Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Papa Dhaka dan Warisan Solidaritas Tenda Mbepa Ende yang Tergerus Arus Teknologi
Gagasan

Papa Dhaka dan Warisan Solidaritas Tenda Mbepa Ende yang Tergerus Arus Teknologi

By Redaksi12 Februari 20266 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Aldo Fernandes
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Aldo Fernandes
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang

Dikisahkan di sebuah Desa Tenda Mbepa, Kecamatan Nangapenda, Kabupaten Ende, yang memiliki kebiasaan yang unik yang perlu diwariskan kepada generasi muda dan menjadi contoh bagi masyarakat. Ia adalah tradisi “Phapa Dhaka” atau dengan kata lain saling membantu satu dengan yang lain.

Hal yang menarik di desa tersebut, ketika ada hajatan maupun pekerjaan yang membutuhkan keterlibatan orang banyak, masyarakat setempat langsung berkeliling dari rumah ke rumah untuk menyampaikan tujuannya misalkan pembangunan rumah dan lain-lain.

Ada sebuah kisah yang menarik diceritakan oleh sebuah keluarga atas nama Bapa Alexander Fernandes dan Mama Tin Karwayu, yang pada waktu itu memiliki kebutuhan mendadak untuk membiayai anak sekolah dan hajatan perkawinan.

Dalam perbincangan kedua pasutri ini mareka memutuskan untuk “Bou Wawai” atau memotong babi, kemudian membagi-bagi dalam beberapa bagian, dijual dengan harga seratus ribu per kilogram.

Setelah melakukan pembagian ini, ketua yang dipercayakan untuk pembantaian tersebut bersama beberapa orang yang terlibat di dalamnya, langsung mengantar ke rumah-rumah masyarakat yang telah memesannya. Hal ini biasanya dilakukan pada hari raya, Natal maupun Paskah.

Di tengah arus zaman yang semakin menonjolkan kepentingan diri, solidaritas sosial seakan-akan perlahan-lahan mulai memudar bahkan kehilangan tempatnya.

Masyarakat modern kerapkali lebih merasa nyaman bila diagung-agungkan karena efesiensi, kecepatan dan kemajuan teknologinya, namun seringkali mengabaikan nilai kebersamaan yang telah menjadi fondasi yang fundamental.

Realitas yang terjadi sat ini, individualisme menjadi watak peradaban baru; manusia semakin sibuk dengan kepentingan pribadi daripada kepentingan bersama.

Dalam konteks inilah, budaya lokal yang menjunjung tinggi nilai-nilai solidaritas, kini dihadapkan dengan tantangan yang serius untuk tetap bertahan.

Namun, di tengah kecenderungan tersebut masih ada kampung-kampung yang masih berusaha untuk tetap setia menjaga nilai-nilai kebersamaan. Salah satunya adalah masyarakat Desa Tenda Mbepa, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende.

Di kampung ini, nilai gotong royong tidak sekedar menjadi sebuah slogan atau hannya bersifat pameran semata, melainkan diwujudkan dalam praktek hidup sehari-hari melalui budaya “papa dhaka” atau dengan kata lain gotong royong yang berakar kuat dalam kehidupan masyarakat.

Desa Tenda Mbepa dan Identitas Sosial Masyarakat Ende

Kabupaten Ende pada umumnya dikenal sebagai salah satu wilayah di Flores NTT yang kaya akan nilai adat dan kebudayaan.

Di balik keterbatasan infrastruktur dan tantangan ekonom, masyarakat Ende pada umumnya memiliki kekayaan sosial yang tak ternilai  yakni, rasa persaudaran, kekeluargaan, serta kebersamaan, dengan semangat yang tak pernah padam untuk saling menopang satu sama lain.

Nilai-nilai yang dihidupi masyarakat setempat tidak serta-merta tumbuh secara instan, melainkan lahir dari pengalaman hidup bersama dalam ruang geografis yang menuntut komitmen untuk tetap mempertahankannya.

Desa Tenda Mbepa merupakan gambaran yang yang konkret dari identitas sosial tersebut. Sebagai salah satu kampung yang mayoritas penduduknya hidup dari sektor pertanian dan kerja informal, masyarakatnya sangat bergantung pada relasi sosial.

Hal ini mau menunjukan bahwa “Papa Dhaka” menemukan maknanya. Tradisi ini bukan sekadar bentuk kerja bersama, melainkan cara pandang hidup yang menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Realitas yang terjadi pada masyarakat Desa Tenda Mbepa, orang tidak hidup untuk dirinya sendiri. Setiap hajatan, kerja kebun, pembangunan rumah, hingga peristiwa kedukaan selalu melibatkan orang lain.

Ketidakhadiran seseorang yang tidak memiliki alasan yang jelas dianggap sebagai bentuk pengingkaran terhadap ikatan sosial.

Hal ini mau menunjukan bahwa “Papa Dhaka” menjadi penanda bahwa hidup bermasyarakat berarti saling mengikat dan saling bertanggung jawab.

Apa Itu Papa Dhaka?

