Oleh: Elisabeth Lebo Meo, S. Pd, Gr
Guru SMA Katolik St. Josef Freinademetz
Hari- hari hidupku diwarnai dengan urusan administrasi pendidikan,dan berhadapan dengan peserta didik. Tugas macam ini lazim disebut guru. Kerja dalam hening yang dalam dan panjang tak terukur oleh siang dan malam. Hanya berteman letih bersama coretan-coretan lepas di kertas buram. Coretan itu berasal dari tinta hati. Tinta yang mengalir dari hati,oleh hati, dan untuk hati dalam menciptakan sejarah baru bersama anak- anak negeri.
Setiap hari di ruang kelas, saya bekerja dengan tinta, entah itu tinta spidol di papan tulis, tinta pulpen di buku nilai, atau tinta digital di layar proyektor. Saya mengira saya sedang menuliskan rumus dan ejaan yang benar.
Namun, semakin lama saya merenung, saya sadar bahwa yang saya tebar bukanlah sekadar tinta. Itu adalah percikan kehidupan yang akan tergores abadi di hati peserta didik.
Sebuah coretan kecil di buku latihan, yang mungkin hanya berupa tanda bintang atau komentar singkat, bisa menjadi pemantik semangat bagi peserta didik. Sebuah ilustrasi sederhana di papan tulis bisa membuka wawasan baru yang mengubah cara pandang mereka terhadap dunia yang penuh warna.
Terkadang, percikan tinta itu tidak disengaja. Sebuah kalimat yang terucap spontan saat mengajar, yang saya sendiri mungkin sudah lupa, bisa tertanam kuat dalam ingatan murid selama bertahun-tahun. Mirip tinta yang memercik di kertas dan meninggalkan noda permanen, kata-kata dan tindakan saya meninggalkan jejak abadi di jiwa mereka
Ada kerapuhan percikan tinta ini. Saya tidak bisa mengontrol ke mana tepatnya tinta itu jatuh, seberapa lebar noda yang ditinggalkan, atau apakah percikan itu akan menjadi karya seni yang indah atau hanya noda yang mengotori. Itulah realitas mengajar. Saya hanya bisa memercikkan sebaik mungkin, dengan niat terbaik, dan melepaskannya ke alam semesta pembelajaran.
Refleksi sederhana ini lahir dari lubuk hati terdalam tentang rasa yang saya alami selama ini. Dari butir-butir pengalaman yang jatuh dan tercecer ini mengajarkan saya tentang kerendahan hati. Dampak saya sebagai guru seringkali tidak terlihat secara instan, dan mungkin tidak akan pernah saya ketahui sepenuhnya. Yang terpenting adalah keyakinan bahwa setiap “percikan tinta” yang saya berikan—setiap ilmu, setiap motivasi, setiap kebaikan memiliki potensi untuk menciptakan lukisan masa depan yang luar biasa bagi mereka.
Tugas saya hanyalah terus memercikkan tinta kebaikan dan pengetahuan, dengan harapan bahwa jejaknya akan menjadi warisan berharga bagi generasi penerus.
Harapan terdalam dari saya sebagai guru, semoga semua pancaran pengetahuan yang mengalir dari hati dengan cinta yang besar ini kelak menjadi berkat bagi luka dan gelap dunia hari ini. Saya tidak memiliki senjata untuk menembak dan mengalahkan musuh. Yang ada pada saya hanyalah sedikit pengetahuan yang Tuhan titipkan untuk dibagikan kepada generasi muda penerus dan masa depan bangsa Indonesia yang kuat.
Akhirnya, dari lubuk hati terdalam, saya mengucapkan selamat hari guru nasional ke- 80. Semoga hadir anda dan saya sebagai guru mampu menjadikan republik tercinta ini tetap kuat di tengah tawaran arus zaman yang menggiurkan.
Selamat Hari guru Nasional ke- 80
“Guru Hebat Indonesia Kuat”

