Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Lagu MBG: Ketika Rakyat Berbicara lewat Nada
Gagasan

Lagu MBG: Ketika Rakyat Berbicara lewat Nada

By Redaksi2 Juni 20265 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Otoritas.co.id)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Cornelian Ule

Mahasiswa Universitas Widya Mandira Kupang
Prodi Pendidikan Bahasa Inggris

Beberapa hari terakhir ini, publik Indonesia diramaikan oleh sebuah jingle pendek yang terasa receh yang  sulit lepas dari kepala. Jingle itu adalah”MBG, Mas Bahlil Ganteng… Buah apa yang paling manis? Buahlil…”

Lagu yang diluncurkan akun TikTok @vokaliz_netizen pada akhir April 2026  dengan judul MBG ini dalam hitungan hari meraih jutaan penayangan dan puluhan ribu komentar.

Tapi apakah ini sekadar hiburan semata? Sebagai mahasiswa yang mengamati dinamika ruang publik digital, penulis tidak bisa melihatnya sesederhana itu.

Penulis meyakini bahwa lagu MBG ini bukan sekadar konten jenaka tanpa makna. Ia adalah bentuk kritik sosial yang dikemas rapi dalam bungkusan humor agar bisa beredar luas di tengah Masyarakat untuk mengeritik para kaum elite.

Inilah yang dalam kajian ilmu komunikasi disebut sebagai political satire: senjata rakyat paling tua yang paling ampuh sepanjang sejarah.

Lagu ini lahir bukan dari studio rekaman, melainkan dari komentar-komentar lucu warganet di kolom komentar video Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM sekaligus Ketua Umum Partai Golkar.

Ungkapan absurd seperti “Buahlil” dan “My Little Bolu Ketan” adalah distilasi dari kekesalan publik yang dikemas dalam bentuk plesetan. Ini bukan kebetulan kreatif ini adalah cermin dari bagaimana masyarakat kita merespons situasi yang terasa buntu, dengan tawa yang pahit.

Sepanjang sejarah Indonesia, kritik terhadap penguasa selalu mengambil jalan berliku. Pada Orde Baru, orang berbisik lewat pantun dan lawak panggung.

Hari ini, medium itu berevolusi menjadi konten TikTok — namun substansinya tetap sama: rakyat yang tidak punya podium resmi, menciptakan podium mereka sendiri.

Lagu MBG beredar bukan karena dibayar atau dipromosikan, melainkan karena ia menyentuh sesuatu yang sudah lama mendidih di benak jutaan orang.

Terbukti, seorang kreator konten yang menciptakan lagu ini meraih lebih dari 42 juta penayangan. Angka yang tidak mungkin dicapai tanpa resonansi emosional yang dalam dari masyarakat.

Kritik yang Tidak Disadari

Lagu ini merupakan  sebuah bentuk kritikan Masyarakat kepada pemerintah. Namun, kritikan tersebut tidak ditanggapi secara serius oleh pemerintah.

Satu hal menarik dan sedikit ironis adalah respons dari pihak Partai Golkar. Sekjen Golkar Muhammad Sarmuji justru menyambut lagu ini sebagai “kreativitas netizen” dan bentuk penghargaan atas kerja keras Bahlil.

Penulis membaca langkah ini sebagai strategi co-optation upaya elite untuk memeluk kritik agar kehilangan tajinya. Dengan merayakan lagu yang sebetulnya menyindir, mereka berusaha membalikkan narasi.

Namun rakyat di kolom komentar tampaknya tidak mudah dibodohi karena  banjir sarkasme di berbagai unggahan membuktikan bahwa pembacaan publik jauh lebih dalam dari sekadar pujian.

“Ketika rakyat tidak bisa berteriak keras, mereka memilih untuk tertawa. Dan tawa itu, dalam sejarah, selalu lebih berbahaya dari amarah.”

Selain itu, ada satu hal lagi yang tidak bisa dilepaskan dari fenomena ini, yaitu singkatan MBG itu sendiri.

Bagi banyak orang, MBG pertama-tama dikenal sebagai singkatan dari Makan Bergizi Gratis program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo yang digadang-gadang akan memperbaiki gizi anak-anak Indonesia.

Sebuah niat yang mulia, dan penulis mengakui itu. Namun realita di lapangan kerap berbicara lain. Berbagai video dan foto yang beredar di media sosial memperlihatkan menu makanan yang diterima para siswa nasi dengan lauk seadanya, porsi yang jauh dari cukup, bahkan ada yang hanya mendapat makanan yang tidak layak disebut bergizi.

