Kupang, VoxNTT.com – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memastikan sebanyak tujuh dokter spesialis dari total 58 peserta nasional pada batch ketiga akan ditempatkan di sejumlah daerah yang masih kekurangan tenaga medis.
Meski mendapatkan kuota terbesar di seluruh Indonesia, namun menurut Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, kebutuhan dokter spesialis masih sangat banyak, mengingat hampir semua kabupaten dan kota kekurangan dokter spesialis.
Ia menyatakan, Pemprov NTT tengah menyiapkan skema penempatan tepat sasaran serta dukungan tambahan agar para dokter tersebut kembali dan mengabdi di kabupaten/kota yang membutuhkan.
“Harapan kami sederhana namun penting: dengan semakin banyak dokter spesialis yang kembali ke NTT, masyarakat tidak perlu lagi dirujuk jauh ke luar daerah atau Pulau Jawa,” kata Melki saat menghadiri Orientasi Pusat Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) berbasis rumah sakit di Auditorium Dr. J. Leimena, Gedung Adhyatma Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Rabu, 25 Februari 2026.
“Pelayanan kesehatan cukup di provinsi bahkan kabupaten, lebih dekat, lebih terjangkau, dan lebih berkualitas.”
Melki berkata, program ini merupakan langkah nyata negara untuk memastikan pemerataan layanan kesehatan hingga wilayah pinggiran Indonesia.
Ia pun menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin beserta jajaran, karena program pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit (hospital-based) ini sangat dibutuhkan daerah-daerah seperti NTT, Maluku, Maluku Utara, hingga Papua yang selama bertahun-tahun kekurangan dokter spesialis.
Menurut Melki, pemerintah sedang mengubah paradigma pendidikan spesialis, di mana dokter bukan lagi mahasiswa yang harus menanggung biaya mahal, tetapi profesional yang bekerja sambil dilatih, sehingga mendapat beasiswa dan penghasilan selama pendidikan.
Rekrutmen juga berbasis kebutuhan daerah dan putra-putri asli daerah, agar setelah lulus mereka kembali mengabdi di wilayahnya masing-masing. Ini solusi konkret untuk ketimpangan distribusi tenaga medis nasional. [VoN]

