memiliki semangat yang tinggi terhadap sepak bola.
Pembatalan ini menunjukkan bahwa Asprov PSSI NTT tidak hanya abai terhadap prosedur, tetapi juga tuli terhadap suara rakyat.
Lantas, kepada siapa sesungguhnya Asprov berpihak? Kepada rakyat pecinta sepak bola atau pada kepentingan tersembunyi di ruang tertutup?
Ini Murni Kesalahan Asprov, Bukan Pemda Ende
Dengan melihat seluruh rangkaian fakta dan data di atas, jelas bahwa Pemda Ende tidak bersalah. Justru Pemda telah menunjukkan komitmen luar biasa, bahkan lebih progresif dari daerah-daerah sebelumnya.
Ini adalah bentuk dedikasi Pemda untuk mendukung semangat olahraga dan membangun generasi muda melalui turnamen prestisius ini.
Sebaliknya, Asprov PSSI NTT-lah yang harus dievaluasi. Tindakan ini menunjukkan lemahnya integritas organisasi dan potensi pelanggaran terhadap asas kolektif kolegial.
Bila dibiarkan, akan muncul preseden buruk: bahwa keputusan kongres bisa dibatalkan oleh kehendak segelintir elite tanpa dasar kuat.
Selamatkan ETMC dari Oligarki Sepak Bola
Kini saatnya publik bersuara. ETMC bukan milik satu-dua orang. Ini milik seluruh rakyat NTT yang mencintai sepak bola dengan segenap jiwa dan sejarahnya.
Jangan biarkan pesta rakyat ini dipolitisasi atau dikendalikan oleh kepentingan tertutup.
Jika kita membiarkan keputusan ini berlaku, maka kita sedang membiarkan demokrasi olahraga mati perlahan.
Kami menyerukan: Kembalikan ETMC 2025 ke Ende! Jalankan kembali keputusan Kongres! Dengarkan suara rakyat!

