(Masa Prapaskah, Tahun A; Sabtu, 21 Februari 2026; Yes 58:1-9a; Mzm 51:3-4.5-6a.18-19; Luk 5:27-32)
Oleh: Rm. Inosensius Sutam
1
Hidup kita adalah anugerah Tuhan, sesama, dan alam. Bayangkan jika tidak ada orang tua, guru, keluarga, tenaga medis, pedagang, dst. Demikian juga jika tidak ada air, tanah, matahari, hewan, tumbuhan, dll. Tak bermakna hidup ini. Kita hidup dalam pelayanan, jasa, dan biaya dari orang lain, dan persembahan dari alam. Dalam perspektif bacaan hari ini, kita hidup karena “cukai” (pajak hidup) dari sesama dan alam. Pada gilirannya, hidup kita adalah cukai atau persembahan untuk sesama, alam, dan Tuhan.
2
Dalam bacaan pertama, Nabi Yesaya “cukai” hidup yang harus kita persembahkan untuk melayani sesama. Pada gilirannya Tuhan menganugerahkan kita cukai hidup yang berlimpah.
3
Pertama, kita harus bersolidaritas, menolong sesama terutama orang tertindas, orang lapar, dll. Maka Tuhan memberikan kita terang, kita dialiri dengan air hidup dan akan menjadi sumber air hidup.
4
Kedua, dengan air hidup itu, kita mampu memperbaiki reruntuhan sosial, struktur dan sistem sosial yang salah dan menindas orang.
5
Ketiga, kita setia pada kewajiban religius dan spiritual: menghormati waktu doa, taat hukum Tuhan. Maka Tuhan akan membawa kita melintasi bukit-bukit dan mengenyangkan kita. Artinya, kita bisa mencapai visi hidup kita, cita-cita dan program hidup kita.
6
Dalam Injil, Yesus memanggil Lewi pemungut cukai, untuk mengikutinya. Memungut cukai dan memberi cukai sebenarnya tidak buruk. Karena itu juga bagian dari cukai hidup kita untuk mendukung sesama dan kehidupan sosial yang lebih besar.
7
Namun ada yang salah pada kasus dan konteks Lewi. Lewi menjadi pemungut cukai untuk pemerintah Romawi yang adalah penjajah. Hasil cukai itu dipakai untuk menguatkan sistem dan struktur pemerintahan romawi (antara lain mengganji tentara) yang menindas orang Israel. Inilah cukai manusia yang menindas.
8
Yesus memanggil Lewi untuk keluar dari sistem dan struktur sosio-politis yang menindas. Namun Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tidak senang Yesus dekat dengan pemungut cukai seperti Lewi. Mereka tidak sadar bahwa mereka sebenarnya juga membentuk struktur yang menindas atas nama agama dan Tuhan. Mereka memakai cukai Allah untuk memenuhi hasrat “cukai” manusiawi mereka dalam mempertahankan kuasa dan gaya dan selera hidup elitnya.
9
Bacaan hari ini menyadarkan kita akan makna tridharma spiritual (doa, puasa, sedekah)selama masa prapaskah ini
Pertama, ketiganya adalah cukai Allah. Artinya anugerah Allah bagi kita dan persembahan kita untuk Allah dalam membangun hidup personal kita, dan sebuah panggilan untuk membagi hidup kepada sesama yang malang (yang lapar, tertindas, miskin, dll.).
10
Kedua, tridharma spiritual sebagai cukai Allah bukan saja sebuah panggilan untuk kesuksesan hidup kita secara personal, dan membantu sesama karena atas kebaikan secara personal, tetapi seperti penegasan Nabi Yesaya dalam bacaan pertama, kita juga dipanggil untuk untuk memperbaiki reruntuhan sistem dan struktur sosio-politik dan religius yang menindas. Membebaskan pelakunya seperti Lewi dari jaringan jahat itu.
11
Ketiga, tridharma cukai Allah (doa, puasa, sedekah) akan mendekatkan kita dengan alam. Nabi Yesaya katakan kita akan menjadi “terang” dan bebas dari gelap, kita akan menjadi sumber air, dan bebas dari rasa haus dan kekeringan, dan melintasi “bukit” berarti bebas dari cara berpikir, dari hati, roh yang sempit dan kerdil.

