Mbay, VoxNTT.com – Kematian Rudolfus Oktavianus Ruma atau Vian Ruma, seorang guru SMP di Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, masih menyisakan banyak tanda tanya. Hingga hampir tiga bulan sejak jasadnya ditemukan pada 5 September 2025, aparat Kepolisian belum memberikan penjelasan resmi mengenai penyebab kematiannya.
Pada pekan lalu, saat para guru se-Kabupaten Nagekeo berkumpul dalam peringatan HUT PGRI ke-80 di Kecamatan Keo Tengah, persoalan ini kembali mencuat. Para guru menanyakan sejauh mana penyelidikan Polisi terkait kematian rekan mereka itu.
Vian Ruma merupakan salah satu dari beberapa jasad yang ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tidak wajar di wilayah Nagekeo tahun ini. Namun hingga kini, Kepolisian belum memberikan pernyataan publik mengenai penyebab kematian guru tersebut. Secara organisatoris, PGRI Nagekeo telah menerbitkan rekomendasi agar penyelidikan dituntaskan.
Vian pertama kali ditemukan warga Nangaroro dalam kondisi mengenaskan, dengan tubuh dipenuhi belatung, di sebuah rumah pondok di sisi jalan Trans Nangaroro–Maunori pada 5 September 2025.
Sejumlah media sebelumnya mengaitkan kematian Vian dengan aktivitasnya sebagai aktivis penolak proyek geotermal. Namun belum ada bukti yang mendukung dugaan tersebut. Justru muncul kekhawatiran lain akibat berkembangnya spekulasi liar yang mengarah pada isu SARA.
“Kami meminta Bapak Kapolres Nagekeo untuk memberikan jawaban atas tindak lanjut penanganan kasus kematian guru, sahabat kami, almarhum Rudolfus Oktavianus Ruma,” ujar Sekretaris PGRI Kabupaten Nagekeo, Anisius Panda.
Memasuki pekan ke-13, Kepolisian Resor Nagekeo di bawah pimpinan AKBP Rachmat Muchamad Salihi belum pernah merilis hasil penyelidikan kepada publik. VoxNttcom juga telah berulang kali berupaya mengonfirmasi alasan belum dipublikasikannya hasil penyelidikan, namun tidak berhasil menemui Kapolres.
Anisius mengatakan PGRI menghormati pertimbangan hukum Polisi apabila informasi terkait kematian bersifat privat atau sensitif.
Namun ia menegaskan pentingnya pemberitahuan resmi kepada organisasi guru agar tidak terjadi kesalahan dalam penanganan internal.
“Jika kematian almarhum berhubungan dengan hal privat dan sensitif, mohon kami (PGRI) disurati secara internal, sehingga kami tidak keliru dalam melakukan penanganan dan pencegahan,” ujarnya.
Sementara itu, Victor Tegu, Anggota DPRD Kabupaten Nagekeo dari PKB sekaligus paman almarhum, memastikan akan segera menyampaikan hasil penyelidikan Polisi yang telah diterima keluarga.
Ia menyebut keterlambatan penyampaian informasi terjadi karena dirinya sedang menjalankan reses ketiga di Kecamatan Keo Tengah.
“Nanti sampai Mbay baru saya kontak ari (adik). Hari ini saya masih reses di Ngera,” ujarnya saat dikonfirmasi VoxNttcom, Selasa, 2 Desember 2025.
Berdasarkan pantauan di lokasi tempat Vian ditemukan, rumah pondok tersebut kini tampak rusak. Garis polisi yang sebelumnya dipasang juga terlihat sudah terputus.
Penulis: Patrianus Meo Djawa

