Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»VOX POPULI»VOX DESA»Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni
VOX DESA

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

By Redaksi7 Maret 20266 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Pelabuhan Kayu untuk para nelayan Desa Nangadhero (Foto: Patrianus Meo Djawa/ VoxNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mbay, VoxNTT.com – Mungkin tak banyak desa di Flores yang memiliki profil seperti Desa Nangadhero di Kabupaten Nagekeo. Desa pesisir di wilayah utara ini menyimpan kisah tentang pertemuan para pendatang, kehidupan petani dan nelayan, hingga harmoni dua komunitas agama yang hidup berdampingan.

Di balik keindahan alamnya, desa ini juga menyimpan potensi sekaligus ancaman bencana alam yang dapat datang sewaktu-waktu.

Desa Nangadhero merupakan salah satu desa pesisir di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, yang memiliki karakter wilayah yang cukup unik.

Desa ini berdiri sejak tahun 2006 dan sejak dahulu dikenal memiliki tanah yang subur di wilayah daratan serta hasil laut yang melimpah.

Bentangan alamnya yang asri turut menjadi penopang kehidupan masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perikanan.

Kehidupan sosial masyarakat di desa ini juga dikenal harmonis. Warga dengan latar belakang suku dan agama yang berbeda hidup berdampingan secara damai, menjaga hubungan sosial yang telah terbangun secara alami dari generasi ke generasi.

Berdasarkan data demografis tahun 2025, jumlah penduduk Desa Nangadhero tercatat sebanyak 1.805 jiwa, terdiri dari 927 laki-laki dan 878 perempuan. Penduduk tersebut tersebar di empat dusun yang menjadi bagian dari wilayah administrasi desa.

Dari sisi agama, warga yang memeluk Islam tercatat sebanyak 916 orang, terdiri dari 465 laki-laki dan 451 perempuan. Sementara itu, pemeluk agama Katolik berjumlah 872 orang, terdiri dari 453 laki-laki dan 419 perempuan. Dengan demikian, jumlah pemeluk Islam lebih banyak sekitar 44 orang dibandingkan pemeluk Katolik.

Selain dua agama tersebut, terdapat pula sebagian kecil warga yang memeluk agama lainnya. Penduduk yang beragama Kristen Protestan tercatat sebanyak 12 orang, terdiri dari 8 laki-laki dan 4 perempuan. Sementara itu, warga yang beragama Hindu berjumlah 5 orang, terdiri dari 1 laki-laki dan 4 perempuan. Adapun agama Buddha, Konghucu maupun aliran kepercayaan lainnya tidak tercatat dalam data kependudukan desa.

Secara geografis, Desa Nangadhero berada pada dataran rendah dengan ketinggian sekitar 10,5 meter di atas permukaan laut. Desa ini memiliki suhu rata-rata antara 29 hingga 34 derajat Celsius dan berjarak sekitar 14 kilometer dari Kota Mbay, ibu kota Kabupaten Nagekeo.

Di bagian utara, desa ini menghadap langsung ke Laut Flores yang merupakan bagian dari sistem perairan Samudra Pasifik. Kondisi tersebut membuat kawasan pemukiman desa cukup rentan terhadap ancaman banjir laut, gelombang pasang, serta terpaan angin kencang.

Untuk melindungi wilayah pemukiman warga, pada tahun 2018 Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur membangun tembok penahan gelombang sepanjang kurang lebih 300 meter di sepanjang garis pantai. Tembok ini menjadi benteng perlindungan bagi kawasan pemukiman warga dari ancaman abrasi dan gelombang laut.

Desa Nangadhero juga memiliki keunikan tersendiri dari sisi komposisi penduduknya. Tidak ada komunitas penduduk asli yang secara turun-temurun mendiami wilayah tersebut. Hampir seluruh warga desa merupakan penduduk pendatang yang datang dan menetap secara bertahap sejak desa ini mulai berkembang.

Sebagian besar warga yang berprofesi sebagai petani dan pekebun berasal dari wilayah pesisir selatan Kabupaten Nagekeo melalui program transmigrasi lokal. Kelompok ini umumnya memeluk agama Katolik dan mengelola sebagian besar lahan pertanian serta perkebunan yang ada di desa tersebut.

Sementara itu, komunitas nelayan yang tinggal di kawasan pesisir pantai sebagian besar berasal dari pulau seberang, terutama dari Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan. Mereka datang secara bertahap untuk mencari penghidupan sebagai nelayan dan umumnya memeluk agama Islam.

Meski komposisi penduduk dengan latar belakang agama yang berbeda cukup berimbang, kehidupan sosial masyarakat Desa Nangadhero berjalan sangat harmonis. Selama bertahun-tahun, warga Katolik dan Muslim hidup berdampingan tanpa pernah terjadi konflik yang dipicu oleh isu suku, agama, ras maupun antar golongan.

