Oleh: Fransiskus Bustan
Dosen Universitas Nusa Cendana
Literasi sampah adalah salah satu rancangan program yang gencar dilaksanakan pemerintah kita belakangan ini dengan tujuan memberdayakan masyarakat melalui sampah. Tujuan itu disasarkan agar masyarakat melek sampah yang ditandai dengan meningkatnya pemahaman dan kesadaran mereka tentang manfaat dan bahaya atau dampak negatif sampah terhadap lingkungan dan kesehatan.
Untuk mencapai tujuan dan sasaran dimaksud, tentu saja partisipasi aktif dari seluruh lapisan dan kalangan masyarakat sangat diharapkan. Mengapa? Karena arah literasi sampah atau melek sampah bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ibarat gayung bersambut, berbagai ancangan dilakukan masyarakat kita di Indonesia membantu pemerintah mensukseskan literasi sampah. Salah satu ancangan yang dilakukan adalah pemanfaatan sumber daya bahasa melalui pemakaian metafora hewan dalam mengias secara analogis perilaku manusia yang membuang sampah sembarangan.
Salah satu ancangan operasional yang dilakukan masyarakat kita adalah menjual poster melalui platform media sosial berkenaan dengan upaya penanggulangan masalah sampah. Selain divisualisasi melalui gambar hewan, dalam poster tersebut termuat pula tulisan yang esensi isinya melarang khalayak membuang sampah sembarangan.
Hasil penelusuran poster yang dipasarkan melalui platform media sosial, salah satu tulisan berbunyi sebagai berikut: ‘Hanya Monyet yang Membuang Sampah Sembarangan’. Sebagaimana tampak dalam struktur mukaan, tulisan itu unik sehingga menarik perhatian untuk dikuliti lebih jauh. Mengapa? Karena selain dirancang dengan memakai huruf kapital, juga disanding dengan gambar seekor monyet yang divisualisasi dalam posisi berdiri seolah-olah sedang tertawa terkekeh-kekeh mengungkap rasa riang menyaksikan taburan sampah yang dibuang sembarangan.
Mencermati esensi isinya, tulisan itu tampil sebagai sebuah bentuk kalimat deklaratif yang menginformasikan privilese atau hak istimewa monyet membuang sampah sembarangan. Previlese monyet yang dikomunikasikan melalui kalimat itu ditandai pula dengan pemakaian kata ‘hanya’ sebagai padanan kata ‘cuma’ atau ‘kecuali’ yang berdistribusi atau berposisi mendahului kata ‘monyet’ sebagai kata inti yang mengemban peran sintaksis sebagai subjek.
Ditilik dari diksi atau pilihan kata, tulisan itu tampil sebagai suatu bentuk metafora hewan yang ditandai dengan pemakaian kata (nomina) ‘monyet’ sebagai kata inti yang mengemban peran sintaksis sebagai subjek dalam paduan dengan gugus kata berbentuk frasa verbal ‘membuang sampah sembarangan’ sebagai predikat.
Kekhususan makna pesan yang disampaikan semakin dipertegas lagi dengan pemakaian kata ‘yang’ yang berdistribusi atau berposisi mendahului kata (verba) ‘membuang’ dalam frasa verbal ‘membuang sampah’ sebagai predikat. Pemakaian kata ‘yang’ menyebabkan esensi isi pesan yang tersurat melalui kata ‘hanya’ dalam gugus kata ‘hanya monyet’ semakin terasa padat makna menyangkut tindakan ‘membuang sampah sembarangan’.
Karena merupakan sebuah majas atau gaya bahasa metafora, tulisan dalam poster tersebut sesungguhnya mengias kemiripan dan kesamaan perilaku manusia yang membuang sampah sembarangan dengan perilaku satwa bernama monyet. Sesuai konteks wacana yang melatari pemakaiannya, tulisan itu adalah suatu bentuk metafora hewan yang disampaikan dengan tujuan mengedukasi khalayak tidak membuang sampah sembarangan karena berdampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.
Ibarat banyak jalan menuju Roma, bentuk metafora hewan itu dirancang masyarakat sebagai salah satu manifestasi partisipasi mereka dalam menunjang kesuksesan program literasi sampah yang sedang dilaksanakan pemerintah. Pilihan kata (nomina) ‘monyet’ sebagai kata inti yang mengemban peran sintaksis sebagai subjek dilatari pada urgensi menyaksikan perilaku tidak terpuji sebagian kalangan yang membuang sampah sembarangan meskipun sudah banyak tulisan bernada santun sudah disampaikan sebelumnya.
Tanpa bermaksud memonyetkan manusia, pemakaian metafora monyet melalui tulisan tersebut mengias perilaku manusia yang membuang sampah sembarangan sehingga dimiripkan dan disamakan secara analogis dengan perilaku monyet. Mengingat semua hewan dapat berkomunikasi, namun hanya manusia memiliki bahasa, maka pemakaian kata ‘monyet’ adalah ancangan pemanfaatan sumber daya bahasa sebagai senjata edukasi kepada masyarakat untuk menunjang kesuksesan program literasi sampah.
Lalu, agar tidak disemat dengan predikat monyet melalui pemakaian majas metafora, sebagai manusia kita lebih baik membuang sampah pada tempatnya. Seandainya kita membuang sampah sembarangan, kita layak dianalogikan secara metaforis dengan monyet karena hanya monyet yang membuang sampah sembarangan. Pungkas kata, tidak ada perbedaan lagi antara manusia dan monyet jika kita membuat sampah sembarangan.

