Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Bumi yang Menjerit
Gagasan

Bumi yang Menjerit

By Redaksi12 Oktober 20254 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Bekas ekploitasi pertambangan mangan yang masih menganga terletak di salah satu lahan milik warga Lingko Lolok (Foto: Istimewa)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Oce Josmalu

Mahasiswa IFTK Ledalero

Hari-hari ini keadaan bumi sedang tidak baik-baik saja. Bumi dilanda kerusakan. Kerusakan yang dialami oleh bumi lebih merupakan hasil dari tindakan rakus manusia. Semangat eksploitasi tanpa restorasi dari manusia menjadi sumber rusaknya bumi. Hubungan antara manusia dan bumi bersifat subjek-objek. Bumi hanya dilihat sebagai objek yang dapat diekploitasi.

Relasi subjek-objek adalah landasan paradigma yang keliru dalam hubungan manusia dan alam. Paradigma ini membelenggu aspek ketergantungan antara manusia dan alam. Manusia tidak merasa tergantung pada alam. Manusia melihat alam hanya sebagai objek yang memuaskan nafsunya, sehingga semua yang tersedia pada alam dieksploitasi begitu saja tanpa ada tanggung jawab keberlanjutan.

Paradigma ini terealisasi dalam tindakan kerusakan lingkungan, seperti penebangan hutan secara sembarangan, penambangan di mana-mana, penggunaan emisi karbon fosil yang massif, dan berbagai tindakan destruktif lainnya. Tindakan destruktif terhadap alam ini menghasilkan efek rumah kaca yang sangat berpotensi menghasilkan keadaan bumi yang semakin panas. Efek rumah kaca terjadi ketika sinar matahari menembusi lapisan ozon dan memanasi bumi.

Ketika bumi panas, terjadi pantulan atau penyaluran panas kembali ke luar atmosfer. Tetapi karena atmosfer ditumpuki oleh gas karbon dioksida, methana dan berbagai gas berbahaya lainnya yang dihasilkan oleh tindakan manusia, panas tersebut akhirnya tidak bisa keluar dari atmosfer. Panas bumi terperangkap oleh gas-gas yang ada di atmosfer.

Dampak yang dihasilkan adalah terjadinya pemanasan global atau yang sering disebut sebagai Global Warming. Pemanasan global ini mulai dirasakan saat ini. Menurut, Deputi Direktur C3S Semantha Burges, bulan januari tahun ini merupakan bulan dengan intensitas panas tertinggi dari tahun sebelumnya.

Selain itu data Copernicus menunjukan, suhu pada bulan januari 2024 jauh di atas rata-rata terekam di Afrika barat Laut, timur Tengah dan Asia Tengah, serta Kanada bagian timur dan eropa Selatan. Sementara Di Indonesia fenomena el-nino menjadi rekor kenaikan suhu hingga saat ini (Kompas, 9 Februari 2024).

Potret keadaan dunia yang semakin panas di atas berimbas pada kelangsungan hidup manusia. Hal ini dapat dilihat dari sumber pangan yang menjadi penopang kelangsungan hidup mengalami kemerosotan produksi. Para peneliti dari Cornell Atkinson Center For Sustainability, The Environmental Defens Fund (EDF) dan Kansas State University melaporkan untuk setiap pemanasan 1 derajat Celsius, hasil panen tanaman utama seperti jagung, kedelai, dam gandum di daerah Kansas akan turun sebesar 16-20 persen (Kompas, 19/1/2024).

Penelitian ini didukung oleh hasil penelitian di Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Edvin Adrian dan Elza Surmani dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukan, indonesia dapat kehilangan nilai ekonomi padi rata-rata Rp42,4 triliun per tahun pada 2051-2080 dan meningkat menjadi Rp56,45 triliun per tahun pada 2081-2100 (Kompas, 24 November 2022).

Selain menyasar hasil bumi, pemanasan global juga menyasar para petani. Di Indonesia sendiri intensitas waktu kerja para petani semakin menurun. Mereka tidak lagi mampu bekerja di siang hari secara penuh. Panasnya matahari membuat para petani harus mengambil waktu, pagi hari dan malam hari untuk bekerja. Fenomena ini telah terjadi di Berau, Kalimantan Timur, di mana para petani harus bekerja dini hari dan sore hari hingga malam hari untuk menghindari Terik matahari (Kompas, 22/01/2024).

Deretan laporan dan informasi di atas menunjukan manusialah sumber perubahan yang terjadi atas bumi. Keegoisan dan keserakahan manusia telah membuat manusia menutup mata terhadap kerusakan bumi saat ini. Sudah menjadi jelas, bahwa bukan manusia yang menyeleksi alam tetapi alamlah yang akan menyeleksi manusia.

Ketika manusia kian massif bertindak destruktif terhadap alam, maka alam akan berbalik menghanguskan manusia. Jeritan bumi yang tergambar dalam kian rusaknya alam atau kian panasnya bumi, juga merupakan jeritan manusia atas bumi yang kurang bersahabat.

Dengan demikian, term bumi yang menjerit bukan hanya merujuk pada potret bumi yang kian rusak, tetapi juga potret manusia yang terancam hangus.

Untuk itu, semangat membangun kembali bumi yang rusak mesti menjadi kesadaran bersama. Kesadaran ini sebenarnya sudah terealisasi melalui perjanjian Paris. Dalam perjanjian itu, setidaknya 190 negara menyepakati untuk mengurangi penggunaan karbon bahkan berkomitmen untuk menciptakan keadaan netral karbon (net zero emission) (Kompas, 04/10/2024).

Selain itu, dari pihak Gereja, sebagai sebuah institusi moral sudah menekankan pentingnya pemeliharaan atau pelestarian lingkungan. Melalui Dokumen Konsili vatikan II, gereja secara tegas menyatakan “kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang…merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus sendiri.” (GS:1).

Pernyataan dokumen ini terimplikasi dalam seruan Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si. Dalam ensiklik tersebut Paus Fransiskus menekankan penghormatan kita terhadap bumi.

Bumi tidak lagi dianggap sebagai objek yang dieksploitasi, tetapi juga mesti dipandang sebagai ibu. Sebagaimana layaknya seorang ibu, bumi adalah tempat ternyaman dan terbaik untuk manusia. Jika bumi rusak, maka rusak pulalah manusia yang menghuninya. Bumi adalah ibu kita bersama.

Oce Josmalu
Previous ArticlePaket FORTIS Terpilih sebagai Pengurus OSIS SMA Katolik St. Josef Freinademetz Tambolaka Periode 2025/2026
Next Article Yayasan Ayo Indonesia Gelar Pelatihan Kewirausahaan untuk Disabilitas

Related Posts

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.