Sebuah Catatan Psikologis
Oleh: Florentina Ina Wai
Staf Publikasi dan Jurnal Ilmiah di Stipar Ende
Di balik pintu-pintu rumah yang tertutup rapat, sebuah ketegangan sunyi sering kali meledak tepat di atas meja makan, di sela kepul uap nasi yang kian mahal harganya.
Pertanyaan yang terdengar remeh seperti, “Ke mana perginya uang belanja?” atau instruksi dingin “Kita harus lebih hemat,” kerap kali menjadi belati yang mengiris hati, dijawab dengan amarah yang meluap, air mata yang luruh, atau keheningan yang membeku.
Bagi suami, ini mungkin tampak seperti ‘drama emosional’ yang berlebihan. Namun sesungguhnya, di sana sedang terjadi sebuah elegi.
Kemarahan itu adalah alarm nyaring dari kesehatan mental yang tengah sekarat di tengah impitan ekonomi yang kian menyesakkan.
Tahun 2026 menjadi periode yang sangat menantang bagi ketahanan pangan keluarga. Data menunjukkan bahwa inflasi pangan secara konsisten bergerak di atas angka 5% dalam setahun terakhir.
Kenaikan harga komoditas dasar seperti beras medium hingga fluktuasi harga protein hewani telah membuat daya beli uang belanja merosot tajam secara riil.
Kondisi objektif ini sayangnya diperkeruh oleh tren media sosial yang destruktif, seperti konten “Masak Enak Rp10 Ribu” yang viral.
Secara psikologis, ini adalah bentuk ‘Gaslighting Ekonomi’. Konten tersebut menciptakan standar palsu (false standard) yang mengabaikan biaya variabel seperti gas LPG, minyak goreng, bumbu dasar, hingga biaya transportasi.
Ketika suami menjadikan anomali media sosial ini sebagai tolok ukur, ia secara tidak sadar sedang meruntuhkan realitas pasar yang dihadapi istri.
Istri dibuat merasa tidak kompeten, padahal ia sedang berjuang sendirian melawan badai ekonomi yang nyata.
Mungkin saja, banyak pria masih terjebak dalam mitos bahwa memasak hanyalah aktivitas fisik biasa.
Padahal, riset sosiologi modern menegaskan bahwa manajemen domestik adalah ‘Invisible Labor’ yang melelahkan karena adanya ‘beban mental’ (mental load) yang konstan.
Istri harus memetakan stok bumbu, menghitung nutrisi, hingga melakukan manajemen krisis saat harga bahan pokok melonjak tiba-tiba.
Secara psikologis, akumulasi beban mental ini memicu ‘Decision Fatigue’ (kelelahan mengambil keputusan).
Memikirkan variasi menu setiap hari dengan anggaran yang kian menipis memerlukan kerja otak tingkat tinggi.
Menurut teori ‘Self-Efficacy’ dari Albert Bandura, harga diri seseorang sering kali terikat pada keberhasilan tugasnya.
Saat suami mempertanyakan sisa uang belanja, otak istri menerjemahkannya sebagai serangan terhadap kompetensi dirinya.
Kemarahan istri bukanlah luapan emosi kosong, melainkan bentuk pertahanan diri terhadap rasa tidak dihargai atas beban mental yang ia pikul setiap hari.
Konflik uang belanja tidak akan selesai hanya dengan menambah nominal angka, melainkan memerlukan transformasi komunikasi berbasis empati.
Pertama, Validasi Emosional sebagai Penurun Tegangan. Teori Validasi (Marsha Linehan) menegaskan bahwa mengakui perasaan seseorang adalah kunci stabilitas hubungan.
Kalimat sederhana seperti, “Aku sadar dampak inflasi tahun 2026 ini sangat menyulitkanmu, terima kasih sudah berusaha mengatur dapur sekuat tenaga,” mampu menurunkan hormon stres secara signifikan.
Validasi menciptakan rasa aman bagi istri untuk bicara jujur mengenai kekurangan anggaran tanpa takut dituduh boros.
Kedua, Eksperimen Empiris melalui ‘Perspective Taking’. Suami perlu sesekali mengambil alih tugas belanja mingguan secara penuh.
Dengan merasakan langsung bagaimana uang “menguap” cepat di pasar, suami akan mendapatkan data empiris yang objektif.
Pengalaman langsung ini akan membunuh ekspektasi tidak realistis hasil “keracunan” konten media sosial.
Ketiga, Otonomi Diri dan Pemisahan Anggaran. Berdasarkan ‘Teori Self-Determination’, manusia memiliki kebutuhan dasar akan otonomi.
Harus ada pemisahan yang jelas antara dana operasional rumah tangga dan dana apresiasi istri.
Dengan memiliki otoritas atas dana pribadi, istri tidak akan memikul beban mental tambahan berupa rasa bersalah saat harus memenuhi kebutuhan dirinya sendiri.
Keempat, Mengubah Narasi: “Kita vs Masalah”. Mengadopsi Metode Gottman, pasangan harus berhenti memposisikan diri sebagai lawan. Fokuslah pada musuh bersama yakni Inflasi Pangan. Alih-alih bertanya “Ke mana uangnya?”, gunakan kalimat “Bagaimana strategi kita menghadapi kenaikan harga bulan ini?”.
Perubahan diksi ini mengubah posisi suami dari seorang “auditor” menjadi seorang “pendukung”.
Dapur yang damai dimulai bukan dari sisa kembalian yang banyak, melainkan dari hati yang merasa dihargai.
Istri yang mampu menyajikan kehangatan di tengah badai ekonomi adalah manajer krisis yang hebat, dan ia layak mendapatkan validasi atas setiap peluh yang ia teteskan.

