Labuan Bajo, VoxNTT.com – Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo, Stephanus Risdiyanto, mengklaim kapal wisata KM Putri Sakinah yang tenggelam di perairan Labuan Bajo telah memenuhi unsur kelayakan laut sebelum diizinkan berlayar.
Stephanus menegaskan, penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) pada 25 Desember malam didasarkan pada pemeriksaan fisik kapal serta pemantauan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Dari total 189 kapal wisata yang berangkat pada hari yang sama, menurut dia, hanya KM Putri Sakinah yang mengalami insiden.
“Kapal saat berlayar dinyatakan layak laut dibuktikan sertifikat keselamatan karena kapal sudah dilakukan pemeriksaan sebelumnya,” ujar Stephanus.
Selain itu, pihak KSOP juga mengklaim telah mengeluarkan Notices to Mariners sejak 22 hingga 28 Desember agar para nakhoda mewaspadai daerah berbahaya. Namun, berdasarkan data spesifik pada aplikasi BMKG saat keberangkatan, kondisi perairan dinyatakan aman.
“Pada saat pemberian SPB, prakiraan cuaca BMKG aman. Dasarnya pemeriksaan kapal atau marine inspection. Yang kedua dasarnya adalah cuaca seperti yang dilihat di website BMKG tadi. Dari tanggal 22 sampai 28 itu tidak ada masalah,” kata Stephanus.
Terkait status perusahaan dan perizinan kapal, Stephanus memastikan seluruh dokumen KM Putri Sakinah lengkap dan saat ini masih dalam tahap pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak berwenang.
“Iya, punya (izin). Itu sekarang sedang dalam pemeriksaan,” tuturnya.
Sementara itu, tim SAR Gabungan terus melakukan pencarian terhadap korban tenggelamnya KM Putri Sakinah. Kepala Kantor SAR Maumere selaku SAR Mission Coordinator, Fathur Rahman, mengatakan meski satu korban telah ditemukan, pencarian terhadap tiga korban lainnya masih menghadapi sejumlah kendala alam.
Fathur menjelaskan, kuatnya arus bawah laut di Selat Padar menghambat penggunaan teknologi Remotely Operated Vehicle (ROV) maupun operasi tim penyelam.
“Arus cukup deras, sehingga penggunaan ROV belum memberikan hasil maksimal dan visibilitas di bawah air terganggu. Kami juga sudah menyiapkan drone thermal untuk pemantauan udara, namun terkendala cuaca yang tidak memungkinkan untuk diterbangkan,” jelas Fathur.
Saat ini, radius pencarian diperluas hingga 10 mil laut ke arah utara dan selatan dari lokasi kejadian. Operasi SAR akan terus dilakukan sesuai standar prosedur selama tujuh hari. Pihak SAR Maumere juga telah memobilisasi nelayan setempat untuk membantu memberikan informasi apabila menemukan tanda-tanda keberadaan korban di laut.
Fokus utama tim gabungan yang melibatkan sembilan armada dari Basarnas, TNI AL, Polairud, hingga KSOP, kini tertuju pada penyisiran sisa korban yang masih hilang di perairan Selat Padar.
Penulis: Sello Jome