Secara sederhana kata Papa Dhaka dapat dipahami sebagai (budaya saling membantu tanpa pamrih). Kata ini lahir dari suatu kesadaran moral kolektif yang diyakini bahwa beban hidup seseorang akan terasa lebih ringan jika dipukulnya secara bersama-sama.

Seperti ada pepata kuno yang mengatakan “berat sama dipikul ringan sama di jinjing”. Bantuan yang diberikan oleh sesama tidak diukur dengan materi, melainkan kehadiran, tenaga, waktu serta cinta dan ketulusan yang mendalam dari setiap pribadi.

Bantuan meski kecil namun sangat berarti bagi mareka yang membutuhkan. Dalam bahasa adat masyarakat Tenda Mbepa “muyi meya kita ndia dunia, tau bhidi khodo sa toko tadhi sa tembu” yang berarti (hidup kita di dunia hanya bersifat sementara maka kita hidup dalam semangat persaudaraan dan kekeluargaan).

Papa Dhaka sesungguhnya terkandung nilai-nilai moral yang mendalam. Ia memebentuk karakter  masyarakat yang peka terhadap penderitaan sesama, menghargai kebersamaan, dan menolak suatu sikap acuh tak acuh.

Dalam konteks saat ini, Papa Dhaka berfungsi sebagai benteng etis yang menjaga masyarakat agar tidak terjerumus dalam sikap egoisme dan individualisme.

Krisis Papa Dhaka di Tengah Kemajuan Teknologi

Sungguh ironis, nilai luhur Papa Dhaka mengalami krisis yang memprihatinkan. Kemajuan dan perkembangan teknologi yang sejatinya diciptakan untuk memudahkan manusia justru membawa dampak paradoksal; mendekatkan yang jauh, atau menjauhkan yang dekat.

Di Tenda Mbepa, perubahan ini perlahan-lahan terasa  nyata. Generasi lebih akrab dengan dunia virtual ketimbang ruang sosial kampung.

Berdasarkan pengamatan sosial dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Tenda Mbepa, praktik Papa Dhaka tidak lagi dijalankan secara utuh seperti satu atau dua dekade lalu.

Jika dahulu hampir seluruh warga terlibat aktif dalam setiap kerja bersama dan peristiwa sosial, kini partisipasi mulai berkurang, terutama di kalangan generasi muda.

Secara reflektif, dapat diperkirakan bahwa sekitar 40–50 persen nilai dan praktik Papa Dhaka telah tergerus oleh “arus kemajuan teknologi dan perubahan pola hidup”.

Hal ini tercermin dari menurunnya keterlibatan dalam kerja kolektif, berkurangnya interaksi langsung antarwarga, serta meningkatnya sikap individualistik yang dipengaruhi oleh penggunaan gawai dan media sosial.

Memperkuat Papa Dhaka: Tanggung Jawab Bersama

Menghadapi realitas semacam ini, penulis merasa prihatin dengan krisis yang sedang terjadi.

Untuk menjaga agar tradisi Papa Dhaka tetap terlestarikan maka penulis menyarakan; pertama, dibutuhkan kesuatuan kolektif yang fundamental yang maenunjukan bahwa budaya lokal bukanlah suatu penghambat kemajuan, melainkan fondasi moral yang justru membuat kemajuan lebih manusiawi.

Teknologi sesungguhnya menjadi alat bantu, bukan penentu nilai hidup manusia.

Kedua, peran keluarga dan tokoh adat setempat sangat penting dalam mentransmisikan nilai Papa Dhaka kepada generasi muda.

Nilai solidaritas tidak cukup diajarkan secara verbal, tetapi harus direalisasikan dalam praktik nyata.

Anak-anak dan kaum muda perlu dilibatkan secara aktif dalam kegiatan sosial kampung agar mereka mengalami langsung makna kebersamaan.

Ketiga, pemerintah desa dan lembaga pendidikan dapat berperan dengan mengintegrasikan nilai Papa Dhaka dalam program pembangunan dan pendidikan karakter.

Pembangunan fisik tanpa pembangunan nilai hanya akan melahirkan masyarakat yang maju secara material, tetapi miskin secara moral.

Papa Dhaka bukan sekadar tradisi masa lalu, melainkan warisan nilai yang relevan bagi masa kini dan masa depan.

Di tengah krisis solidaritas yang melanda masyarakat modern, Papa Dhaka menawarkan alternatif cara hidup yang lebih manusiawi; hidup dalam kebersamaan, saling peduli, dan saling menopang.

Desa Tenda Mbepa telah memberi teladan bahwa di tengah gempuran kemajuan teknologi, nilai solidaritas masih bisa dijaga.

Tantangannya kini adalah bagaimana warisan ini tidak hanya dikenang, tetapi terus dihidupi.

Sebab, ketika Papa Dhaka benar-benar hilang, yang punah bukan hanya sebuah budaya, melainkan juga kemanusiaan kita sendiri.

Aldo Fernandes
Previous ArticleJaksa Sebut Dalil Praperadilan Chris Liyanto Masuk Pokok Perkara
Next Article Polres Manggarai Limpahkan Berkas Kasus Narkotika ke Kejaksaan

Related Posts

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.