Kupang, VoxNTT.com – Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (Perdosni) Pusat bersama Perdosni Cabang Denpasar menggelar peringatan World Stroke Day 2025 tingkat nasional yang dipusatkan di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kegiatan berlangsung pada 13–16 November 2025 dengan mengusung tema “Menyatukan Advokasi dan Kesadaran Stroke untuk Mendorong Tindakan pada Stroke”, sebagai bagian dari upaya kolaboratif untuk meningkatkan edukasi dan pemberdayaan masyarakat, khususnya di wilayah NTT.
Acara ini dihadiri Staf Ahli Bidang Kesejahteraan Rakyat Provinsi NTT, Ady Enderson Mandala mewakili Gubernur NTT, beserta jajaran, pengurus Perdosni Pusat, dan pengurus serta anggota Perdosni Cabang Denpasar.
“Stroke dianggap sebagai salah satu penyakit yang paling menakutkan di Indonesia, karena dapat menyebabkan angka kematian dan kecacatan tinggi. Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit stroke dengan dapat mengenali gejala stroke dan melakukan penanganan segera menuju fasilitas pelayanan kesehatan,” ujar Ketua Umum Perdosni, Dodik Tugasworo.
Menurut Dodik, peringatan Hari Stroke Sedunia setiap 29 Oktober menjadi momentum penting mengingat stroke tetap menjadi masalah kesehatan global, terutama di negara berkembang. Setiap serangan stroke dapat menyebabkan 1,9 juta sel otak mati setiap menit. Penyakit ini juga menjadi penyebab utama disabilitas serta kematian nomor dua di dunia.
Di Indonesia, stroke merupakan penyebab utama kecacatan dan kematian, mencapai 11,2% dari total kecacatan dan 18,5% dari total kematian. Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat prevalensi stroke sebesar 8,3 per 1.000 penduduk. Selain itu, stroke menjadi salah satu penyakit katastropik dengan pembiayaan tertinggi ketiga setelah penyakit jantung dan kanker, dengan total pembiayaan mencapai Rp5,2 triliun pada 2023.
Secara global, stroke menyebabkan sekitar 5,5 juta kematian per tahun, dan hingga 50% penyintas mengalami kecacatan jangka panjang.
“Butuh upaya bersama di tingkat nasional untuk edukasi dan pemberdayaan masyarakat, agar kecacatan dan kematian akibat stroke dapat dicegah,” terang Dodik.
Ia juga menekankan pentingnya deteksi dini faktor risiko, pencegahan, serta pola hidup sehat. Selain itu, komunikasi antarkomunitas penyintas stroke dan keluarga atau pendamping harus terus diperkuat.
Prevalensi Stroke di NTT Masih Tinggi
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), sejumlah daerah di NTT memiliki prevalensi stroke cukup tinggi, seperti Kabupaten Sikka (9%), Manggarai (8%), dan Kupang (6%). Akses layanan kesehatan yang masih terbatas disebut menjadi tantangan tersendiri karena dapat menghambat penanganan cepat saat serangan stroke terjadi.
“Stroke merupakan penyebab kecacatan jangka panjang nomor satu di dunia. Hal ini tentunya membutuhkan penanganan yang komprehensif dari berbagai bidang dan pihak, baik dokter, paramedis maupun pendamping pasien,” Dodik.
Ia juga mengingatkan betapa krusialnya golden period dalam penanganan stroke. Rentang waktu 4,5 jam sejak onset menjadi batas pemberian obat trombolisis untuk menghancurkan sumbatan pada stroke iskemik.
“Semakin singkat jeda waktu dari onset awal hingga pemberian trombolisis (kurang lebih 3 jam), efektivitas trombolisis akan semakin baik,” ujar Dodik.
“Secepatnya ke RS, segerakan dispatch dan delivery. Time is brain,” tandasnya.
Ketua Panitia Peringatan Hari Stroke 2025, Yuliana Imelda Ora Adja menjelaskan, sejumlah agenda yang digelar, antara lain simposium untuk tenaga kesehatan, lokakarya, peluncuran Guideline Stroke Nasional, pelantikan Yayasan Stroke Indonesia Cabang NTT, pelayanan pemeriksaan kesehatan, seminar awam Deteksi Dini Stroke, serta senam pencegahan stroke.
Ia menjelaskan, senam stroke merupakan latihan fisik dengan gerakan yang melibatkan seluruh otot dan sendi tubuh.
“Manfaat aktivitas fisik, bukan hanya senam stroke, antara lain menstimulasi kerja saraf dan otot, melancarkan aliran darah, hingga efek sistemik seperti pencegahan hipertensi, diabetes, obesitas, serangan jantung dan stroke,” ujar Yuliana.
Selain itu, variasi senam stroke juga bertujuan meningkatkan koordinasi tubuh dan merangsang kerja otak.
“Aktivitas fisik perlu rutin dilakukan untuk mencegah serangan stroke, baik serangan pertama ataupun serangan berulang,” lanjutnya.
Ia memaparkan prinsip aktivitas fisik berdasarkan rekomendasi AHA/ASA. Untuk pencegahan stroke primer, disarankan aktivitas intensitas sedang minimal 150 menit/minggu atau intensitas berat minimal 75 menit/minggu.
Sementara untuk penyintas stroke, aktivitas fisik aerobik intensitas sedang dapat dilakukan minimal 4 kali seminggu, 10 menit per sesi, atau aktivitas berat 2 kali seminggu, 20 menit per sesi.
Selain itu, setiap orang disarankan menghindari perilaku sedentari dengan berdiri atau beraktivitas ringan selama 3 menit setiap 30 menit.
Target edukasi acara ini mencakup masyarakat umum, keluarga pasien, tenaga kesehatan, organisasi sosial, serta kelompok pemuda.
“Tak hanya edukasi, di acara ini Perdosni juga melakukan pemeriksaan tekanan darah, gula darah sewaktu, dan kolesterol total di ruang publik,” ujarnya.
Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengenal, mencegah, dan merespons stroke secara tepat, sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat stroke di NTT.
Perdosni merupakan organisasi profesi yang menaungi dokter spesialis neurologi/saraf di Indonesia sejak 1988. Saat ini, Perdosni memiliki lebih dari 2.500 anggota di seluruh Indonesia.
Organisasi ini aktif bekerja sama dengan pemerintah pusat dan daerah untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui edukasi, deteksi dini, pencegahan stroke, serta pendampingan bagi penyintas.
Perdosni juga menjadi mitra strategis pemerintah dalam penanggulangan dan penanganan strokedi berbagai level layanan kesehatan di Indonesia.
Penulis: Ronis Natom

