Labuan Bajo, VoxNTT.com – Arus Sungai Wae Songkang di Kampung Lesem, Desa Golo Lajang, Kecamatan Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, masih menjadi hambatan bagi anak-anak sekolah yang hendak menuntut ilmu.
Setiap pagi, sungai selebar 15 hingga 20 meter itu harus diseberangi para siswa untuk menuju sekolah di wilayah seberang.
Kondisi tersebut mendorong aparat kepolisian turun langsung membantu siswa menyeberangi sungai pada 27 Januari 2026.
Dua anggota Polsek Kuwus, yakni Iptu Polisi Inspektur Satu Arsilinus Lentar dan Aipda Mario Taek, Kanit Binmas Polsek Kuwus, tampak menggendong anak-anak sekolah saat debit air meningkat.
“Kami melihat langsung kondisi di lapangan. Anak-anak ini mempertaruhkan keselamatan mereka hanya untuk bisa bersekolah, ujar Iptu Arsilinus kepada VoxNtt.com, Sabtu, 31 Januari 2026.
Menurut Arsilinus, data di lapangan mencatat sebanyak 21 siswa terdampak langsung kondisi tersebut.
Mereka terdiri dari 11 siswa Sekolah Dasar yang bersekolah di SDK Wetik dan 10 siswa Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 1 Kuwus Barat.
“Seluruhnya berasal dari Kampung Lesem dan setiap hari harus menyeberangi Sungai Wae Songkang menuju Desa Golo Riwu, Kecamatan Kuwus Barat,” katanya.
Arsilinus menyebut, kondisi sungai semakin berbahaya saat musim hujan karena debit air meningkat drastis dan arus sulit diprediksi.
Keluhan atas kondisi itu tidak hanya datang dari orang tua siswa, tetapi juga dari tenaga pendidik.
Berangkat dari situasi tersebut, Polsek Kuwus melakukan langkah mitigasi dengan meninjau lokasi dan menggelar dialog lintas kampung. Kesepakatan bersama kemudian dicapai untuk membangun jembatan penyeberangan darurat.
“Kalau negara belum bisa hadir cepat lewat jembatan permanen, maka kami berinisiatif agar setidaknya ada jembatan darurat demi keselamatan mereka,” tukasnya.

Jembatan darurat tersebut menghubungkan Kampung Lesem, Desa Golo Lajang, Kecamatan Pacar, yang berada di wilayah hukum Polsek Macang Pacar, dengan Desa Golo Riwu, Kecamatan Kuwus Barat, wilayah hukum Polsek Kuwus.
Pembangunan jembatan dilakukan secara swadaya dengan memanfaatkan material lokal seperti bambu dan pasir.
“Kami tidak ingin menunggu korban dulu baru bertindak. Keselamatan anak-anak adalah prioritas. Pendidikan tidak boleh terhenti hanya karena mereka lahir dan tinggal di wilayah terpencil,” tegas Arsilinus.
Sementara itu, pihak sekolah mengeluarkan imbauan agar siswa dari Kampung Lesem sementara waktu menginap di rumah keluarga atau kerabat di Desa Golo Riwu selama musim hujan masih berlangsung, guna menghindari risiko menyeberangi sungai saat cuaca ekstrem.
Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mitigasi bencana alam yang telah dilaporkan secara resmi oleh Kapolres Manggarai Barat kepada Kapolda Nusa Tenggara Timur, dengan tembusan kepada jajaran Polda NTT.
“Di Wae Songkang, negara mungkin belum sepenuhnya hadir lewat beton dan baja. Namun hari itu, ia hadir lewat empati, lewat bahu seorang polisi, dan lewat kesadaran bahwa menggendong satu anak hari ini berarti menyelamatkan masa depan esok hari,” tutup Arsilinus.
KR: Leo Jehatu

