Cerpen
Oleh: Gonsi Kusman
Mahasiswa Institusi Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero
Sore itu, di teras rumah yang diterpa angin sepoi-sepoi dari bukit, Ibu Siska bergumam, “Ternyata tabernakel berjalan itu kini berubah menjadi wanita bermata biru.” Jari mungilnya bergerak lincah di layar ponsel barunya, menyusuri lautan gambar.
Bapa Yos, yang sedang menyeruput kopi asli Manggarai, hanya diam sambil menikmati. Ia seketika meletakkan cangkir di kursi kayu sebelah kirinya, lalu tersenyum tipis, menangkap kilau keheranan di mata sang istri.
***
Setelah kenyang dengan rebok [1] dan nasi jagung hangat yang menenangkan perut, mereka berdua bersantai di meja makan, menanti kantuk merangkul mereka ke dalam hangat pelukan ranjang malam.
“Sis, tabernakel berjalan yang kau sebut tadi sore itu siapa?” tanya Bapa Yos. Suaranya lembut seperti hembusan daun enau.
“Ite [2] tak tahu? Siapa lagi kalau bukan Tanta Maria, yang rumahnya persis di bawah gereja itu,” jawab Ibu Siska datar. Matanya masih tertuju pada bayang masa lalu.
“Jangan asal menuduh kalau tak ada bukti,” sahut Bapa Yos sambil melangkah ke kamar.
Tanta Maria adalah seorang janda dengan dua anak. Ia ditinggalkan suaminya sejak lima tahun lalu, tepat saat melahirkan anak keduanya. Awalnya, suaminya pergi merantau ke Kalimantan, bekerja sebagai buruh sawit demi memenuhi kebutuhan keluarga, karena anak pertamanya saat itu baru masuk SMA.
Namun, setelah setahun di sana, suaminya hilang kabar. Ternyata, ia menikah lagi dengan seorang gadis Dayak. Tanta Maria mendapat berita itu dari adik iparnya yang baru-baru pulang dari sana. Sejak saat itu, Tanta Maria menjalani kehidupan keluarga sendirian, tanpa seorang suami.
Ia menyerahkan segalanya kepada Tuhan, berharap diberi menjalani hidup yang lebih baik. Meskipun keadaan ekonomi sulit untuk menghidupi kedua anaknya, ia selalu rajin berdoa.
Setiap pagi, dengan balutan kain songke [3] dan kebaya putih, ia tak pernah absen bertemu Tuhan di gereja. Apalagi pada hari Minggu atau perayaan besar seperti Natal dan Paskah. Ia laksana akar pohon beringin yang melekat erat di kedalaman abadi, sungguh tak tergoyahkan.
Doa baginya bukan sekadar kata-kata, melainkan napas harian dan santapan jiwa yang tak tergantikan. Dengan hidup doa yang kokoh bagai batu karang, umat paroki menjulukinya ‘tabernakel berjalan’, wadah suci yang berpijak di tanah.
Karena itu, ia sering dipanggil untuk berdoa bagi orang sakit. Tak heran, namanya pun menyebar bak aroma kopi tuk [4] di wilayah paroki. Tak ada yang tak mengenalnya.
Barangkali, namanya senikmat aroma kopi tuk, melekat dalam rasa candu yang menderu. Namun, bagi Tanta Sebet dan Ibu Siska, Tanta Maria hanya sedang berpura-pura menjadi pendoa. Sebenarnya, ia ingin mencari kesempatan untuk mendapatkan uang.
Berbeda dengan Romo Yadi. Dalam irama misa suatu hari Minggu, Romo Yadi menyelipkan nama Tanta Maria dalam khotbahnya. Ia menjadikan Tanta Maria teladan bagi umat, sosok setia yang mencerminkan bacaan Injil tentang doa, sehingga jiwa-jiwa pemalas pun tergerak untuk berubah.
“Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, doa itu bagaikan payung ilahi yang melindungi hidup dari hujan cobaan yang mengguyur. Rajinlah berdoa, seperti Tanta Maria,” tegas Romo Yadi di akhir khotbah.
Pandangannya tertuju pada Tanta Maria di bangku depan paling kiri. Tanta Maria selalu menunduk malu setiap kali mata Romo Yadi menatapnya.
Matanya tak sanggup membalas tatapan itu.
