Mbay, VoxNTT.com – Fenomena alam berupa keretakan tanah dikabarkan terjadi di Desa Lado Lima Timur, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo. sejak Kamis, 19 Maret 2026, sepanjang kurang lebih 100 meter tanah dilokasi tersebut terpantau mengalami keretakan dengan lebar mencapai 30 hingga 40 sentimeter.
Antonius Towa, Ketua BPD Desa Lado Lima Timur berujar fenomena alam itu telah memicu kekhawatiran warga desa hingga puluhan kepala keluarga telah memilih untuk mengungsi.
Akibat kejadian itu, sedikitnya 60 kepala keluarga memilih mengungsi ke rumah keluarga dan kerabat yang dianggap lebih aman dan jauh dari lokasi retakan.
Paul Jogo, warga lainnya mengungkapkan bahwa fenomena tersebut bermula dari suara gemuruh yang terdengar dari dalam tanah pada Kamis malam.
“Awalnya kami dengar suara gemuruh dari dalam tanah. Setelah dicek, muncul retakan sekitar 10 meter dan dari dalamnya keluar mata air,” ungkap Paul.
Tak berselang lama, retakan kedua kembali terjadi dengan ukuran yang lebih panjang dan lebar, juga disertai munculnya sumber mata air baru. Karenanya, warga mulai berspekulasi akan adanya bencana alam yang dapat mengancam keselamatan jiwa raga mereka.
Fenomena serupa juga terpantau terjadi di sejumlah desa disekitarnya. Di Desa Kota Keo I misalnya, retakan tanah sepanjang 5 meter nyaris memutus akses jalan penghubung Raja–Maunori.
Menanggapi kondisi tersebut, Tim II Komisi II DPRD Nagekeo melakukan peninjauan langsung ke lokasi pada Jumat, 27 Maret 2026. Anggota Komisi II, Anto Sukadame Wangge, menegaskan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menghadirkan ahli geologi.
“Kita akan segera desak Pemerintah untuk menghadirkan ahli geologi guna memastikan apakah fenomena ini berbahaya atau tidak bagi masyarakat,” ujar Anton.
Ia menambahkan, kajian dan analisa dari ahli geologi sangat penting untuk mengungkap penyebab utama keretakan tanah, sekaligus memastikan apakah fenomena tersebut merupakan indikasi awal pergerakan tanah yang berpotensi longsor atau sekadar retakan biasa.
Di tengah situasi tersebut, keluhan warga terhadap lambannya respons pemerintah pun muncul. Seorang warga Desa bernama Herman Yosep Geo, bahkan secara emosional meminta agar bencana segera terjadi. Pernyataan itu diduga dipicu oleh rasa frustrasi akibat minimnya perhatian pemerintah.
Diketahui, sejak retakan pertama muncul, sekitar 220 jiwa telah mengungsi secara mandiri selama sepekan terakhir. Mereka tinggal di rumah sanak keluarga di desa tetangga dalam kondisi serba terbatas dan penuh ketidakpastian.
Menanggapi keluhan itu, Anggota Komisi II DPRD Nagekeo dari Partai Perindo, Elias Cuma, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat.
“Tidak bermaksud mengabaikan bapak ibu di sini, tetapi lebih karena padatnya agenda dan bertepatan dengan hari besar keagamaan sehingga baru hari ini kami bisa mengunjungi,” ujarnya.
Elias juga meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nagekeo untuk segera turun tangan memberikan edukasi kepada masyarakat terkait fenomena tanah longsor, guna meningkatkan pemahaman dan kesiapsiagaan warga dalam menghadapi potensi bencana.
Penulis: Patrianus Meo Djawa