Keunikan lain yang mencerminkan kerukunan masyarakat dapat dilihat dari keberadaan kawasan pemakaman umum Katolik dan Islam yang berdampingan di pesisir pantai. Kedua kompleks pemakaman tersebut berdiri di atas tanah urugan yang diperkuat dengan tembok penahan sebagai perlindungan dari ancaman abrasi laut.

Selain dikenal sebagai desa pesisir, Nangadhero juga memiliki potensi wisata alam yang menarik. Salah satu destinasi yang cukup dikenal adalah objek pemandian air panas Nangadhero yang sumber mata airnya muncul tepat di tepi pantai.

Air panas alami tersebut dipercaya masyarakat dapat membantu meredakan berbagai penyakit kulit, melancarkan peredaran darah, serta memberikan efek relaksasi bagi tubuh. Perpaduan antara air panas alami dan panorama laut menjadikan tempat ini memiliki daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.

Secara geografis, Desa Nangadhero berbatasan langsung dengan Laut Flores di sebelah utara, Kelurahan Lape di sebelah selatan, Desa Aeramo di sebelah timur, serta Desa Marapokot di sebelah barat. Letak ini menjadikan Nangadhero sebagai desa pesisir yang sekaligus memiliki kawasan pertanian yang cukup produktif.

Berdasarkan data profil desa tahun 2025, luas wilayah Desa Nangadhero didominasi oleh lahan pertanian. Area persawahan tercatat mencapai sekitar 348 hektare, sementara lahan pemukiman sekitar 10 hektare dan lahan perkebunan sekitar 10 hektare.

Selain itu terdapat pekarangan warga seluas sekitar 225 hektare, kawasan pemakaman sekitar 1 hektare, serta berbagai fasilitas umum seperti perkantoran desa, sekolah, pasar, lapangan olahraga, dan jaringan jalan desa.

Massa menolak kehadiran proyek geothermal di Nagekeo (Foto: Patrianus Meo Djawa/ VoxNtt.com)

Lahan sawah menjadi salah satu potensi utama masyarakat. Dari total lahan pertanian yang ada, sekitar 241 hektare merupakan sawah irigasi teknis yang dimanfaatkan untuk produksi padi.

Pada tahun 2025, luas tanam padi sawah tercatat mencapai sekitar 287,45 hektare dengan total produksi sekitar 1.782,19 ton. Data ini menunjukkan bahwa sektor pertanian, khususnya produksi padi, masih menjadi sumber penghidupan penting bagi masyarakat desa.

Selain pertanian, Desa Nangadhero juga memiliki potensi sumber daya alam berupa kawasan mangrove sekitar 3 hektare serta hutan alami sekitar 1 hektare yang berperan menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.

Namun, di balik potensi alam yang melimpah dan kehidupan masyarakat yang harmonis, sejumlah ancaman juga membayangi masa depan desa ini.

Aancaman terhadap ekosistem laut pernah terjadi pada tahun 2018 ketika kawasan perairan di sekitar Desa Nangadhero. dilaporkan sejumlah nelayan berasal dari luar Pulau Flores dengan belasan perahu melakukan praktik penangkapan ikan ilegal tanpa tersentuh oleh aparat keamanan setempat.

Para nelayan tersebut diduga berasal dari wilayah Sape di Nusa Tenggara Barat serta Kayuadi di Sulawesi Selatan. Mereka melakukan penangkapan ikan menggunakan potasium, bom ikan, serta metode penyelaman menggunakan kompresor angin yang merusak ekosistem laut.

Aksi tersebut akhirnya memicu kemarahan warga. Para nelayan lokal Nangadhero kemudian berkumpul dan melakukan perlawanan dengan mengusir para pelaku penangkapan ikan ilegal dari perairan mereka. Sejak saat itu, aktivitas perusakan laut di kawasan tersebut mulai berkurang.

Selain kerusakan ekosistem laut akibat praktik penangkapan ikan ilegal, kekhawatiran baru juga muncul dari rencana eksplorasi energi panas bumi di wilayah tersebut. Sumber air panas Nangadhero yang selama ini dikenal sebagai salah satu objek wisata alami desa disebut-sebut masuk dalam tiga titik di Kabupaten Nagekeo yang direncanakan akan dieksplorasi sebagai sumber pembangkit listrik tenaga panas bumi oleh PT PLN (Persero).

Rencana tersebut telah memicu penolakan dari para pemuka agama, baik dari komunitas Katolik maupun Islam yang khawatir dapat merusak sistem pertanian dan ancaman limbah pada laut serta mengancam keberadaan sumber air panas yang selama ini menjadi bagian dari salah satu identitas pariwisata Desa Nangadhero.

Penulis: Patrianus Meo Djawa

Desa Nangadhero Kabupaten Nagekeo Nagekeo
Previous ArticlePentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas
Next Article Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

Related Posts

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026

Profil Desa Paka, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai

4 Maret 2026
Terkini

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.