Oleh: Rm. Inosensius Sutam
Tempat tinggal kita ibarat Yerusalem dan Galilea. Biarkan mereka menjadi pohon rindang yang menaungi dan menghidupi banyak orang. Bukan pohon meranggas yang akan mengancam orang dengan kekeringan, banjir, dan kelaparan.
(Minggu Prapaskah IV, Tahun A; Sabtu, 21 Maret 2026; Yer 11:18-20; Mzm 7: 2-3.9bc-10.11-12; Yoh 7:40-53)
1
Kuasa itu mempunyai logikanya sendiri untuk memperoleh dan mempertahankannya. Sayang logikanya sering merugikan orang lain. Untuk Israel, kuasa itu datang dari Allah. Maka ketika kuasa itu tidak berjalan sesuai dengan logika Sang Pemberi Kuasa. Maka perlu ada kritikan dan perbaikan. Di sini ketegangan terjadi. Sang pengeritik justru diancam. Itu yang diperlihatkan oleh kedua bacaan hari ini.
2
Dalam bacaan pertama (Yer 11:18-20), Nabi Yeremia diancam akan dicabut nyawanya seperti sebuah pohon yang ditebang dengan buah-buahnya. Sehingga tidak meninggalkan jejak sedikit pun. Namun ia mengadu kepada Allah dan berlindung padaNya. Ia mencari keadilan padaNya dan menyerahkan perkaranya kepadaNya. Ia yang mengenal hati manusia. Sebab dialah yang mengutusnya.
3
Dalam bacaan Injil (Yoh 7:40-53), Yesus menimbulkan perbantahan. Sehingga banyak yang menganggapnya nabi dan Mesias. Asal-usul historis Yesus kurang meyakinkan dalam pandangan mereka. Buahnya tindakan dan kata-kata Yesus bagus. Di sini pohon sejarah keselamatan hanya dibaca sejauh batang, rantingnya saja. Belum masuk pada kedalaman akar. Belum menyentuh isi dan hati. Karena itu Yesus malah diancam. Setiap tanah, setiap daerah bisa menumbuhkan pohon keselamatan.
4
Bacaan hari ini mengajak kita untuk merenung….
Pertama, pada saat kita berada pada sebuah jabatan, dan kuasa, dan status atau fungsi yang mengalir darinya, maka kita sadar kuasa itu untuk mengalirkan kebaikan bagi orang lain. Ia ibarat pohon rindang. Banyak yang datang untuk berteduh. Banyak yang lihat ada kuman dan ulat yang menggerogoti pohon. Ada dahan dan ranting yang berpenyakit. Perlu diamankan. Jangan dilihat hal itu sebagai ancaman. Lalu mengancam balik. Jika begini, pohon kuasa ini akan mati.
5
Kedua, setingan ekologis dari kedua bacaan hari ini jelas: pohon, buahnya, alam semesta, Yerusalem, dan Galilea. Tempat tinggal kita ibarat Yerusalem dan Galilea, dan janganlah dipertentangkan. Biarkan mereka menjadi pohon rindang yang menaungi dan menghidupi banyak orang. Bukan pohon meranggas yang akan mengancam orang dengan kekeringan, banjir, dan kelaparan. Tempat asal kita hendaknya menjadi lingkungan ekologis yang menyejukkan. Agar ramalan kehidupan dan karya profetis kita menyelamatkan.