Hal ini tentu menimbulkn pertanyaan:  Apakah ini Makan Bergizi Gratis, atau sekadar Makan Gratis tanpa gizi?

Perbedaannya bukan soal kata-kata. Gizi yang cukup adalah hak setiap anak. Stunting, kurang gizi, dan lemahnya daya tahan tubuh anak-anak Indonesia adalah masalah nyata yang butuh solusi nyata — bukan sekadar program yang terlihat bagus di atas kertas namun layu sebelum berkembang di lapangan.

Ketika anggaran besar telah dialokasikan namun yang sampai ke piring anak-anak hanyalah sepiring nasi dengan lauk yang tidak jelas nilai gizinya, maka pertanyaan publik itu sah dan harus dijawab.

Dari sudut pandang penulis sebagai mahasiswa di Kupang, NTT daerah yang angka stunting-nya masih menjadi perhatian serius  program ini sesungguhnya sangat dibutuhkan dan dinantikan.

Anak-anak NTT butuh asupan gizi yang nyata. Mereka butuh protein, sayuran, buah, dan karbohidrat yang seimbang bukan sekadar makanan yang mengisi perut lalu kosong dari manfaat.

Jika program MBG ini benar-benar ingin mengubah wajah gizi Indonesia, maka pengawasan yang ketat, transparansi anggaran, dan standar menu yang terukur bukan pilihan melainkan kewajiban.

Inilah yang membuat lagu MBG terasa begitu tajam menghujam. Ia menyentuh dua luka sekaligus: kebijakan energi yang dipertanyakan di satu sisi, dan program makan bergizi yang be lum bergizi di sisi lainnya.

Dua MBG, dua kekecewaan dalam satu lagu yang viral. “Jangan bangga program makan gratis sudah berjalan, jika yang gratis hanyalah makanannya  bukan gizinya.”

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menghakimi siapapun secara personal. Tulisan ini lahir karena keyakinan bahwa fenomena lagu MBG adalah momen yang perlu kita baca bersama-sama dengan serius.

Bagi para pengambil kebijakan: jangan hanya tersenyum melihat lagu ini, dengarkan apa yang ada di balik nadanya.

Bagi kita semua sebagai warga: jangan puas hanya dengan tertawa, gunakan momentum ini untuk terus mengawasi, mempertanyakan, dan menuntut kebijakan yang lebih baik termasuk memastikan bahwa anak-anak Indonesia benar-benar mendapatkan makanan yang bergizi, bukan sekadar makanan yang gratis.

Pada akhirnya, demokrasi yang sehat bukan hanya soal siapa yang menang pemilu tapi soal apakah suara rakyat benar-benar didengar, bahkan ketika suara itu datang dalam bentuk sebuah jingle lucu tentang Mas Bahlil yang ganteng.

Cornelian Ule
Previous ArticleKasus Dugaan Penggelapan Dokumen PH Tanah 10 Hektare di Kupang Berakhir Damai
Next Article ‘Gema Mabar’ Diluncurkan, Pemkab Manggarai Barat Fokus pada Ketahanan Pangan hingga Pariwisata Berkelanjutan

Related Posts

Jangan Suapi Kami Jawaban: Gugatan Pemuda atas Pendidikan Tanpa Dialog

24 Juni 2026

Spiritualitas Yohanes Pembaptis: Bertobat Tiap Kali Minum Air, Mandi, Masak, dan Buang Air

24 Juni 2026

Membongkar Mitos ‘Indonesia Barat Sibuk Demo, Indonesia Timur Sibuk Pesta Bola

23 Juni 2026
Terkini

Satlantas Polres Manggarai Patroli Malam, Antisipasi Balap Liar dan Kecelakaan Lalu Lintas

24 Juni 2026

Jangan Suapi Kami Jawaban: Gugatan Pemuda atas Pendidikan Tanpa Dialog

24 Juni 2026

Spiritualitas Yohanes Pembaptis: Bertobat Tiap Kali Minum Air, Mandi, Masak, dan Buang Air

24 Juni 2026

Membongkar Mitos ‘Indonesia Barat Sibuk Demo, Indonesia Timur Sibuk Pesta Bola

23 Juni 2026

Wakil Bupati Nagekeo Terjatuh dari Kuda Saat Penyambutan Peserta MTQ NTT

23 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.