Mbay, VoxNTT.com – Masyarakat Kampung Danggakapa dan Kampung Koporombo, Desa Tenda Ondo, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, selama puluhan tahun menghadapi kesulitan akses menuju kebun dan sekolah mereka di SDK Malasera, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo. Situasi itu makin memprihatinkan karena tidak adanya jembatan penghubung yang memadai.
Sedikitnya 56 pelajar asal dua kampung tersebut kerap absen dari kegiatan belajar mengajar ketika banjir melanda Sungai Nangamboa. Tanpa jembatan, satu-satunya pilihan mereka adalah menyeberangi arus banjir yang membahayakan keselamatan.
Persoalan ini sudah berlangsung lintas generasi. Warga Malasera, Gerdus Giu menyebut kondisi tersebut tidak pernah tersentuh pembangunan berarti sejak pemekaran Kabupaten Nagekeo pada 2007.
“Kami berada di wilayah Nagekeo, tapi untuk menuju kampung kami harus melalui wilayah Ende. Kebun warga juga berada di dua kabupaten berbeda. Sampai hari ini tidak ada sentuhan pembangunan di wilayah perbatasan ini,” ujar Gerdus.
Upaya sementara sempat dilakukan Pemerintah Provinsi NTT pada 2015 dengan membangun jembatan gantung sepanjang 30 meter. Namun, jembatan itu kini rusak total.
Landasan kayu telah lapuk, sementara sling baja berkarat dan putus, sehingga menyisakan struktur yang tidak lagi layak digunakan dan berpotensi membahayakan warga.
Tokoh masyarakat Malasera lainnya, Pius Pedo menuturkan, wilayah tersebut juga memiliki potensi besar sebagai lokasi Bumi Perkemahan, namun minim fasilitas pendukung.
“Alam kami sangat tenang, bukit masih hijau, dan ada sungai dengan air yang jernih. Ini sangat cocok untuk kegiatan ekstrakurikuler. Tapi tidak ada MCK, tidak ada penerangan, dan terutama jembatan penghubung sama sekali tidak tersedia,” ujar Pius.
Masalah ini kembali disampaikan warga saat anggota DPRD Nagekeo dari Partai NasDem, Anton Sukadame Wangge, melakukan reses pada Jumat, 5 Desember 2025.
Warga meminta pemerintah daerah segera mengalokasikan anggaran untuk perbaikan jembatan gantung yang menjadi jalur vital bagi aktivitas pendidikan dan ekonomi.
Menurut Pius, jembatan tersebut merupakan akses penting karena banyak petani Malasera berkebun di wilayah Ende, dan warga Ende juga beraktivitas di wilayah Nagekeo.
Anton Sukadame Wangge membenarkan keluhan warga usai meninjau langsung kondisi jembatan.
“Ada pelajar yang masih nekat menggunakan jembatan itu untuk bisa pulang dari sekolah. Kondisinya sangat berbahaya,” ujarnya.
Karena itu, kata dia, Partai NasDem akan segera berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan membangun komunikasi politik dengan anggota DPRD Partai NasDem di Ende untuk mencari solusi.
Penulis: Patrianus Meo Djawa

