Oleh: Fransiskus Bustan
Dosen Universitas Nusa Cendana
Tidak dapat disangkal lagi, pada hakikatnya, pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia. Tujuan itu disasarkan pada perbaikan, peningkatan, dan pemertahanan harkat dan martabat manusia sebagai makluk ciptaan Tuhan paling mulia di muka bumi ini.
Untuk mencapai tujuan dan sasaran pendidikan, sekolah mengemban peran sangat penting dan menentukan. Mengapa? Karena selain sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah juga mengemban peran sebagai pusat kebudayaan dan pusat peradaban bagi manusia demi penataan masa depan yang lebih bermatabat.
Karena itu, takaran kebermaknaan peran sekolah mesti menyatu dan menyata secara empiris dalam berbagai proses dan mekanisme pengelolaan organisasi di setiap jenjang pendidikan, termasuk jenjang pendidikan tinggi seperti universitas. Dilatari pada konsepsi ini sebagai anjungan berpikir, Prof. Dr. Drs. Melkisedek Taneo, M.Si, sebagai salah seorang kandidat yang berperanserta dalam kontestasi pemilihan rektor Undana tahun ini, mengususung moto atau semboyan, Undana adalah rumah kita bersama.
Sesuai kenyataan bentuk tekstual yang tampak secara fisik, moto yang diusung Melki, sapaan akrab dalam kesehariannya, memang singkat dalam struktur mukaan, namun esensi isi pesannya padat makna berkenaan dengan polesan wajah Undana di masa depan yang begitu elegan sebagai tempat tinggal dan tempat berkarya yang aman dan nyaman.
Dalam tataran mukaan, moto tersebut tampil sebagai sebuah kalimat deklaratif dengan muatan informasi tentang keberadaan Undana sebagai sebuah rumah milik kita bersama. Terkait dengan penggunaan kata ‘kita’ dalam gugus kata ‘rumah kita bersama’, keberadaan Undana dipandang Melki sebagai rumah milik bersama semua warga Undana, termasuk mahasiswa, tenaga pendidik, dan tenaga pendidikan, dari mana pun mereka berasal.
Bertalian dengan konteks situasi pesta demokrasi yang melatari penggunaannya, moto itu menyiratkan makna berlapis tentang kebermaknaan Undana sebagai lembaga pendidikan formal, pusat kebudayaan, dan pusat peradaban. Terlepas dari beberapa makna yang lain, salah satu guratan makna penting yang diamanatkan melalui moto tersebut tercermin dalam penggunaan kata ‘rumah’.
Sesuai hasil rekaman cakap semuka, kata ‘rumah’ tidak hanya menunjuk pada keberadaan Undana sebagai sebuah bangunan fisik, sebagaimana yang diistilahkan dengan ‘house’ dalam bahasa Inggris. Kata ‘rumah’ yang digunakannya bergayut dengan kebermaknaan Undana sebagai suatu tempat yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi semua warga Undana, sebagaimana diisyaratkan melalui istilah ‘home’ dalam bahasa Inggris.
Moto itu bertolak dari realitas faktual yang hidup dan berkembang selama ini bahwa proses dan mekanisme pengelolaan yang masih cenderung mengedepankan keberadaan Undana sebagai ‘house’ ditilik dari aspek fisik yang ditandai dengan jumlah gedung yang terus bertambah dari tahun ke tahun. Kebermaknaan Undana sebagai ‘home’ ditilik dari aspek emosional yang menyentuh rasa aman dan nyaman belum mendapat perhatian memadai sesuai resapan harapan bersama semua warga Undana.
Selamat berjuang dan semoga sukses dalam menata wajah Undana ke depan menjadi rumah kita bersama, tanpa mempersoalkan latar suku, agama, ras, dan aliran. Mengapa? Karena Undana adalah sebuah tungku peradaban dalam dunia pendidikan tinggi yang menjadi milik kita semua sebagai bangsa Indonesia, tanpa mempersoalkan kepelbagaian sebagai dimensi utama yang menafasi konsep inklusivitas.