Gaya Romo Yadi memang demikian: khotbahnya selalu dihiasi cerita inspiratif yang selaras dengan Injil hari itu.
Variasinya tak terduga; kadang di bagian awal dan kadang di ujung, hanya untuk menekankan pesan Injil. Kali ini, Romo Yadi menempatkan cerita inspiratif di penghujung khotbah.
Ia sekali lagi menyoroti teladan doa Tanta Maria, agar kata-kata itu meresap seperti gumpalan embun pagi ke dalam hati umat.
“Ehem, ehem. Tanta Maria lagi!” batuk pelan Tanta Sebet dari bangku belakang, sengaja mengganggu. “Tanta Maria, selamat ya, namamu selalu disebut oleh Romo Yadi,” bisiknya lembut ke telinga Tanta Maria, tepat saat Romo Yadi mengangkat Tubuh dan Darah Kristus, sementara umat berlutut hormat.
“Kenapa memangnya? Jangan berisik di rumah Tuhan.
Ini bukan warung gosip!” balas Tanta Maria dengan kesal. Ketenangan seketika buyar saat hatinya curhat dengan Yang Maha Esa.
“Tidak apa, tapi kan…” sahut Ibu Siska dari sebelah kiri Tanta Sebet. Namun, “Amin” umat menyela cepat, dan semua bangkit berdiri.
“Ah, Tuhan, mengapa begini?” desah Tanta Maria. Matanya terpejam, dan dalam posisi berlutut ia bergumam, “Apa salahku?”
Tanta Sebet dan Ibu Siska memang dikenal sebagai pemburu gosip. Mata mereka sangat tajam menangkap celah-celah kesalahan. Siapa pun yang tak sempurna di mata mereka, langsung dijadikan bahan gosip.
Konon, mereka pernah menyebarkan rumor tentang Romo Mikael, pastor di paroki itu sebelum Romo Yadi. Kata mereka, Romo Mikael memiliki kedekatan khusus dengan Tanta Maria.
“Eh, dulu Tanta Maria rajin misa pagi karena mesra dengan Romo Mikael. Kalau tidak, mana mungkin,” sinis salah satu dari mereka.
“Jangan sampai sekarang juga begitu. Lihat saja Romo Yadi, selalu menyentil nama Tanta Maria setiap kali berkhotbah,” tambah Tanta Sebet sebelum mereka meninggalkan gereja.
Dugaan itu dibawa pulang, sementara pesan khotbah Romo Yadi dilupakan begitu saja. Hanya hitungan detik, gosip itu akan dibumbui menjadi hidangan harian umat separoki.
Hari-hari berganti. Dugaan mereka menyebar seperti asap, mungkin terlalu basi setelah diperam. Namun, nama Tanta Maria tetap harum sebagai pendoa saleh di hati banyak umat.
Tak terasa, Paskah pun tiba. Pada misa hari puncak, Romo Yadi kebetulan mendapat giliran memimpin. Saat khotbah, ia menutup dengan cerita inspiratif; lagi-lagi Tanta Maria sebagai cermin Injil hari itu.
Saat menyebut namanya, pandangan Romo Yadi tertuju ke bangku depan paling kiri, tempat yang setia menopang Tanta Maria saat ia merindukan Tuhan. Tapi kosong. Bangku itu sepi, tak ada yang menempatinya. Wajah Romo Yadi seketika berubah, seperti angin mendadak berhembus dingin. Di mana Tanta Maria? Ada apa dengannya?
Tak hanya Romo Yadi, Tanta Sebet dan Ibu Siska pun terkejut. Bangku di depan mereka ditinggalkan begitu saja.
“Barangkali datang terlambat dan memilih duduk di belakang,” gumam Ibu Siska.
“Bisa jadi, tapi tidak mungkin. Rumahnya dekat sekali,” balas Tanta Sebet, tatapannya kosong ke bangku langganan itu.
“Kalau begitu, di mana? Jangan-jangan…”
“Huss… Selesai misa baru cari tahu,” bisik Tanta Sebet ke telinga Ibu Siska, karena melihat Bapa Yos di sebelah memasang muka keram.
Tak lama selepas misa, mereka mengunjungi rumah Tanta Maria, pura-pura ramah. “Permisi, Tanta Maria ada?” tanya Tanta Sebet pada anak pertamanya yang muncul dari dapur.
