Oleh: Oland Leba
Guru di SMAK St. Josef Freinademetz
Setiap masyarakat dalam suatu kebudayaan selalu memiliki filosofi-filosofi kehidupan yang berguna untuk mempersatukan, mempererat dan mempertahankan persatuan dalam kebudayaannya.
Filosofi tersebut biasanya diwakili dalam kata-kata adat dan simbol-simbol kebudayaan yang sudah disepakati secara bersama oleh anggota kebudayaan secara turun-temurun.
Berkaitan dengan hal ini, masyarakat dalam kebudayaan Ende Lio memiliki banyak filsofi-filosofi menarik, salah satu di antaranya adalah filosofi tentang persatuan dalam mencapai sebuah tujuan, filosofi itu berbunyi: Boka Ngere Ki, Bere Ngere Ae.
Secara etimologis semua kata dalam kalimat “Boka Ngere Ki, Bere Ngere Ae” berasal dari bahasa Lio.
Kata Boka berarti tumbang atau jatuh, kata Ngere berarti seperti, kata Ki berarti alang-alang, kata Bere, berarti mengalir, dan kata Ae berarti air, secara sederhana kalimat tersebut dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yakni, Tumbanglah seperti rumpunan alang-alang dan mengalirlah seperti air.
Makna Boka Ngere Ki, Bere Ngere Ae
Kalimat Boka Ngere Ki yang berarti tumbanglah seperti rumpunan ilalang, memiliki makna tentang pentingnya persatuan dan persaudaraan, baik dalam situasi suka maupun duka.
Tumbanglah seperti alang-alang mengajak semua orang Lio untuk tidak boleh membiarkan sesamanya mengalami kesendirian dalam kesedihan.
Semua orang harus berpartisipasi dalam kedukaan dan bersama-sama untuk mencapai kebahagiaan serta selalu ada kesepakatan bersama dalam mengambil keputusan (menjunjung tinggi nilai keadilan).
Seperti rumpunan alang-alang yang selalu tumbang secara bersama jika diterpa angin, maka begitu juga dengan manusia agar tidak membiarkan sama saudaranya memikul kemalangan itu sendiri, melainkan agar tetap bersama.
Kalimat Bere Ngere Ae yang berarti mengalirlah seperti air memiliki makna persatuan dan menghilangkan semua perbedaan. Seperti air yang mengalir menuju lautan yang sama, begitupula manusia walaupun berbeda dan unik tetapi semuanya memiliki satu tujuan dan cita-cita yang sama.
Tumbanglah seperti rumpunan alang-alang dan mengalirlah seperti air, pada intinya memiliki makna utama yakni, tentang pentingnya persatuan dalam hidup bersama, hidup berkomunitas, saling menghargai setiap perbedaan dan terus menciptakan keadilan.
Simbol kebersamaan dan kekuatan hidup bersama dalam kebudayaan Ende Lio dapat juga diperhatikan dalam tarian gawi, yang mana semua orang harus memegang erat sama saudaranya dan mulai menari (simbol kebersamaan).
Tanggapan Penulis
Corak dan filosofi dalam kebudayaan Ende Lio di atas merupakan kharakter dari filsafat timur, yakni lebih mengarah pada relasi antara sesama manusia dan pentingnya nilai-nilai hidup bersama dalam suatu komunitas.
Ajaran tentang pentinganya relasi antara sesama manusia dapat ditemukan dalam pemikiran-pemikiran Konfusius (552- 479).
Dalam relasi antarmanusia konfusius menekankan keadilan (jen), yang berarti memperoleh dan menikmati apa yang menjadi haknya.
Dengan kata lain jen adalah relasi antar-sesama manusia berdasarkan pengakuan akan kesamaan hak dan martabat sebagai manusia.
Keadilan merupakan salah satu wujud dan cita-cita dari hidup bersama, jika tanpa ada keadilan, maka tidak ada persatuan, dalam hal ini dalam filosofi di atas jika tidak ada keadilan, maka Boka Ngere Ki dan, Bere Ngere Ee, juga tidak akan tercapai.
Apabila keadilan itu tidak ada dalam kehidupan masyarakat berbudaya, martabat manusia dan hak-haknya akan dilecehkan serta timbulah budaya yang penuh dengan permasalahan dan jauh dari perdamaian dan kesejahteraan.
Dalam filosofi di atas, variabel yang digunakan berasal dari alam, Ki (alang-alang) dan Ee (air).
Penggunaan istilah ini menyiratkan suatu kedekatan antara masyarakat Ende Lio dengan alam, sehingga patut disetujui jika selain menekankan pentingya relasi antarmanusia, masyarakat Ende Lio juga dekat dan mencintai alam.
Filosofi kehidupan dalam kebudayaan Ende Lio ini, persis seperti komunisme China, yang mana tujuan komunisme China adalah menata suatu relasi yang baik antara sesama manusia dan antara manusia dengan alam.

