Kupang, VoxNTT.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, tengah mengkaji penerapan regulasi baru terkait jam belajar anak di rumah. Usulan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun budaya belajar serta memperkuat peran keluarga dalam pendidikan.
“Karena itu, waktu belajar yang diatur nanti dalam Pergub tersebut diusulkan untuk berlangsung setiap Senin hingga Jumat pada pukul 17.30–19.00, serta Minggu di jam yang sama, sementara Sabtu menjadi waktu bebas bersama keluarga,” kata Gubernur Melki, Rabu, 15 Oktober 2025.
Gagasan ini sebenarnya bukan hal baru. Pada 2011, Pemprov NTT pernah meluncurkan program serupa bernama Gong Belajar, yang kemudian dikukuhkan dalam Peraturan Gubernur NTT Nomor 9 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan Gong Belajar.
Kini, Gubernur Melki mengatakan regulasi tersebut sedang dalam tahap kajian untuk dilakukan penyesuaian.
“Regulasi, kata dia lebih komprehensif untuk berbagai faktor pengungkit kualitas belajar anak diatur dan ditata bersama,” katanya.
Ia menegaskan, rencana ini lahir dari pertemuan inspiratif bersama Kepala Sekolah, Pengawas, dan Ketua OSIS se-Pulau Sumba beberapa waktu lalu.
Dalam arahannya saat apel pagi, Senin, 13 Oktober 2025, di halaman Gedung Sasando, ia memaparkan pentingnya menciptakan budaya belajar dan kebersamaan keluarga dari rumah.
Tiga Pilar Regulasi Pendidikan
Gubernur Melki menjelaskan tiga pilar utama dalam regulasi yang tengah disusun:
Pertama, memperkuat peran keluarga. Ia menyebut bahwa jam belajar ini sekaligus menjadi momen untuk makan dan berdoa bersama.
“Dan minggu 17.30 – 19.00 kecuali hari sabtu,” ujarnya menegaskan waktu yang diusulkan.
Bagi Melki, rumah harus menjadi tempat pertama anak mengenal baca, tulis, dan hitung.
“Membangun kualitas keluarga sebagai tiang pendidikan utama anak-anak dan bangun kedekatan keluarga bersama Tuhan,” katanya.
Kedua, penguatan peran sekolah. Ia menekankan pentingnya guru yang berkualitas, sarana prasarana memadai, serta metode pengajaran yang menggugah semangat belajar.
“Pelatihan untuk perkuat kapasitas guru dan kemampuan transfer ilmu pengetahuan – teknologi – karakter dan moral juga kemampuan kewirausahaan terus ditingkatkan utk semua guru,” ujarnya.
“Tentu dibarengi peningkatan berbagai kebutuhan pembelajaran seperti buku dan lainnya,” tambahnya.
Ketiga, penguatan peran masyarakat. Gubernur Melki menilai keterlibatan tokoh masyarakat dari berbagai latar belakang sangat penting dalam mendukung pendidikan.
“Regulasi diatur dengan baik untuk peran tokoh masyarakat berbagai latar belakang ditata dengan baik,” ujarnya.
Menurutnya, dukungan dari tokoh agama, pemuda, perempuan, pengusaha, dan tokoh lokal lainnya akan membantu menciptakan lingkungan pendidikan yang berdaya.
Upaya Cegah TTPO dan Evaluasi Kinerja ASN
Dalam arahannya, Gubernur Melki juga menyinggung rencana Pemprov NTT untuk menjalin kerja sama dengan kepolisian guna mencegah Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Hal ini menyusul temuan grup WhatsApp yang beranggotakan siswa SMP dan berpotensi disalahgunakan untuk aktivitas menyimpang.
Selain itu, ia juga menyampaikan selamat kepada pejabat eselon III dan IV yang baru dilantik, sembari mengingatkan pentingnya evaluasi jabatan secara berkala.
Gubernur Melki menekankan pentingnya seluruh pimpinan OPD untuk menjalankan 10 Program Dasa Cita Melki–Johni secara kolaboratif dan berdampak langsung ke masyarakat.
Ia juga mewajibkan agenda kerja mingguan dari setiap OPD yang akan dievaluasi setiap hari Jumat.
“Pemrov NTT saat ini memiliki komitmen untuk bekerja tidak sekedar untuk menjalankan rutinitas, tetapi bekerja untuk menanam benih perubahan bagi NTT,” tegasnya.
Penulis: Ronis Natom