“Ibu tidak ada,” jawab anak itu.
“Ia ke mana?” tanya Tanta Sebet lagi.
“Lima hari lalu ibu ke Labuan Bajo.”
“Pergi apa ke Labuan Bajo?” tanya Ibu Siska penasaran.
“Dia pergi merantau ke Bali. Dua hari lalu, ia mengabari kami bahwa ia sudah tiba di Bali.”
Tanta Sebet dan Ibu Siska terkejut mendengar hal itu. Kepergian Tanta Maria menimbulkan gosip baru. “Jangan-jangan, ia sudah punya suami baru di Bali,” bisik Tanta Sebet kepada Ibu Siska.
Berita kepergian Tanta Maria ke Bali pun terdengar di telinga Romo Yadi, saat Ibu Siska dan Bapa Yos berkunjung ke pastoran. Romo Yadi kaget saat mendengar cerita dari Ibu Siska.
“Tanta Maria pergi ke Bali itu buat apa?” tanyanya, sambil menikmati kopi tuk di teras pastoran bersama Bapa Yos dan Ibu Siska.
“Mungkin pergi bekerja, romo,” tebak Bapa Yos.
“Bapa yakin dia pergi bekerja?” letup Ibu Siska, tegas.
“Dia kira kerja di Bali itu gampang? Kalau begitu, kenapa ia tidak minta kerja di pastoran bersama saya saja,” ungkap Romo Yadi. “Susah cari sosok seperti Tanta Maria di paroki ini,” tambahnya.
“Betul, romo. Kita kehilangan sosok pendoa. Anak-anaknya juga ditinggalkan,” ujar Ibu Siska. Matanya berkaca-kaca pura-pura, seolah ia benar-benar kehilangan Tanta Maria. Namun, dalam hatinya berkata lain. Ia semakin curiga dengan ekspresi Romo Yadi.
Saat pulang dari pastoran, jantung Ibu Siska dan Bapa Yos nyaris tercopot ketika Tanta Sebet muncul dari belakang.
“Ah, Tanta Sebet,” kata Bapa Yos dengan napas tersengal.
“Kalian sudah tahu belum? Tanta Maria punya suami baru. Bule lagi!” Tanta Sebet mendekatkan layar ponselnya, menunjukkan foto Tanta Maria berpelukan dengan pria bule di Pantai Seminyak. Mereka terdiam.
Tubuhnya yang dulu selalu dibalut kebaya putih dan kain songke, kini polos. Hanya mengenakan bra dan celana dalam, lalu melekat di dada pria bermata biru itu. Keraguan pun mulai bertunas di pikiran mereka.
“Ada apa dengan Tanta Maria? Jangan-jangan ini bukan dia. Mungkin ini hasil editan AI, kan?” tanya Bapa Yos dengan suara gemetar, tak percaya.
“Ini betul Tanta Maria!” ujar Tanta Sebet, sambil menunjuk foto lain yang lebih menggoda; bibir mereka bersentuhan di kolam sebuah hotel pencakar langit.
“Ah, ini gila,” desah Bapa Yos.
“Benarkah?”
Tubuh suci itu dipajang tanpa adab di dinding Facebook, menjadi santapan mata para ‘buaya darat’. Mungkin mata Romo Yadi juga turut menikmati? Bagaimana mungkin Tanta Maria tergoda dengan pria bermata biru itu? Apakah mata Tuhan kalah teduh bila ditatap? Atau saat ia hendak memandang, Tuhan sedang memejamkan mata?
Entahlah….
Mereka tak pernah tahu. Tanta Maria memilih pergi merantau ke Bali karena kemiskinan yang mencekik hidupnya. Ia bermodalkan nekat, tanpa ijazah. Untuk mendapatkan uang, satu-satunya pilihan adalah ia melayani para lelaki bule, meski tak bisa berbahasa Inggris. Bagi Tanta Maria, barangkali menjual diri lebih baik karena bisa menghasilkan uang, daripada tinggal di kampung dan selalu dijadikan bahan gosip, bahkan di rumah Tuhan sekalipun.
Keterangan:
[1] Rebok: Makanan khas Manggarai yang terbuat dari jagung atau beras
[2] Ite: Panggilan sopan terhadap lawan bicara
[3] Songke: Kain tenun khas daerah Manggarai
[4] Kopi tuk: Kopi tumbuk

